Laman

Rabu, 18 Januari 2012

Proposal PTK Bahasa Indonesia SD - NHT


PROPOSAL PTK

A.      Judul
Peningkatan Kemampuan Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan secara Lisan pada Siswa Kelas IV SD melalui Pendekatan NHT dan Metode Bermain Peran

B.       Bidang kajian
Desain dan strategi pembelajaran Bahasa Indonesia SD

C.      Pendahuluan
1.         Latar Belakang
Undang-Undang NO. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat (1) menjelaskan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan bagi peranannya di masa datang”. Unesco (1979) mendefinisikan pendidikan adalah komunikasi terorganisasi dan berkelanjutan yang dirancang bangun untuk menumbuhkan belajar. Sejalan dengan itu Smith(1982) mengemukakan bahwa pendidikan adalah kegiatan sistemik untuk menumbuhkembangkan belajar.
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa Degeng (1989). Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi. Gilstrap dan Martin (1975) juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pebelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Perlunya siswa menguasai penggunaan berbagai fungsi bahasa itu, ditegaskan kembali dalam Rambu-rambu Pengajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (Depdiknas, 2000). Pada rambu-rambu itu diisyaratkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di SD diarahkan pada pembentukan kemampuan menggunakan berbagai fungsi bahasa dan penguasaan bentuk-bentuk bahasa sesuai dengan fungsi-fungsinya itu. Dengan menguasai penggunaan berbagai fungsi bahasa dan bentuk-bentuk bahasa itu, siswa diharapkan mampu berkomunikasi atau menjadi pemakai bahasa yang tangguh, sebagai apa pun perannya (pembicara atau pendengar), dan dengan apa pun penggunaan bahasa itu diorientasikan (konteks, amanat, kontak, atau kode).
Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara.
Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis.
Hasil penelitian Marjohan (1990) menunjukkan bahwa bahan pelajaran bahasa Indonesia di SD hanya berisikan penggunaan fungsi bahasa tertentu sehingga melupakan fungsi-fungsi bahasa yang lain. Menurut Marjohan, fungsi personal misalnya cenderung diabaikan di dalam pembelajaran bahasa. Padahal, pembelajaran fungsi personal ini dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan mengungkapkan pikiran, ide, gagasan, dan lain-lain.
Penelitian Nurjaya dkk. (1996) menunjukkan bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD, guru lebih banyak mengarahkan siswa pada penggunaan fungsi presentasional bahasa. Fungsi-fungsi bahasa yang lain kurang dikembangkan. Hal ini, akan menghambat kemampuan siswa dalam berkomunikasi, terutama untuk komunikasi interaktif.
Sementara itu, hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan fenomena yang hampir sama. Berdasarkan hasil wawancara dan data kuantitatif di kelas IV SD Negeri 01 Banyuurip menunjukkan bahwa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, 14 dari 20 siswa kelas IV (70%) kurang dapat mengoptimalkan kemampuan dalam hal mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara lisan dan tertulis. Hal ini disebabkan guru cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa, tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. Artinya, apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa berbicara sesuai konteks dan situasi tutur, melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang berbicara. Akibatnya, keterampilan berbicara hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka, belum menyatu secara emosional dan afektif. Ini artinya, rendahnya keterampilan berbicara bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya.
Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin keterampilan berbicara di kalangan siswa kelas IV SDN 01 Banyuurip akan terus berada pada aras yang rendah. Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar, memilih kata (diksi) yang tepat, menyusun struktur kalimat yang efektif, membangun pola penalaran yang masuk akal, dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat berbicara.
Dalam konteks demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan berbicara yang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secara rasional dan kognitif, tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis, interaktif, menarik, dan menyenangkan. Dengan cara demikian, siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan. Pembelajaran keterampilan berbicara pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa.
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal akar permasalahan dari rendahnya tingkat kemampuan siswa kelas IV SD N 01 Banyuurip dalam berbicara, yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan.
Untuk mengoptimalkan hasil belajar, terutama keterampilan berbicara, diperlukan pendekatan dan metode pengajaran yang lebih menekankan pada aktivitas belajar aktif dan kreativitas para siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini diperkuat oleh pendapat Nurhatim (2009) yang mengatakan bahwa penggunaan suatu metode memiliki arti penting sebagai variasi pembelajaran dengan tujuan siswa dapat mengikuti aktivitas pembelajaran di kelas yang menyenangkan dan tidak membosankan. Untuk itu guru perlu mengubah metode mengajar konvensional dengan penerapan metode bermain peran. Bermain peran merupakan teknik bermain peran secara sederhana. Dalam bermain peran, siswa dibagi untuk memerankan tokoh-tokoh tertentu sesuai dengan tema pelajaran saat itu.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti menerapkan pendekatan NHT (Number Heads Together) melalui metode bermain peran dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Adapun alasan pemilihan pendekatan dan metode tersebut adalah dengan pertimbangan bahwa melalui pendekatan NHT setiap siswa atau kelompok akan lebih siap ketika guru menunjuk mereka maju ke depan kelas untuk menyampaikan atau mengungkapkan pikiran dan perasaanya serta informasi secara lisan. Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006).
 Selain itu, pemilihan metode bermain peran dirasa lebih efektif dan lebih efisien untuk diterapkan dalam pembelajaran keterampilan berbicara karena siswa dapat tampil praktik berbicara secara berkelompok. Siswa pun dapat menghilangkan perasaan takut dan malu karena mereka dapat tampil dan bekerja sama dengan anggota kelompoknya. Sedangkan dikatakan efisien karena proses belajar di SD lebih banyak dilakukan dengan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. Permainan adalah hal paling menarik untuk anak-anak usia sekolah dasar.
Dari uraian latar belakang masalah tersebut  maka peneliti ingin  melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “ Penerapan Pendekatan NHT dengan Metode Bermain Peran untuk Meningkatkan Kemampuan Mengungkapkan Pikiran dan Perasaan dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV SD”. 

Download file lengkapnya di bawah ini:
Kajian Empiris
Data dan Cara Pengumpulan Data
Kajian Teori
Kisi-Kisi Instrumen
Pendahuluan
Metodelogi Penelitian
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Identifikasi Masalah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar