Laman

Tampilkan postingan dengan label cerpen momoy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen momoy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juli 2011

KUGANTUNGKAN DIRIKU BERSAMA CITA-CITAKU



Aku... siapa aku? Aku tak tahu siapa sebenarnya aku. Sepertinya aku adalah mayat hidup yang selama ini berjalan di muka bumi tanpa arah, tanpa tujuan. Sungguh, aku tak bisa menentukan hidupku sendiri. Sejak SMP, aku mulai tertarik dengan dunia kepenulisan. Aku ingin menjadi seorang penulis. Aku sangat suka fiksi. Itulah pertama kalinya aku benar-benar yakin akan sebuah cita-cita yang aku inginkan.
Ketika SD, guruku selalu berkata, ‘Beranilah bermimpi dan gantungkan mimpi-mimpimu setinggi langit agar ketika dewasa kau bisa menggapainya.’ Kata-kata itu menjadi sebuah semangat yang selama ini kugenggam dalam jiwaku. Dengan mantap kugantungkan mimpiku sebagai seorang penulis. Aku yakin, ketika aku dewasa aku bisa menjadi seorang penulis terkenal.
Aku terus menulis, menulis dan menulis apa saja yang terlintas dalam pikiranku untuk aku ceritakan. Aku begitu menyukai setiap momen ketika kugoreskan pena untuk melukiskan rangkaian kata-kata indah.
Tapi, semakin aku beranjak dewasa, ketika tanganku bertambah panjang dan tubuhku bertambah tinggi, aku justru semakin tak bisa menjangkau mimpiku sebagai seorang penulis yang telah kugantungkan di langit sejak 6 tahun lalu. Puncaknya ketika lulus SMA.
“Menjadi penulis itu bukan sebuah cita-cita. Ambillah jurusan akuntansi dan bantu ayah mengurus perusahaan.”
Begitu kata-kata ayahku ketika aku mengutarakan keinginanku untuk masuk Fakultas Bahasa dan Sastra. Ibuku hanya tersenyum setiap kali ada perbincangan tentang masa depanku dengan ayah. Senyum yang selalu meneduhkan dan membuatku tak berani untuk membantah.
Setiap kali ingin marah, kuingat kembali kebaikan kedua orang tuaku yang telah merawatku dengan baik selama 18 tahun. Terlebih kepada ibuku, yang rela mempertaruhkan nyawanya demi melahirkanku sehingga aku bisa melihat indahnya dunia. Aku tak mau mengecewakan mereka.
Ah! Ini memang tentang masa depanku. Aku sendiri yang akan menjalani kerasnya kehidupan ini. Tapi kedua orang tuaku tak memberi kepercayaan bahwa aku bisa sukses dengan menjadi seorang penulis. Aku yakin aku bisa melakukannya.
Pada akhirnya aku mengikuti keinginan orang tuaku. Telah kukubur impianku di dasar hatiku. Semua demi menyenangkan ayah dan ibu. Di dunia ini, tak ada yang lebih aku sayangi selain keduanya. Sekarang aku mempunyai sebuah mimpi lain, yaitu menyenangkan kedua orang tua.
Mimpi baru itu tak lantas mengubur mimpiku yang lama. Aku tetap ingin menjadi seorang penulis. Jujur, aku lebih suka menulis cerpen daripada mengikuti perkuliahan. Otakkku selalu panas ketika harus membaca segudang literatur tentang akuntansi. Hanya sebuah mimpi yang membuatku tetap bertahan di kampus hingga saat ini, yaitu mimpi untuk membahagiakan kedua orang tuaku.
“Aku rasa kamu belajar terlalu keras, Ra. Rileks sedikit.... ” ujar Indah, teman sekamarku di rumah kos.
“Biaya yang setiap bulan dikirimkan oleh ayahku itu untuk biaya aku belajar. Tidak gratis.” Jawabku enteng.
“Kepalamu sudah mendidih sampai keluar asap dan tanduk, Ra.” Candanya.
Aku hanya tersenyum.
Dari delapan anak di kos ini, hanya aku yang paling jarang keluar. Aku tak tahu, mengapa aku seperti ini. Sudah aku katakan, aku hidup seperti mayat hidup yang tak punya arah dan tujuan. Aku hanya ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Selamanya aku tak akan mampu membalas jasa mereka. Setidaknya dengan tetap bertahan di kampus ini, mereka akan bahagia. Meskipun aku semakin merasa tak mampu mengikuti perkuliahan yang tak aku sukai, sekuat tenaga aku akan bertahan.
Semester pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya prestasiku selalu baik. IP di atas 3.50. Kedua orang tuaku selalu memberikan sanjungan. Teman-temanku juga selalu memujiku, katanya aku hebat. Hebat? Ah, aku rasa tidak. Sudah 6 semester aku lalui, sedikitpun aku tak paham apa itu akuntansi. Aku tak mengerti apa-apa. Setiap kali ujian tiba aku hanya menyalin apa yang pernah aku baca di buku. Tapi sama sekali aku tak paham.
“Jamu apa yang kamu minum, Ra. Biar aku mencicipi. Aku juga ingin pintar sepertimu.” Kata Indah.
Dia memang sangat suka menggodaku. Aku hanya tersenyum. Ya, aku paling malas bicara. Tapi Indah sangat baik. Setiap kali aku jatuh sakit, dia yang merawatku. Hampir setiap bulan aku pasti sakit. Demam, flu, dan pening. Itulah menu sakitku. Katanya, aku terlalu banyak belajar. Ah! Mana ada belajar membuat sakit. Belajar itu membuat nilai kita bagus. Dan aku akan terus melakukannya.
“Indah... ada tamu!” Seru Tyas dari arah ruang tengah.
Aku bergegas keluar kamar dan menemui tamu yang telah menungguku di halaman depan.
“Sandi?” gumanku kaget.
Seorang teman yang bahkan tak pernah dekat denganku di kampus maupun di mana saja, tiba-tiba datang bertamu. Aku duduk di sebelahnya dengan sejuta rasa heran di benakku. Baru sekali ini ada teman laki-laki yang bertamu ke kosku. Amazing!
“Mungkin kamu merasa aneh dengan kedatanganku.”
“Ya, cukup aneh juga.”
“Aku... ingin lebih mengenalmu.”
“Apa!?”
Sungguh aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘ingin lebih mengenal’. Bukankah mengenal tak perlu harus bertemu?
“Rara. Aku menyukaimu.”
Dug! Rasanya aneh ada yang bisa menyukaiku. Sepertinya aku tidak pernah dekat dengan lain jenis di kampus. Termasuk dia.
“Bagaimana bisa...” lirihku.
“Sejak awal perkuliahan aku mulai memperhatikanmu. Mungkin karena terlalu sering memperhatikanmu, aku mulai menyukaimu. Aku ingin lebih mengenalmu.”
“Sebatas perkenalan sebagai teman, tentu saja aku tidak menolak. Tapi untuk lebih dari itu, sepertinya tidak. Maaf.” Tegasku.
“Ya. Segalanya berawal dari pertemanan. Tidak masalah bagiku. Salam kenal.”
Oh... aku benar-benar tak tertarik dengan hubungan seperti itu. Tidak ada waktu untuk itu. Tanggung jawabku sebagai seorang anak kurasa sudah cukup berat. Aku hanya perlu fokus agar dapat lulus. Aku hanya perlu melakukan satu hal ini saja. Aku harus melakukannya, meskipun aku tak suka.
***
“Ra, proposalmu sudah selesai?” tanya Indah disela-sela kepusinganku mengerjakan proposal penelitian.
“Masih aku kerjakan.” Jawabku.
Ini adalah masa-masa paling memusingkan seumur hidup. Rasanya aku sudah tak tahan dengan semua ini. Kepalaku terasa sangat panas dan ingin meledak. Sahabat-sahabat tempatku mencurahkan perasaan selalu memberi solusi agar aku bertahan.
“Semangat, Ra. Tinggal sedikit lagi kau akan mencapai garis finish.”
Tidak adakah solusi lain? Ini bukan bidangku. Aku tak menyukainya. Aku hanya suka dunia sastra. Aku tak menginginkan semua ini. Bisakah aku melepaskan diri?
Aku lelah. Aku lelah mengikuti kemauan orang lain. Ayah... Ibu... mengertilah, bukan ini yang aku mau. Aku ingin menjadi apa yang aku inginkan. Menjadi penulis. Ahh... impian itu sudah lama terkubur. Aku tak lagi menulis selain tugas-tugas kuliah. Aku jenuh dan ingin semuanya segera berakhir.
“Kajian teorinya kurang relevan dengan judul yang Saudara angkat. Banyak sekali bahasa-bahasa tidak baku dan kalimat-kalimat yang tidak efisien. Silakan Saudara pelajari kembali pedoman penulisan proposal skripsi dan EYD. Nah, variabel penelitian dan indikator keberhasilan harus konsisten. Silakan revisi bagian-bagian yang saya tandai. Minggu depan kita diskusikan lagi.”
Huft! Satu lagi sumber sakit kepala. Aku bisa sakit bukan karena penyakit. Tapi karena stres. Sudah tiga kali aku revisi proposal ini, tapi tetap saja masih ada kesalahan. Aku butuh istirahat.
Aku... ingin istirahat panjang. Aku sangat lelah. Inilah saatnya aku menghentikan semua ini. Inilah saatnya aku mengikuti apa yang aku inginkan. Selama kaki masih menapak di bumi, selama itu pula penderitaan akan terus mengikuti. Ayah... Ibu... maafkan aku. Aku ingin mati bersama segelas madu bercampur racun ini. Aku ingin merasakan sedikit rasa manis menjelang kematianku yang haram ini. Tak ada kebanggaan yang bisa aku tinggalkan untuk kalian. Hanya sepucuk surat yang mampu kutuliskan dengan kucuran darahku.

Tidak ada yang lebih aku cintai di dunia ini melebihi cintaku pada kalian, ayah dan ibu. Aku ingin membanggakan kalian, selalu menjadi kebanggaan kalian.

SALAHKAH DIA PUNYA CINTA?

“Ini tidak adil… kenapa hanya padaku? Ya Allah....”
Kulihat air mata meleleh di pipi Asna, gadis berkerudung biru berperawakan kurus kecil yang kini berada tepat di hadapanku. Pundaknya tampak ikut berguncang menahan isak tangis yang mungkin bisa meledak andai dia seorang diri berada di tengah hutan belantara. Sesekali ia menggigit bibirnya sendiri, mensiratkan bahwa ada sebuah ganjalan berat di hatinya.
Meskipun aku tidak begitu dekat dengannya, namun aku bisa mengerti apa yang saat ini tengah ia rasakan. Kudekap lembut ukhti kecilku itu, dan kurasakan isak tangisnya yang semakin tak tertahan.
”Ness... hatiku sakit sekali.” katanya sambil terisak-isak.
Asna membalas dekapanku begitu erat, hingga aku susah bernapas. Aku pahan, dia butuh tempat bersandar ketika dia kini merasa seorang diri.
”Hapus air matamu, As. Aku yakin, Kak Alif tidak pernah bermaksud menyinggung perasaanmu. Apa yang dia sampaikan merupakan sebuah nasehat untuk kita semua. Bukan sesuatu yang bertujuan untuk memojokkanmu.” kataku, berusaha meyakinkan.
”Tapi dia mengatakannya dalam forum. Andai dia ingin menasehatiku, apa tidak bisa melakukannya secara personal?”
Aku mengajak Asna singgah ke ruang UKS. Keadaan sekolah sudah tampak mulai lengang. Kebanyakan siswa, guru, dan para staf sekolah sudah pulang. Namun masih ada beberapa anak OSIS dan klub basket yang terlihat mondar-mandir dengan kesibukannya masing-masing. Sementara anak-anak Rohis langsung berhamburan pulang usai rapat yang sedikit tidak mengenakan tadi. Asna belum mau pulang. Aku pun mengikutinya bertahan.
Sebenarnya semua berjalan seperti biasa. Akan tetapi, rapat yang diadakan untuk membahas kegiatan baksi sosial itu tiba-tiba menjadi kaku ketika kak Alif-Ketua Rohis-menyampaikan suatu nasehat yang bersinggungan dengan masalah pribadi Asna.
“Sebagai anggota Rohis, sudah seharusnya kita sadar bahwa jalan yang telah kita pilih ini adalah sesuatu yang membutuhkan komitmen dan pengorbanan. Dalam ikatan Ukhuwah Islamiyah yang kita bangun bersama melalui lembaga da’wah ini, masih ingatkah kita akan tujuan kita bersama dalam forum ini? Bukankah untuk menumbuhkan suatu pergaulan sehat di SMA kita tercinta ini? Masih maukah kita menjalankan komitmen ini? Sadarkah bahwa kita adalah panutan bagi yang lain, dimana sifat dan perilaku kita sebagai aktivis da’wah selalu menjadi perhatian? Meskipun sebagai manusia kita memiliki kelemahan, tak pernah luput dari kesalahan, marilah kita senantiasa berusaha untuk senantiasa menjadi insan yang lebih baik dari hari ke hari. Ingatlah bahwa kita adalah panutan. Kalau aktivis Rohis sendiri berpacaran, apakah misi da’wah kita akan berubah haluan untuk melestarikan budaya tersebut di kalangan remaja muslim?”
Begitulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kak Alif sebelum menutup forum. Kata-kata yang sangat menyinggung perasaan Asna. Sudah bukan rahasia lagi, di kalangan aktivis Rohis, Asna baru-baru ini menjalin kedekatan yang intensif dengan Iqbal, wakil ketua Rohis periode ini.
Sebenarnya bukan sekali ini rekan aktivis ada yang terjangkit Virus Merah Jambu (VMJ). Dalam setiap masa, ada saja aktivis Rohis yang melanggar komitmennya sendiri. Namun baru kali ini kasusnya menjadi sangat fenomenal hingga merambah dalam forum.
Asna aktif dalam Rohis di bidang syi’ar An-Nisa’. Sementara Iqbal marupakan wakil ketua Rohis. Keduanya memiliki kedudukan penting dalam organisasi. Tak heran jika Kak Alif menaruh perhatian yang lebih terhadap perkembangan hubungan mereka yang kedepannya bukan hanya akan berimbas pada kehidupan pribadi, tetapi juga terhadap organisasi dan syi’ar mereka terhadap siswa-siswa lainnya. Pada setiap kesempatan mereka gencar melakukan penyadaran, tapi mereka sendiri tak beristiqomah terhadap apa yang telah mereka sampaikan.
Aku tak memihak siapapun. Harapanku, dalam masalah ini, tak perlu saling mencari-cari kesalahan. Alangkah indahnya jika masing-masing pihak melakukan introspeksi diri. Asna dan Iqbal seharusnya memahami, bagaimana kedudukan mereka saat ini. Kedekatan mereka yang menjurus kepada pacaran merupakan suatu hal yang tidak dapat dibenarkan. Sedangkan Kak Alif, sebagai ketua Rohis seharusnya dapat lebih bijak dalam menyikapi masalah ini. Tidak seharusnya dia membahas hal yang bersifat personal dalam forum, meskipun tujuannya baik, agar semua ingat terhadap komitmen.
”As... sudah sore. Pulanglah.”
Aku terkejut, tiba-tiba Iqbal melongokkan kepalanya di pintu. Asna tetap diam tak merespon. Pandangannya kosong. Suasana menjadi kaku.
“Ness, tolong ajak Asna pulang, ya. Hati-hati di jalan.” pintanya lembut. Ah, dia memang selalu bertutur lembut.
Aku hanya membalas dengan anggukkan. Iqbal langsung pergi setelah menyampaikan permintaannya. Tapi aku yakin, dia tidak akan pulang sebelum memastikan kami berdua pulang.
“Ayo pulang, As.” Bujukku.
“Salahkah aku punya cinta?”
Satu pertanyaan itu membuatku tertegun. Aku tak kuasa menjawabnya. Cinta... satu kata yang menyimpan berjuta rasa dan makna.
”Kita pulang saja, ya.” bujukku lagi.
”Apa aku tak berhak jatuh cinta? Kenapa Kak Alif bersikap seperti ini padaku? Kenapa hanya padaku? Ya Allah... dia sadah tidak mau lagi menyapaku.”
”Mungkin seperti itulah bentuk kepeduliannya padamu dan Iqbal, As.”
Asna terus menangis. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu hingga perasaannya sedikit membaik.
***
Suasana di ruang Rohis terasa dingin. Bukan karena ada AC yang baru di pasang, tapi karena ada konflik yang disebabkan virus VMJ. Asna kini lebih memilih diam dalam forum An-Nisa’. Bahkan dia semakin jarang menghadiri forum dengan alasan banyak kesibukan di luar sekolah dan organisasi. Tak ada lagi sumbangan pemikiran yang biasanya selalu ia sampaikan dengan penuh semangat. Selama ini, dialah yang paling kritis dan buah pemikirannya selalu menarik.
Aku berharap Asna bisa segera mengambil sebuah langkah bijak. Bisakah dia melepaskan hasrat pribadinya menjadi Asna yang dulu? Sebegitu dasyatkah pengaruh virus VMJ hingga ia tak kuasa lagi mempertahankan prinsipnya?
Lagi-lagi Asna tidak menghadiri forum An-Nisa’. Usai jam pelajaran terakhir, dia memintaku untuk menyampaikan izinnya kepada Aisya, ketua forum An-Nisa’, karena siang ini dia harus mengantar ibunya ke rumah tantenya. Namun seringnya ia tidak hadir dalam forum, membuat rekan-rekan merasa ada yang tidak beres dengan perubahan sikap Asna. Aku merasa tidak nyaman setiap kali mendengar ada omongan yang tidak enak tentang asna. Adakah yang salah dengan orang yang sedang jatuh cinta?
“Ais, boleh aku berpendapat sebentar?” kata Iqbal yang tiba-tiba hadir dalam forum kami.
“Silakan.” Kata Aisya.
“Untuk seluruh akhwat An-Nisa’, terutama ukhti Aisya. Sebagai ketua forum An-Nisa’, seharusnya anti bisa mengajak rekan-rekan yang lain untuk santun dalam bergaul. Ana rasa selama ini anti seperti ingin mengarahkan An-Nisa’ menjadi sebuah geng yang sok esklusif dan sengaja membuat gap dengan orang lain. Geng yang merasa lebih baik dari yang lain, yang merasa paling esklusif! Forum An-Nisa’ dan Rohis dibentuk bukan untuk ajang pamer dan bergaya, Ukh! Tapi untuk mempererat ukhuwah islamiyah. Jadi ana mohon, akhwat fillah sekalian bisa merubah sikap. Itu saja.”
Untaian kata-kata yang Iqbal lontarkan sungguh sangat menyakiti perasaanku. Mungkin juga perasaan rekan-rekan yang lain. Aku tak percaya Iqbal mampu berkata kasar. Selama ini, dia selalu lembut dalam bertutur. Marah pun dia tak pernah meledakkan emosinya di depan umum.
Aisya menitihkan air mata. Tangisnya tak bersuara. Batinnya pasti menangis. Sebagai ketua forum An-Nisa’, dia merasa punya tanggung jawab besar terhadap anggotanya. Apalagi kritikan Iqbal langsung mengarah pada dirinya.
Aku tidak mengerti, apa yang dimaksud membuat gap dan esklusifisme itu? Bukankah selama ini kami bergaul secara wajar dengan teman-teman yang lain? Di luar Rohis kami berbaur dengan siapa saja. Kami tak pernah menutup diri dan menganggap bahwa aktivis-aktivis Rohis lebih baik dari yang lain. Apalagi Aisya, dia selalu bersikap ramah terhadap siapapun. Mungkin salah satu orang yang tak pantas memiliki musuh di SMA ini adalah Aisya. Dia sangat baik.
”Sudahlah, Ais. Tak perlu diambil hati.” Ujar Tifani.
“Astaghfirullah… apa dia tidak bisa berkaca diri atas apa yang dia lakukan saat ini? Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang samudra tampak.”
”Mungkin dia ingin semua akhwat An-Nisa’ menjadi seperti Asna.”
”Sudah, sudah... jangan ghibah di sini. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Kita ambil saja sisi positifnya dari nasehat Iqbal. Mungkin selama ini banyak teman-teman yang menganggap kita terlalu menutup diri dan tidak mau bergaul dengan mereka. Sekarang, ayo kita lanjutkan agenda kita hari ini.” tutur Aisya bijak.
Hari-hari terus berlanjut dalam kekakuan yang senantiasa tidak membuat nyaman. Sejak kejadian itu, rekan-rekan akhwat terlihat semakin menjauhi Asna. Tapi Aisya masih tetap bersikap biasa terhadap Asna dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja dan tidak akan mengubah pertemanan mereka. Aku masih berharap Asna bisa kembali seperti dulu. Namun apa yang terjadi kemudian, tak seperti apa yang aku harapkan. Asna memilih untuk mengundurkan diri dari Rohis.
Pada rapat mingguan, Asna resmi mengundurkan diri dalam forum dengan alasan banyak kesibukan yang membuatnya tak bisa tetap aktif dalam Rohis. Sejak itu, dia tidak pernah lagi berkumpul bersama kami di ruang Rohis. Untuk berteman biasa di luar Rohis saja, sepertinya dia sudah tak mau dekat denganku maupun yang lain. Dia telah memilih teman-teman baru yang membuatnya merasa nyaman.
Ya Allah... begitu besarkah imbas yang harus terjadi hanya karena sebuah cinta? Hubungan aku dan Asna merenggang. Asna telah banyak berubah dalam waktu yang cukup singkat. Hal yang paling mencolok terlihat dari penampilannya. Dandanannya kini tak lagi sekedar memakai celak, tapi ditambah polesan bedak dan sesekli bibirnya dipoles warna merah. Pakaiannya semakin menegcil, menyesuaikan ukuran tubuhnya yang memang mungil. Kerudungnya kelihatan lebih ringan, tak selebar dulu. Lebih modis.
”Asna, kamu sudah sangat berubah.” kataku di suatu siang di sudut perpustakaan.
”Selama masih ada nafas kehidupan, bersiaplah menghadapi perubahan. Maafkan aku, Ness, jika kamu kurang menyukai aku yang sekarang.” jawabnya seraya berlalu pergi.
Asna... salahkah dia punya cinta?
***

Selasa, 12 Juli 2011

TENTANG SEBUAH NAMA



Namaku Anesa Az-Zahra. Setiap orang yang baru pertama kali mendengar namaku, serta melihat penampilanku, pastilah akan berpikir bahwa aku adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga dengan didikan yang sarat dengan nuansa keislaman. Bahkan, di SMA yang baru aku tempati selama 1 bulan ini, banyak yang mengira kalau aku salah satu akhwat rohis. Banyak yang mengira aku lulusan pondok. Terkadang sampai ada yang menanyakan soal agama terhadapku. Mungkin dari penampilanku terlihat seperti orang yang paham tentang masalah agama. Padahal aku tak sesempurna yang mereka pikirkan. Tidak seperti itu.
Aku berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin. Untuk membayar biaya kelahiranku saja, orang tuaku tidak mampu. Untunglah ada seorang dermawan yang berbaik hati membiayai peroses kelahiranku. Dermawan itulah yang kemudian memberiku nama indah ini: Anesa Az-Zahra. Aku tidak pernah tahu, seperti apa wajah si dermawan itu. Semoga Allah membalas kebaikannya dengan kebaikkan yang lebih baik. Amin.
Sejak kecil aku hidup di pemukiman kumuh yang tak terlalu peduli terhadap urusan agama. Dalam keluargaku, shalat bukanlah hal yang diutamakan. Hal pertama yang perlu diurusi adalah persoalan makan. Shalat seperlunya, kalau merasa mau dan butuh. Bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an hampir tak pernah terdengar sebagai penyejuk rumah. Puasa? Kami puasa kalau tidak ada makanan. Makna puasa bagi kami adalah tidak makan.
Kemudian mungkin orang akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin aku bisa berubah drastis? Dari seorang gadis yang setiap harinya sangat suka bersolek dan berpenampilan modis dengan rok mini kesukaannya, menjadi seorang gadis anggun yang senantiasa sejuk dipandang mata dengan kerudungnya. Aku tak bisa menjawabnya dengan pasti. Siapakah yang bisa menolak hadirnya hidayah Allah SWT dalam hati manusia pilihannya?
Setahun yang lalu, keluargaku mengalami perbaikan nasib yang cukup signifikan. Ayah mendapatkan warisan berupa tempat pemancingan dan perkebunan karet. Dengan warisan itu, ayah bisa membawa keluargaku hijrah dari pemukiman kumuh ke komplek perumahan yang cukup mewah. Namun gaya hidup yang dulu masih tetap melekat. Tak ada peningkatan dalam aktivitas peribadatan sebagai rasa syukur atas apa yang telah kami peroleh. Aku bahkan semakin suka bersolek.
Entah apa yang terjadi padaku, lambat laun aku merasa jenuh dengan kehidupan yang aku alami. Aku tidak pernah merasa bahagia meskipun segala kebutuhan kini dapat tercukupi dengan mudah. Bahkan aku merasa lebih senang dengan segala kekurangan dan rasa perih menahan lapar ketika aku hidup di pemukiman kumuh. Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku yang sekarang.
Aku terus berpikir tentang hal itu. Hingga suatu ketika, aku menemukan jawabannya. Jawaban yang aku peroleh lewat seorang wanita anggun berbalut kerudung dan gamis warna ungu yang aku temui di bus ketika aku hendak pergi ke taman kota. Tak ada tegur sapa di antara kami. Namun, kesejukkan parasnya begitu mempesona, teduh dan mampu menentramkan hatiku. Seketika itu aku menjadi rindu terhadap Tuhan-ku.
Aku mulai melaksanakan shalat. Memulai kembali membuka lembaran-lembaran Al Qur’an usang yang tak pernah terbaca. Segalanya terasa sulit karena aku tak terbiasa melakukannya. Juga karena tak ada dukungan dari keluarga. Mereka membiarkanku sendiri melakukan semua ini. Kadang aku tak kuasa menitihkan air mata meratapi hidupku. Andaikan aku bisa memilih, dari rahim siapa aku akan terlahir, mungkin segalanya tak akan seberat sekarang. Aku membutuhkan orang yang mampu menguatkanku. Dan aku rasa, bukan keluargaku. Ini bukan berarti aku tidak menyayangi ayah ibuku. Sungguh, aku sangat menyayangi mereka. Bahkan aku berharap, kami dapat memulai segala kebaikan ini bersama-sama.
Akhirnya aku mencari sebentuk kesejukkan yang tak pernah aku dapatkan di dalam rumah. Di sekolah, aku semakin dekat dengan Syifa, salah seorang akhwat rohis di SMA lamaku. Berkat dirinya, aku semakin banyak mengerti tentang Islam. Kepadanya, kucurahkan segala keluh kesah yang sekian lama membebani pikiranku. Tutur katanya begitu santun hingga mampu merasuk ke dalam hatiku.
Dia tak pernah mengungkit kesalahan-kesalahanku yang dulu. Dukungannya senantiasa menguatkanku untuk terus memperbaiki diri. Dia tak pernah memaksaku sekiranya aku belum bisa melakukan apa yang dia sarankan. Berangsur-angsur aku mulai berubah.
Dua bulan yang lalu, aku memutuskan untuk memakai kerudung. Keluargaku sangat terkejut melihat perubahanku yang sangat drastis.
”Sejak kapan kamu ikut aliran sesat? Siapa yang mengajakmu untuk ikut-ikutan sesat?” itulah pertanyaan yang terlontar dari ayah ketika pertama kali melihatku memakai kerudung.
Astaghfirullah, ayah. Zahra tidak ikut-ikutan organisasi teroris atau agama-agama sesat. Bukankah memakai kerudung adalah kewajiban setiap wanita muslimah?”
”Tapi tidak perlu besar-besar kerudungnya. Tidak enak, jadi omongan tetangga.”
“Aneh. Kenapa orang-orang justru mempermasalahkan penampilan yang sesuai dengan tuntunan syari’at? Sedangkan orang-orang yang penampilannya suka buka-bukaan, dibiarkan. Seharusnya tetangga lebih memperhatikan orang-orang yang tidak mau shalat dan tidak mau menjalankan perintah agama. Orang-orang seperti itulah yang sebenarnya sedang dalam kesesatan yang nyata.”
“Plak!!!”
Ayah menamparku. Itulah tamparan pertama yang aku rasakan seumur hidup. Aku mendapatkan tamparan karena berpendapat. Pipiku tak terasa sakit. Justru hatiku yang terasa remuk redam. Apakah aku salah? Padahal aku telah bertutur dengan nada yang halus. Haruskah aku diam?
Sejak saat itu, aku mulai tidak bebas pergi-pergi. Ayah melarangku berteman dengan Syifa. Satu bulan kemudian, ayah mengirimku ke luar kota. Aku di suruh sekolah di luar kota dengan alasan agar aku lebih konsentrasi belajar. Aku tahu, alasan sebenarnya bukan itu. Mungkin mereka sudah bosan setiap saat mendapat ajakan untuk shalat, shalat, dan shalat. Mungkin juga karena tidak tahan mendengar omongan tetangga tentangku. Mereka mengira aku terlibat aliran sesat.
Saat ini, di kota asing inilah aku tinggal dalam keterasingan. Segalanya terasa baru untukku. Tapi ini lebih baik bagiku. Tak ada yang tahu masa laluku. Tak ada pula yang mempergunjingkanku. Tak perlu waktu lama untuk membuatku merasa nyaman bergaul dengan teman-teman baru. Aku merasa tenteram berada di antara para akhwat rohis yang begitu ramah menerima kehadiranku. Aku senang bersama mereka.
Akan tetapi, belakangan ini muncul satu pertanyaan dalam benakku. Akankah mereka tetap menerimaku, seandainya mereka tahu, siapa sebenarnya aku? Masihkah mereka mau berteman denganku, ketika mereka tahu, seperti apa latar belakang keluargaku?  Mungkin aku akan sangat malu ketika saat itu tiba. Aku malu bukan karena diriku. Aku akan malu seandainya mereka memperolok kedua orang tuaku. Memperolok keluargaku. Bagaimanapun juga, sebagai anak aku berkewajiban untuk berbakti dan menjaga nama baik kedua orang tuaku.
Apa yang paling membuatku cemas bukanlah rasa malu di dunia. Aku mencemaskan, akankah bisa aku dan keluargaku berkumpul kembali di surga? Apa yang bisa aku lakukan untuk mewujudkan mimpi itu?


KASIH SAYANG TANPA VALENTINE

14 Februari
Hari apa ini? Senin. Seperti ada sebuah peringatan besar. Hari penting apa dan untuk siapa? Baru saja aku melangkahkan kaki ke dalam kelas, wajah-wajah ceria itu menyambut seakan mengejekku. Sepertinya semua orang sedang bahagia dan berbunga-bunga. Terkecuali aku. Mungkin.
Sepagi ini papan tulis sudah penuh oleh coretan. Happy Valentine...? Siapa yang Happy? Aku tidak happy. Berarti hari seperti ini tidak cocok untukku. Ah! Untuk apa aku peduli. Toh hanya sehari.
Waduh! Duduk di sebelah orang yang hari ini tiba-tiba gila agak membuatku takut. Takut dicekik aku. Istik senyum-senyum sendiri sambil menciumi buket bunga mawar merah yang indah. Benar-benar aneh. Mending kalau bunga bank. Aku juga mau.
Aku merasa seisi kelas ini semuanya gila terkecuali aku. Atau... malah aku sendiri yang gila? Aku benar-benar tidak menyukai hari seperti ini. Meskipun hanya sehari. Aku berharap hari ini tak pernah ada.
Andai orang yang menciptakan peringatan seperti ini masih hidup, aku mau protes. Siapa bilang valentine sama dengan hari kasih sayang? Buktinya aku selalu merasa benci dengan tanggal 14 Februari. Kasih sayang apa yang dimaksud, kalau di luar sana masih banyak orang-orang yang tidur di emperan toko dalam kedinginan dan kelaparan. Apa ada makna kasih sayang di hari ini bagi mereka?
Kenyataan memang terkadang pahit didengar. 14 Februari mungkin hanyalah hari untuk orang-orang yang punya pacar, yang punya pasangan. Bagi orang yang masih kukuh memegang status quo untuk tidak berpacaran, seperti aku, valentine mungkin menjadi hari yang paling menyedihkan. Bukan lantaran aku iri karena tidak punya pacar atau karena tidak mendapat kiriman bunga dan coklat. Aku tidak mengharapkan itu semua. Valentine selalu merampas kebahagiaanku, merampas teman-temanku, dan membuat aku merasa kesepian. Tak ada yang namanya kasih sayang yang sering diucapkan orang. Aku selalu dicampakan, sendiri, dan sangat memprihatinkan.
”Aouw!” teriakku.
Seseorang telah menarik kuciran rambutku. Membuat sejuta umpatanku terhadap valentine seketika lenyap. Istik langsung terusir dari bangkunya setelah melihat kedatangan Arman, Reza, Bayu, dan Dawam. Mereka teman-temanku di klub basket. Arman salah satu teman yang paling iseng. Hobinya menarik-narik rambut orang. Mungkin rambutku dikira ekor kuda. Hah!
”Cewek macan ini sendirian aja.” ujar Arman seraya kembali menarik rambutku. Aku langsung memelototinya.
”Aku kira hari ini akan membuat kalian amnesia kepadaku.”sindirku.
Aku sudah paham. Setiap tanggal ini mucul, mereka pasti akan menghilang dan bersenang-senang dengan pasangan. Aku pasti dicampakan.
“Macan ini memang sangat pengertian. Sudah tertebak kalau hari ini kami ingin libur latihan.”
”Apa!?” teriakku.
Suaraku membuat seisi kelas kaget. Kupelototi orang-orang sok manis yang sedari tadi cengar-cengir sok kegantengan. Membuat aku semakin marah.
“Santai, Nona.” Bujuk Bayu.
“Benar-benar gila! Minggu kemarin tidak jadi, kemarin tidak jadi. Hari ini mau dibatalkan lagi!?” seruku sekeras mungkin. Membuat orang-orang di dalam kelas bergegas keluar.
”Waouw... sepertinya ada ledakan bom.” ejek Dawam.
“Tolong dimaklumi, Nay. Kamu tahu, kan, ini hari apa?” rayu Reza sok memelas.
”Ini hari Senin, Stupid! Jadwalnya upacara bendera!”
Aku langsung berlari pergi sebelum mereka melancarkan jurus rayuan yang memuakkan. Tak peduli nanti mereka akan datang latihan atau tidak, aku sudah berhasil membuat mereka merasa tidak enak hati.
Suasana hatiku masih kacau gara-gara ada hari seperti ini. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang UKS. Petugas UKS sempat menanyakan alasanku datang. Aku bilang saja pusing.
Ketika istirahat pertama aku hanya duduk-duduk sendiri di taman. Malas ke lapangan basket dan bertemu dengan orang-orang menyebalkan. Hari ini semua yang kumiliki rasanya hilang dalam sekejap mata.
”Naya....” seperti ada sekelompok tim paduan suara yang kompak memanggil namaku.
Kutegakkan kepala. Ada empat cowok sok manis tersenyum kepadaku. Ada motif dibalik senyuman mereka.
”We love you, Nay.” seru mereka serempak seraya menyodorkan batangan coklat.
Ya ampun… kalau ada maunya, mereka bisa segila ini. Seperti biasa. Apa mereka belum juga mengerti, tournament sudah sangat dekat. Kalau tidak pernah latihan, bagaimana bisa menang? Ya sudahlah... lagi-lagi aku yang mengalah.
Sebenarnya apa yang salah dengan diriku? Setiap valentine, pasti seperti ini. Sepi... sunyi... sendiri... dan ditinggal pergi. Aku memang bukan anak-anak Rohis yang segitu anti dengan pacaran, apalagi valentinan. Tapi, aku memang benar-benar tidak menyukai keduanya. Pacaran? No way! Bikin runyam kehidupan aja. Seperti Wina yang jadi cengeng gara-gara cinta. Putus nyambung terus kayak kabel.
Aku benci pacaran. Aku benci valentine. Aku benci acara malam mingguan dua-duaan. Memang di dunia ini hanya ada dua orang yang lagi kasmaran? So… cewek kayak aku dikira ngontrak? Capek deh... gara-gara ada yang namanya pacaran, valentinan, dan malam mingguan... aku jadi korban!
”Nay, ikut tour OSIS keliling kota, yuk.”
Aku heran. Johan tiba-tiba datang langsung promosi. Tidak tahu apa, kondisi pikiranku sedang tidak baik.
“Mau, nggak? Sekaligus ikut bakti sosial ke panti asuhan.” bujuknya lagi.
”Ingat Nay, kasih sayang untuk semua orang. Bukan untuk sekelompok orang.”
Kata-kata Johan langsung menyadarkanku bahwa ada hal lain yang lebih penting dilakukan daripada menggerutu terus terhadap valentine. Mengapa kita terus berharap bisa mengubah dunia, kalau mengubah paradigma diri sendiri saja merasa enggan. Baiklah! Valentine mungkin selamanya akan tetap ada yang mengagung-agungkannya. Tapi aku... tak perlu valentine untuk berkasih sayang. Tak perlu mengharapkan kasih sayang orang. Tapi berusahalah untuk memberikan kasih sayang terhadap orang lain.
”Aku ikut!” jawabku mantap.
”Sip! Agendanya Bulan Maret depan. Sedangkan dua minggu ini kita akan adakan acara bazar amal untuk penggalangan dana. Mungkin akan menyita waktumu untuk main basket. Semoga tidak berubah pikiran.”
Johan langsung pergi setelah mengatakan kata-kata terakhirnya. Hadah! Agak berat juga kalau harus mengorbankan basket. Hmmm... kalau teman-temanku saja bisa mengorbankan basket hanya untuk valentine, kenapa aku tidak bisa melakukannya demi sesuatu yang lebih spesial? Semangat!