Laman

Senin, 06 Desember 2010

PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

LAYANAN PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH DASAR


BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pada mulanya, pengertian anak berkebutuhan khusus adalah anak cacat, baik cacat fisik maupun cacat mental. Anak-anak yang cacat fisik sejak lahir, seperti tidak memiliki kaki atau tangan yang sempurna, buta warna, atau tuli termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus. Pengertian anak berkebutuhan khusus kemudian berkembang menjadi anak yang memiliki kebutuhan individual yang tidak bisa disamakan dengan anak yang normal. Pengertian anak berkebutuhan khusus akhirnya mencakup anak yang berbakat, anak yang cacat, dan anak yang mengalami kesulitan.
Selama ini cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus masih negatif, maka pemenuhan layanan anak berkebutuhan khusus juga belum dapat memperoleh hak yang sama dengan anak-anak lainnya. Sehubungan dengan itu, maka guru sebagai ujung tombak pendidikan formal perlu memberikan layanan secara optimal bagi semua siswa termasuk anak berkebutuhan khusus. Karena dalam jenjang sekolah umum, termasik sekolah dasar, terkadang ditemui siswa yang termasuk anak berkebutuhan khusus yang memerlukan perhatian dan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Sebab anak-anak tersebut tidak serta merta dapat dilayani kebutuhan belajarnya sebagaimana anak-anak normal pada umumnya.
Guru di sekolah dasar diharapkan mampu memberikan layanan pendidikan pada setiap anak berkebutuhan khusus. Namun masih banyak guru yang belum memahami tentang anak berkebutuhan khusus. Sehingga mereka tidak dapat memberikan layanan pendidikan yang optimal terhadap anak berkebutuhan khusus. Apalagi anak berkebutuhan khusus mencakup berbagai jenis dan derajat kelainan yang bervariasi. Padahal setiap anak memiliki keunikannya masing-masing yang berbeda dengan anak lainnya, dimana setiap anak perlu mendapatkan penanganan yang berbeda sesuai dengan karakternya.
Makalah ini akan memaparkan langkah-langkah dan tindak lanjut yang harus dilakukan guru terhadap anak berkebutuhan khusus. Guru terlebih dahulu harus dapat menemukan siswa yang termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk kemudian dapat mengambil tindakan yang tepat terhadap anak tersebut. Sehingga anak berkebutuhan khusus dapat mengembangkan potensinya seperti anak-anak lain untuk membekali hidupnya serta dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungannya.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan utnuk mengenali dan menemukan adanya anak berkebutuhan khusus?
2. Bagaimana cara pemberian layanan pendidikan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus?

BAB II
PEMBAHASAN

Banyak kasus yang terjadi berkenaan dengan keberadaan anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah umum, termasuk di sekolah dasar (SD). Anak-anak tersebut memerlukan perhatian dan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan keadaannya agar dapat mengembangkan kemampuannya seperti anak-anak normal lainnya. Pada dasarnya setiap anak adalah pribadi yang unik yang harus diperlakukan sesuai dengan keunikannya. Untuk dapat memberikan perlakuan yang tepat terhadap anak yang bersangkutan, seorang guru harus mengetahui apa keunikan atau kelainan yang dimiliki oleh anak didiknya. Untuk mengetahuinya, seorang guru perlu melakukan tahap identifikasi dan asesmen terhadap anak yang diduga anak berkebutuhan khusus, sehingga dapat memberikan layanan yang tepat.

A. IDENTIFIKASI

Anak berkebutuhan khusus perlu dikenal dan diidentifikasikan dari kelompok anak pada umumnya, oleh karena mereka memerlukan pelayanan yang bersifat khusus. Pelayanan tersebut bertujuan untuk membantu anak berkebutuhan khusus mengurangi keterbatasannya dalam hidup bermasyarakat. Dalam rangka mengidentifikasi (menemukan) anak dengan kebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai jenis dan tingkat kelainan organis maupun fungsional anak melalui gejala-gejala yang dapat diamati sehari-hari. Sehubungan dengan hal itu, maka disiapkan alat identifikasi anak berkebutuhan khusus berbentuk kelimat pertanyaan tentang gejala-gejala yang nampak pada anak dalam kesehariannya. Dengan alat identifikasi ini, secara sederhana dapat disimpulkan apakah seseorang tergolong anak berkebutuhan khusus atau bukan.
Identifikasi adalah usaha untuk mengenali atau menemukan anak berkebutuhan khusus sesuai dengan ciri-ciri yang ada. Identifikasi yang dilakukan untuk menemukenali keberadaan anak berkebutuhan khusus di SD berorientasi pada ciri-ciri atau karakteristik yang ada pada seorang anak yang mencakup hal-hal sebagai berikut.
1. Kondisi Fisik
Mencakup keberadaan kondisi fisik secara keseluruhan (anggota tubuh) dan kondisi indera seorang anak, baik secara organik maupun fungsional, apakah kondisi yang ada mempengaruhi fungsinya atau tidak.
2. Kemampuan Intelektual
Mencakup kemampuan anak untuk melaksanakan tugas-tugas akademik di sekolah.
3. Kemampuan Komunikasi
Mencakup kesanggupan seorang anak dalam memahami dan mengekspresikan gagasannya dalam berinteraksi terhadap lingkungan sekitar, baik secara lisan maupun tulisan.
4. Sosial Emosional
Mencakup aktivitas sosial yang dilakukan seorang anak dalam kegiatan interaksinya dengan teman-teman maupun dengan gurunya serta perilaku yang ditampilkan dalam pergaulan kesehariannya.
Ada beberapa teknik identifikasi secara umum, yang memungkinkan guru-guru untuk melakukannya sendiri di sekolah. Teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut.
1. Observasi
Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan ecara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati termasuk anak berkebutuhan khusus.
Berdasarkan situasi yang diobservasi, observasi dibedakan menjadi:
a. Observasi Langsung, dilakukan secara langsung terhadap siswa dalam lingkungan yang wajar dalam aktivitas keseharian.
b. Observasi tak Langsung, dilakukan dengan menciptakan kondisi yang diinginkan untuk diobservasi.


Berdasarkan keterlibatan pengobservasi, observasi debedakan menjadi:
a. Partisipan, yaitu orang yang melakukan observasi turut mengambil bagian pada situasi yang diobservasi.
b. Nonpartisipan, yaitu orang yang melakukan observasi berada di luar situasi yang sedang diobservasi, tujuannya agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi anak yang diobservasi.
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada sumber data, dan sumber data memberikan jawaban secara lisan. Guru dapat melakukan wawancara terhadap siswa, keluarga, orangtua, teman seperrmainan, atau pihak lain yang dimungkinkan untuk dapat memberikan informasi tambahan mengenai keberadaan siswa tersebut.
3. Tes
Tes merupakan suatu cara untuk melakukan penilaian yang berupa suatu tugas yang harus dikerjakan oleh anak, yang akan menghasilkan suatu nilai tentang kemampuan atau perilaku anak yang bersangkutan. Untuk mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus tes dapat dilakukan dalam bentuk perbuatan maupun tulisan. Dalam hal ini tes berupa buatan guru sendiri.
4. Tes Psikologi
Tes psikologi yaitu tes yang sangat popular dan sering digunakan dalam upaya identifikasi anak berkebutuhan khusus, karena memiliki akurasi yang lebih baik dari tes buatan guru, waktu pelaksanaan tes lebih singkat, dan dapat memprediksi apa-apa yang akan terjadi dalam belajar anak di tahap berikutnya. Untuk melihat tingkat kecerdasan seorang anak, tes psikologi merupakan salah satu instrumen yang lebih obyektif dan validitasnya telah teruji. Tes psikologi tidak hanya terbatas pada tes kecerdasan saja, tetapi juga digunakan untuk mengetahui kepribadian, perilaku, dan bakat khusus seseorang.


B. ASESMEN

Asesmen adalah penilaian terhadap suatu keadaan, penilaian terhadap kondisi atau keadaan anak berkebutuhan khusus. Asesmen merupakan kelanjutan dari identifikasi. Hasil yang diperoleh dari asesmen pendidikan akan bermanfaat bagi guru sebagai panduan dalam dua hal pokok, yaitu perencanaan program dan implementasi program pembelajaran. Informasi yang dikumpulkan dalam asesmen hendaknya relevan dan komperhensif karena akan digunakan merencanakan tujuan dan penentuan sasaran pembelajaran serta strategi pembelajaran yang tepat.
1. Tujuan Asesmen
 Menyeleksi anak-anak yang termasuk anak berkebutuhan khusus
 Menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya
 Merencanakan program dan strategi pembelajaran
 Mengevaluasi dan memantau perkembangan belajar siswa
2. Langkah-Langkah dalam Asesmen
 Menentukan cakupan dan tahapan keterampilan yang diajarkan
 Menetapkan perilaku yang diases
 Memilih aktivitas evaluasi (evaluasi khusus atau umum)
 Pengorganisasian alat evaluasi
 Pencatatan kinerja siswa
 Penentuan tujuan pembelajaran khusus untuk jangka panjang dan jangka pendek
3. Teknik Pelaksanaan Asesmen
 Observasi
Mencakup pengamatan yang dilakukan secara seksama terhadap aktivitas belajar siswa, seperti cara belajar, kinerja, perilaku, atau kompetensi yang dicapai.
 Tes Formal
Merupakan suatu bentuk tes yang telah distandarkan, yang memiliki acuan norma atau patokan dengan tolak ukur yang telah ditetapkan. Dalam konteks asesmen pendidikan anak berkebutuhan khusus sesungguhnya kurang cocok dilakukan karena tujuannya yang sangat spesifik mencakup persoalan-persoalan pendidikan yang unik yang dihadapi siswa berkebutuhan khusus secara individual.
 Tes Informal
Merupakan tes yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkenaan dengan kompetensi dan kemajuan belajar anak berkebutuhan khusus yang disusun oleh guru. Tes ini digunakan secara intensif untuk mengetahui kompetensi-kompetensi khusus pada anak.
 Wawancara
Merupakan usaha memperoleh informasi tentang anak anak berkebutuhan khusus dengan sasaran utama orangtua, keluarga, guru di sekolah, ataupun teman sepermainan.

C. PEMBERIAN LAYANAN PENDIDIKAN

Sebelum menentukan layanan pendidikan yang akan diberikan terhadap anak berkebutuhan khusus, seorang guru SD terlebih dahulu melakukan identifikasi yang dilanjutkan dengan asesmen terhadap anak yang diduga berkebutuhan khusus. Menemukan anak berkebutuhan khusus sangat penting dilakukan, mengingat kebutuhan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus sangatlah spesifik, dengan keunikan yang dimiliki. Melalui asesmen permasalahan-permasalahan pendidikan khusus yang dialami anak akan diketahui, dalam bidang apa dan tentang persoalan yang dihadapinya.
Salah satu program pembelajaran yang dirancang untuk anak-anak berkebutuhan khusus adalah program pembelajaran individual (PPI), yaitu program yang disusun sesuai dengan kebutuhan individu anak-anak berkebutuhan khusus. Pemberian layanan diberikan dengan menyusun rencana, aktivitas kegiatan, dan melakukan evaluasi. Semua program yang dilakukan terhadap anak berkebutuhan khusus harus memperoleh persetujuan orangtua murid.
Idealnya semua siswa berkebutuhan khusus yang berkelainan fisik dan mental dilayani dengan PPI, terutama diperuntukkan bagi murid berkelainan pada tingkat sedang dan berat. Pengembangan PPI sesungguhnya tidak dapat dilakukan sendiri oleh seorang guru, tetapi harus ada koordinasi dengan berbagai pihak terkait di sekolah, dinas pendidikan, komite sekolah, dan orangtua murid. Langkah awal yang harus dilakukan untuk penyelenggaraan program PPI adalah membentuk tim penyusun program, dengan kerja awal melakukan diskusi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi siswa, untuk selanjutnya dibuatkan program yang sesuai dengan kebutuhannya.
Proses pengembangan PPI dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa prosedur teknis, yaitu sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan kompetensi siswa secara rinci pada saat sekarang dalam berbagai bidang pelajaran.
2. Merumuskan tujuan jangka panjang dan jangka pendek kegiatan pembelajara.
3. Menentukan teknik dan akat evaluasi untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai.
4. Mengembangkan ranah kurikulum yang akan dibuat atau dipropagandakan.
5. Menetapkan strategi pembelajaran sesuai dengan penekanan pada ranah kurikulumnya.
Dalam pelaksanaan program PPI harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar kompetensi yang diharapkan untuk mengatasi kesulitan akan lebih mudah dicapai. Selama kegiatan berlangsung, guru berperan sebagai pendidik, fasilitator, dan motivator dalam pelaksanaan program. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program adalah sebagai berikut.
1. Mencermati tujuan dan sasaran program yang akan dicapai.
2. Materi dan lembar kegiatan yang diperlukan selama pelaksanaan program berlangsung di sekolah.
3. Fasilitas dan sumber belajar berupa media atau ruang sumber untuk kegiatan pembelajaran.
4. Kalender pembelajaran.
5. Rapat koordinasi mengenai pelaksanaan program.
Pelaksanaan program harus dimonitor dan dievaluasi setiap saat untuk melihat perkembangan atau kemajuan yang dicapai siswa, melalui observasi atau tes. Evaluasi diberikan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran ataupun dalam periode waktu tertentu dalam bentuk tes formal maupun tes informal untuk mengukur tingkat kemajuan dan prestasi belajar yang telah dicapai siswa.

BAB III
PENUTUP

Setiap anak memiliki karakter dan keunikan yang berbeda-beda. Jika dalam satu kelas terdapat empat puluh orang siswa, maka ada empat puluh perlakuan berbeda yang harus diberikan oleh seorang guru SD. Namun hendaknya perlakuan tersebut tidak menimbulkan adanya kecemburuan sosial di antara siswa. Dapat dikatakan bahwa semua anak memiliki kebutuhan khusus. Namun jika dilihat secara umum, anak berkebutuhan khusus adalah anak yang benar-benar membutuhkan penanganan khusus karena tingkahlaku atau sifatnya yang menyimpang dari anak-anak pada umumnya.
Langkah awal dalam menemukan dan menentukan anak berkebutuhan khusus di SD adalah melalui identifikasi. Identifikasi adalah upaya menemukenali anak-anak yang diduga memiliki kelainan atau berkebutuhan khusus. Kegiatan identifikasi dilanjutkan dengan asesmen yang merupakan aktivitas penting dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga pelaksanaannya harus benar-benar dilakukan secara obyektif terhadap kondisi dan kebutuhan anak. Pada intinya asesmen berorientasi pada upaya pengumpulan informasi secara sistematis dalam upaya perencanaan dan implementasi pembelajaran siswa di sekolah.
Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang unik dengan berbagai ragam permasalahan belajar yang dihadapi di sekolah. Untuk mengoptimalkan potensinya, maka perlu dirancang program khusus yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan masing-masing individu yang mungkin selama ini masih mengikuti program umum di sekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar