Laman

Minggu, 24 Oktober 2010

SURAT TERBUKA UNTUK IKHWAN FILLAH

SURAT TERBUKA UNTUK IKHWAN FILLAH


Malam telah larut terbentang. Sunyi. Dan saya masih berpikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh praduga. Semua semata-mata hanya untuk musahabah terutama bagi diriku, mahluk yang oleh Rasulullah SAW disinyalir sebagai pembawa fitnah terbesar.

Suratmu sudah kubaca dan tersimpan, surat yang membuatku gemetar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tak bisa tidur belakangan ini. Jujur kukatakan bahwa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian, tetap saja yang “kesekian” itu membuatku diamuk perasaan tak menentu.

Astaghfirullahaladzim. Bukan, bukan perasaan karena merasa diriku begitu diperhatikan. Justru sikapmu itu menghempaskan ke jurang kepedihan dan kehinaan. Afwan kalau yang terpikir dalam benak pertama bukannya introspeksi, tapi malah sebuah tuduhan; kemana ghadhul bashor-mu?

Akhifillah,
Alhamdulillah, Allah mengaruniakanku zhahir yang jamilah. Dulu, di masa Jahiliyyah, karunia itu senantiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, kupikir semua hal tentang itu takkan terulang. Ternyata dugaanku salah. Mengapa fitnah ini justru menimpa kepada orang-orang yang kuhormati sebagai pengemban risalah dakwah? Siapakah yang salah di antara kita?

Akhifillah,
Maaf kalau saya menimbulkan fitnah dalam hidupmu. Namun semua bukan keinginanku untuk beroleh wajah seperti ini. Seharusnya di antara kita ada tabir yang akan membersihkan hati dari penyakit-penyakitnya. Telah kucoba dengan segenap kemampuan untuk menghindarkan mata dari bahaya maksiat. Alhamdulillah, hingga kini belum hadir sosok pangeran impian yang hadir dalam angan-angan, semua kuserahkan pada Allah Ta’ala semata.

Akhi,
Tentunya antum pernah mendengar hadist yang kesohor ini, bahwa wanita dinikahi karena empat perkara; kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan diennya. Maka pilihlah yang terakhir karena itu akan membawa laki-laki kepada kebahagiaan yang hakiki. Kalaulah ada yang mendapatkan keempatnya, ibarat ia mendapat surga dunia. Sekarang, apa yang antum inginkan? Wanita shalihah pembawa kedamaian atau wanita yang cantik tapi membawa kesialan? Maaf kalau di sini dengan sangat terpaksa saya berburuk sangka bahwa antum menilai saya Cuma sebatas fisik belaka. Kapan antum tahu kalau dien saya memenuhi kriteria bagus? Apa dengan menilai frekuensi kesibukan saya? Jam terbang yang tinggi? Tidak, antum tidak akan pernah tahu kapan saya berbuat ikhlas lillahi ta’ala dan kapan saya berbuat karena riya’. Atau antum ingin mendapatkan istri akhwat yang cantik yang memiliki segudang prestasi tapi akhlaknya masih dipertanyakan? Saya yakin sekiranya antum disodori pertanyaan demikian niscaya tekad antum akan berubah.

Akhifillah,
Tanyakan kepada setiap akhwat kalau antum bisa, yang tercantik sekalipun. Maukah dia diperistri karena zahirnya belaka? Jawabnya insya Allah tidak. Tahukah antum jika kecantikan lahir itu adalah mutlak pemberian Allah? Ia suatu anugerah yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar jika diberikan kepada seseorang atau dihindarkan dari seseorang. Jadi, manusia tidak mendapatkannya memalui pengorbanan. Lain dengan kecantikan batiniyah. Ia melewati proses panjang, berliku. Mengalami pengorbanan dan segala macam pengalaman pahit. Ia adalah intisari dari manisnya kata, sikap, tindak tanduk, dan perbuatan. Apabila seorang laki-laki menikahi wanita karena kecantikan batinnya, maka ia telah amat sangat menghargai perjuangan seorang manusia dalam mencapai kemuliaan jati dirinya, paham?

Akhifillah,
Tubuh ini hanya pinjaman yang terserah Dia kapan mengambilnya. Tapi ruh, kecantikannya menjadi abadi. Karenanya, manusia diperintahkan untuk merawat ruhiyahnya bukan hanya jasmaninya yang sewaktu-waktu bisa usang dan koyak. Afwan kalau surat antum tidak saya tanggapi. Saya tidak ingin masalah hati ini menjadi berlarut-larut. Satu yang saya minta agar kita saling menjaga sebagai saudara, menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tahukah antum bahwa tindakan antum telah menyebabkan saya tidak lagi berada di jalan-Nya? Ada riya, ada su’udhan, ada takabur, ada kemarahan, dan ada kebencian. Itukah jalan yang antum bukakan untuk saya, jalan neraka?

Akhifillah,
Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian, kalau antum mau dengan cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan saya orangnya. Jangan antum kira kecantikan lahir telah membuat saya memiliki segalanya. Justru saya kini merasa iri dengan saudari saya, ia begitu sederhana, tetapi akhlaknya bak lentera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah, sementara apa yang saya miliki masih masih sangat jauh nilainya. Saya takut jika suatu saat ia mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sementara saya tidak.

Akhifillah,
Afwan kalau saya menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah saya akan lebih memperbaiki diri. Mingkin semua ini sebagai peringatan dari Allah bahwa masih banyak amalan saya yang riya maupun tidak ikhlas. Walahu a’lam. Simpan saja cinta antum untuk istri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhwat, ribuan umat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzudin al- Qossam yang lain. Penuhilah harapa islam akan generasi yang tangguh semacam Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang menghantarkan ke Jannah-Nya.

Akhifillah,
Malam bertambah dan bertambah larut. Mari kita shalat malam dan memandikan wajah serta mata kita dengan air mata. Mari kita sucikan hati dengan taubatan nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada Asma dan ‘Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar