Laman

Sabtu, 16 Juli 2011

Proposal PTK IPA CTL

LAPORAN PTK
PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING
 ( CTL ) UNTUK MENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI HUBUNGAN STRUKTUR BUNGA DAN FUNGSINYA PADA SISWA KELAS IV
SD WONOSARI 01 NGALIYAN SEMARANG


 








Disusun Guna Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah Pengembangan Pembelajaran IPA SD
Dosen Pengampu Dr, Sri Sulistiyorini, M.Pd

Disusun Oleh:
                                      Nama          : Galih Norsanti
                                      Nm             : 1401909023
                                      Rombel       : 03

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010

PROPOSAL / USULAN PTK
  1. JUDUL PTK
PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ( CTL ) UNTUK MENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI HUBUNGAN STRUKTUR BUNGA DAN FUNGSINYA PADA SISWA KELAS IV SD WONOSARI 01 NGALIYAN SEMARANG
  1. BIDANG KAJIAN
 Pendekatan Pembelajaran Contextual teaching and Learning ( CTL )
  1. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
Berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dalam Peratu-ran Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah bahwa standar kompetensi IPA merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan,pengetahuan,keterampilan untuk melakukan penelitian dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar kita.Standar kompetensi ini merupakan dasar yang fundamental bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal,regional,nasional dan global sehingga apa yang diharapkan dapat tercapai dan tersalurkan dengan baik sehingga tujuan dari pembelajaran ilmu pengetahuan alam dapat optimal.
Tujuan dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam adalah diharapkan hidup tmembantu peserta didik  mengenal dirinya sebagai makhluk hidup,mengenal lingkungan sekitarnya dan bagaimana makhluk hidup tersebut berkembangbiak.Dengan mengetahui pengetahuan alam serta melakukan pengamatan dan penelitian di dalam masyarakat sekitar dan menggunakan kemampuan analisis dan kenyataan.Adapun tujuan utama pembelajaran ilmu pengetahuan alam adalah pemahaman dalam arti melakukan pengamatan terhadap makhluk hidup dan makhluk tidak hidup yang ada di muka bumi ini.   
Berdasarkan permulaan, dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan pelaksanaan standar isi mata pelajaran IPA. Guru dalam menerapkan pembelajaran lebih menekankan pada metode ceramah, pembelajaran yang dilakukan pun kurang mengoptimalkan media pembelajaran. Sehingga siswa kurang begitu antusias dalam mengikuti pelajaran. Selain itu siswa juga kurang begitu memahami materi yang telah disampaikan oleh guru.
                        Masalah yang terjadi pada pelaksanaan pembelajran IPA tersebut diatas, merupakan gambaran yang terjadi di SD Wonosari 01. Berdasarkan permulaan awal antara guru dengan murid yang dilakukan saat tatap dan observasi pada minggu ke tiga bahwa pembelajaran IPA pada materi memahami struktur bunga dan fungsinya masih belum optimal, karena guru masih menggunakan metode ceramah, sehingga siswa kurang aktif, cepat merasa bosan dan dalam menggunakan media masih kurang.
                        Hal itu didukung data dari pencapaian hasil observasi dan evaluasi dari pembelajaran memahami struktur bunga dan fungsinya pada siswa kelas IV semester I tahun pelajaran 2010/2011 masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yang ditetapkan sekolah yaitu 70. Data hasil belajar ditunjukkan dengan nilai terendah 55 dan nilai tertinggi 65, dengan rerata kelas 60,8. Dengan melihat data hasil belajar dan pelaksanaan mata pelajaran tersebut perlu sekali proses pembelajaran untuk ditingkatkan kualitasnya, agar siswa SD tersebut dapat memahami struktur bunga dan fungsinya sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA.
                        Berdasarkan hasil penelitian guru kelas IV untuk memecahkan masalah pembelajaran tersebut, guru menetapokan alternatif tiondakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, yang dapat mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan meningkatkan kreativitas guru. Maka guru memilih salah satu model pembelajaran CTL   ( Contextual Teaching and Learning ) yaitu suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja ( US. Departement of Education the National School-to-Work Office yang dikutip oleh Blanchard, 2001 ).
                        Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA, dimana siswa lebih aktif dan tidak bosan dalam mengikuti pembelajaraan tersebut.
    1. Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
a.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirrumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan pembelajaran IPA pada siswa kelas IV SD Wonosari 01 Semarang?
Adapun rumusan masalah masalah tersebut dapat dirinci sebagai berikut :
1.      Apakah dengan menggunakan pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Wonosari 01 ?
2.      Apakah dengan menggunakan pendekatan  CTL dapat meningkatkan keterampilan guru dalam pembelajaran ?
3.      Apakah  dengan pendekatan  CTL dapat meningkatkan keterrampilan siswa dalam memahami struktur bunga dan fungsinya pada siswa kelas IV SD Wonosari 01 Semarang ? 
b.      Pemecahan Masalah
Langkah-langkah pendekatan CTL :
1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
    dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan
    mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik
3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4) Ciptakan masyaraka belajar (belajar dalam kelompok)
5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

    1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan umum penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas IV SD Wonosari 01 Semarang.
Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah :
1.      Mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa dalam proses  pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan CTL.
2.      Mendeskripsikan peningkatan keterampilan guru dalam pembelajaran menggunakan pendekatan CTL.
Meningkatkan keterampilan siswa dalam memahami struktur bunga dan fungsinya dalam pembelajaran IPA
    1. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan kontribusi pada pengembangan IPTEK dan khususnya selain itu dapat memberikan manfaat bagi :
a.      Bagi Siswa
Dengan penerapan model pembelajaran ctl dapat mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran IPA dapat tercapai.
b.      Bagi Guru
Memberikan wawasan pengetahuan dan pengalaman tentang model pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa.
c.       Bagi Sekolah
Dengan menerapkan model pembelajaran ctl, akan membantu sekolah tersebut dalam menyampaikan materi IPA yang mana IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting. Kemajuan IPTEK yang begitu pesat sangat mempengaruhi perkembangan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan IPA di Indonesia dan negara-negara maju.
  1. KAJIAN PUSTAKA
    1. Kajian Teori
a.      Belajar
Menurut Slavin dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.
Sedangkan menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.

Jadi yang dimaksud belajar adalah suatu proses atau aktivitas yang berlangsung dalam interaksi aktif denagn lingkungan melalui latihan atau pengalaman, yang  menghasilkan perubahan-perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan dab berbekas dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.

Ciri-ciri belajar adalah : (1) Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengethauan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor); (2) perubahan itu merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan . interaksi ini dapat berupa interaksi fisik dan psikis; (3) perubahan  perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen
b.      Pembelajaran
Menurut Gagne, Briggs, dan wagner dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.
Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkingan belajar.
Ciri utama dari pembelajaran adalah inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar siswa. Sedangkan komponen-komponen dalam pembelajaran adalah tujuan, materi, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran.
c.       Pengertian IPA
IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
          Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting. Kemajuan IPTEK yang begitu pesat sangat mempengaruhi perkembangan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan IPA di Indonesia dan negara-negara maju.
           Pendidikan IPA telah berkembang di Negara-negara maju dan telah terbukti dengan adanya penemuan-penemuan baru yang terkait dengan teknologi. Akan tetapi di Indonesia sendiri belum mampu mengembangkannya. Pendidikn IPA di Indonesia belum mencapai standar yang diinginkan, padahal untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sains penting dan menjadi tolak ukur kemajuan bangsa.
Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata plajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum, guru, fasilitas, peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru.
Oleh sebab itu untuk memperbaiki pendidikan IPA di SMP diperlukan pembenahan kurikulum dan pengajaran yang tepat dalam pendidikan IPA. Masalah ini juga yang mendasasri adanya kurikulum yang di sempurnakan (KYD) yang saat ini sedang di kembangkan di sekolah-sekolah, yaitu KTSP. 
              Dalam makalah ini penulis akan menyajikan tentang pengertian pendidikan IPA dan perkembangannya sehingga menyebabkan adanya perubahan kurikulum yang disempurnakan. Diharapkan setelah adanya penyempurnaan kurikulum maka pendidikan IPA dapat diajarkan sesuai dengan konsepnya serta dapat dikembangka dala dunia tekologi. Pendidikan IPA terpadu yang diterapkan di SMP dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang mampu IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting. Kemajuan IPTEK yang begitu pesat sangat mempengaruhi perkembangan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan IPA di Indonesia dan negara-negara maju.
              Pendidikan IPA telah berkembang di Negara-negara maju dan telah terbukti dengan adanya penemuan-penemuan baru yang terkait dengan teknologi. Akan tetapi di Indonesia sendiri belum mampu mengembangkannya. Pendidikn IPA di Indonesia belum mencapai standar yang diinginkan, padahal untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sains penting dan menjadi tolak ukur kemajuan bangsa.
Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata plajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum, guru, fasilitas, peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru.
Oleh sebab itu untuk memperbaiki pendidikan IPA di SMP diperlukan pembenahan kurikulum dan pengajaran yang tepat dalam pendidikan IPA. Masalah ini juga yang mendasasri adanya kurikulum yang di sempurnakan (KYD) yang saat ini sedang di kembangkan di sekolah-sekolah, yaitu KTSP. 

                  Dalam makalah ini penulis akan menyajikan tentang pengertian pendidikan IPA dan perkembangannya sehingga menyebabkan adanya perubahan kurikulum yang disempurnakan. Diharapkan setelah adanya penyempurnaan kurikulum maka pendidikan IPA dapat diajarkan sesuai dengan konsepnya serta dapat dikembangka dala dunia tekologi. Pendidikan IPA terpadu yang diterapkan di SMP dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang mampu berpikir logis, kreatif dan kritis dalam menanggapi isu teknologi di masyarakat.
berpikir logis, kreatif dan kritis dalam menanggapi isu teknologi di masyarakat.
                  IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
                 Dengan demikian, IPA memiliki peran yang sangat penting. Kemajuan IPTEK yang begitu pesat sangat mempengaruhi perkembangan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan IPA di Indonesia dan negara-negara maju.
Pendidikan IPA telah berkembang di Negara-negara maju dan telah terbukti dengan adanya penemuan-penemuan baru yang terkait dengan teknologi. Akan tetapi di Indonesia sendiri belum mampu mengembangkannya. Pendidikn IPA di Indonesia belum mencapai standar yang diinginkan, padahal untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sains penting dan menjadi tolak ukur kemajuan bangsa.
Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata plajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum, guru, fasilitas, peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru.
Oleh sebab itu untuk memperbaiki pendidikan IPA di SMP diperlukan pembenahan kurikulum dan pengajaran yang tepat dalam pendidikan IPA. Masalah ini juga yang mendasasri adanya kurikulum yang di sempurnakan (KYD) yang saat ini sedang di kembangkan di sekolah-sekolah, yaitu KTSP. 
                 Dalam makalah ini penulis akan menyajikan tentang pengertian pendidikan IPA dan perkembangannya sehingga menyebabkan adanya perubahan kurikulum yang disempurnakan. Diharapkan setelah adanya penyempurnaan kurikulum maka pendidikan IPA dapat diajarkan sesuai dengan konsepnya serta dapat dikembangka dala dunia tekologi. Pendidikan IPA terpadu yang diterapkan di SMP dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang mampu berpikir logis, kreatif dan kritis dalam menanggapi isu teknologi di masyarakat.
d.      Meningkatkan Pemahaman
 Kemampuan penerapan pembelajaran kontekstual mempunyai fungsi agar siswa lebih proaktif untuk merumuskan sendiri tentang fenomena yang berkaitan dengan fokus kajian secara kontekstual bukan tekstual. Pembelajaran kontekstual terjadi apabila siswa menerapakan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka.
e.       Struktur Bunga dan Fungsinya
 Bunga disebut bunga lengkap bila memiliki kelopak bunga, mahkota bunga, benang sari dan putik. Jika bunga tidak memiliki salah satu bagian bunga tersebut, maka disebut bunga tidak lengkap. Bunga yang memiliki semua bagian, tetapi tidak ada putiknya disebut bunga jantan, sedangkan bunga yang memiliki semua bagian, tetapi tidak ada benang sarinya disebut bunga betina. Bunga yang memiliki benang sari dan putik disebut bunga sempurna atau hermafrodit. Jika bunga memiliki putik saja atau benang sari saja, maka bunga tersebut disebut bunga tidak sempurna.
Fungsi Bunga yang utama adalah untuk perkembangbiakan tumbuhan. Alat perkembangbiakan pada bunga adalah benang sari dan putik yang terdapat didalam mahkota bunga. Mahkota bunga yang indah dapat menari perhatian serangga seperti lebah dan kupu-kupu. Serangga ini dapat membantu bunga melakukan penyerbukan. Penyerbukan adalah peristiwa jatuhnya benang sari ke kepala putik. Setelah penyerbukan, biasanya diikuti oleh proses pembuahan sehingga terbentuk buah dan biji.
f.       Model Pembelajaran CTL
 Contextual Teaching and Learning merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan tenaga kerja. Pembelajaran kontekstual bukan merupakan suatu konsep baru. Penerapan pembelajaran kontekstual  di kelas-kelas Amerika pertama-tama diusulkan oleh John Dewey. Pada Tahun 1916 Dewey mengusulakan suatu kurikulum dan metodologi pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman siswa.
Perkembangan pemahaman yang diperoleh selama mengadakan telaah pustaka menjadi semakin jelas bahwa CTL merupakn suatu perpaduan dari banyak ”praktek yang baik” dan beberapa pendekatan reformasi pendidikan yang dimaksudkan untuk memperkaya relevansi dan penggunaan fungsional pendidikan untuk semua siswa.
CTL menekankan pada berfikir tingkat lebih tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin, serta pengumpulan, penganalisaan dan pensintesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan. Di samping itu, telah diidentifikasi enam unsur kunci CTL yaitu Pembelajaran bermakna, Penerapan pengetahuan, Berfikir tingkat lebih tinggi, Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar, Responsif terhadap budaya, Penilaian Autentik.
Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas sebagai berikut :
1.)    Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bernakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.)    Laksanakn sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3.)    Kembangkan sifat ingiu tahu siswa dengan bertanya.
4.)    Ciptakan masyarakat belajar ( belajar dalam kelompok-kelompok)
5.)    Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6.)    Lakukan refleksi diakhir pertemuan.
7.)    Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
g.      Teori Belajar yang Mendasari Pembelajaran CTL
Salah satu landasan teoritik pendidikan modern termasuk CTL adalah teori pembelajaran konstruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Inquiry- based learning dan Problem – Based Learning yang disebut sebagai strategi CTL ( University of Washington, 2001 ) diwarnai student centered dan aktivitas siswa.
Ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky yang telah digunakan untuk menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pemebelajaran berbasis kegiatan, dan penemuan. Salah satu prinsip kunci yang diturunkandari teorinya adalah penekanan pada hakikat sosial dari pembelajaran. Ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Slavin, 2000).
Berdasarkan teori ini dikembangkanlah pembelajaran kooperatif, yaitu siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Hal ini sejalan dengan ide Blanchard (2001), bahwa strategi CTL mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama.
Teori Vygotsky yang lain mengatakan bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam daerah perkembangan terdekat atau Zone of proximal development siswa.
Landasan berfikir konstruktivisme menekankan pada srategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.   
h.      Penerapan Model
 Model yang digunakan dalam pembelajaran IPA terkait dengan struktur bunga dan fungsi bunga  adalah metode atau model pembelajarn dengan pendekatan CTL.
    1. Kajian Empiris
 Penelitain yang dilakukan oleh peneliti mengenai pemahaman struktur bunga dan fungsinya melalui pendekatan model CTL merupakan refleksi dari penelitian sebelumnya dengan metode yang sama yaitu dengan judul penelitian MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI CTL YANG DIORIENTASIKAN PADA TIPE STAD DIKELAS VIII SMPN 1 INDALAYA SELATAN oleh Latifawati. Dari hasil penelitiannya hasil belajar siswa melalui pendekatan CTL yang diorientasikan dengan tipe STAD dikelas VIII SMPN 1 Indralaya Selatan ada peningkatan dari siklus ke siklus, hal ini dilihat dari hasil belajar siswa dengan nilai rerata 46,18.



    1. Kerangka Berfikir
 Pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstern yang berperan terhadap rangkaian kejadian –kejadian intern yang langsung dialami siswa (Winkel,1991).
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menimbulkan minat dan keaktifan siswa dengan mengemukakan sesuatu yang baru. Keberhasilan pembelajaran tidak lepas dari peran guru sebagai pengajar dan pendidik.Sehingga guru dituntut untuk lebih banyak memilki referensi macam-macam model pembelajaran agar minat belajar siswa dapat meningkat. 
Dengan pendekatan pembelajaran kontekstual dapat membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual.
Jadi pembelajaran kontekstual dapat merangsang siswa untuk berfikir ke level yang lebih tinggi, mentransfer pengetahuan lintas disipin, serta pengumpulan, penganalisaan dan pensintesisan informasi  dan data dari berbagai sumber dan pandangan. Semua itu dapat terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan  dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan langsung dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, siswa dan tenaga kerja.
    1. Hipotesis Tindakan
Dengan menggunakan pendekatan CTL, dapat meningkatkan aktivitas siswa, keterampilan guru, dan penguasaan materi siswa SD Wonosari 01.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar