Laman

Minggu, 24 Oktober 2010

ANAK GADIS YANG SUKA MAKAN ANGIN

ANAK GADIS YANG SUKA MAKAN ANGIN

MENJELANG tengah hari, kala merambang-rambang di sekitar berlukar mawar yang ada di kaki bukit itu, saya melihat lagi si anak gadis yang suka bermain-main dengan angin.
Dulu, anak gadis ini pernah saya jumpai dalam sekali peristiwa. Sebenarnya, waktu itu, bukan saya yang ingin menjumpainya. Saya tak mengenalnya secara pribadi. Saya hanya menyertai seorang bocah lelaki. Dialah yang mengenal si gadis dan memiliki keinginan tak tertahankan untuk segera berjumpa dengannya.
Kini, saya lihat anak gadis itu hanya sendiri sebagaimana kemarin, sebagaimana hari-hari sebelumnya lagi, dalam satu bulan ini. Ia duduk bersenandung, sambil sesekali berbisik manja pada angin yang menggoyang-goyangkan Mawar dalam belukar warna warni di sampingnya. Anak gadis ini tak pernah lagi mengenakan seragam putih birunya. Sesiang ini, semestinya, ia masih berada dalam salah satu ruang kelas pada sekolah yang ada di balik bukit.
Jelas terbaca, anak gadis ini sudah begitu akrab dengan angin. Keakraban itu bisa terjelma dari senandung lirihnya dalam bahasa suara yang menimbulkan rasa girang yang dibalas oleh angin dengan memberikan hembusan-hembusan yang lembut menyejukkan menimpa tubuh si gadis dan membuatnya tertawa riang seketika sehingga tak salah jika ia kemudian menjadi betah berlama-lama, memanjakan diri, sampai senja.
Memang, gadis ini sepenuhnya telah menjadi gila. Ia tak lagi mempedulikan siapa-siapa. Ia tak lagi mau berteman, juga tak mau lagi menyapa kakek dan neneknya di rumah. Hanya anginlah yang kemudian diperlakukannya sebagai kawan, yang menurutnya bisa mendengarkan kisahnya, menyimak kesepiannya lewat dengung lirih menyedihkan yang keluar dari bibirnya begitu saja, terdengar seolah-olah sebagai isyarat keriangan.
Sebelum si gadis gila, ada seorang bocah lelaki yang mencintainya dengan begitu tulus. Bocah inilah yang saya sertai kala ia berencana mengutarakan perasaan cintanya kepada si gadis sebulan yang lalu.
Bocah ini, sudah lama putus sekolah. Umurnya sekitar tujuh belas tahun. Namanya Ompong. Bisa dibilang, Ompong adalah preman kecil-kecilan yang sering mangkal di warung pojok sekolah milik Bu Jumpyang. Sehari-hari, tak ada lain, kerjanya adalah meminta uang atau makanan pada murid-murid sekolah yang ada di sebalik bukit ini. Tak ada yang berani melawannya tentu, sebab ia menang usia selain tergabung dengan gerombolan Cangkul Hitam, perkumpulan preman yang paling ditakuti.
Singkat kisah, si Ompong jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si gadis yang ada di hadapan saya ini. Waktu si gadis melintas di depannya, dalam sekali pandang, si Ompong terperangkap sihir kecantikan si gadis yang kabarnya adalah murid baru, pindah dari Ibukota setelah ayah dan ibunya meninggal dunia dalam suatu kecelakaan pesawat terbang. Sebagai anak tunggal, tentunya ia menjadi sendiri di Ibukota. Demi mengakhiri kesendiriannya itulah, ia mengamini ajakan nenek dan kakeknya untuk tinggal bersama di distrik ini, yang letaknya sekitar seratus lima puluh kilometer dari Ibukota.
Semenjak pandangan pertama itulah si Ompong kemudian melakukan aksi demi aksi dalam perjuangan untuk mendapatkan cinta si gadis. Dalam hari-hari yang dipenuhi perasaan cinta, si Ompong tak pernah absen mendatangi sekolah itu. Ia mengubah kebiasaannya dengan datang lebih pagi sebelum penjaga sekolah datang, dengan mengenakan pakaian terbaiknya, jenis kemeja lengan panjang yang ketat membungkus tubuh kurusnya beserta celana panjang berujung lebar warisan dari ayahnya, tak ketinggalan sepatu kulit buaya yang lancip pada bagian ujungnya. Dalam keadaan demikian, tak diragukan lagi, ia berpenampilan seperti seseorang yang berasal dari masa lalu. Meski demikian, tak akan ada yang berani memberikan penilaian mengenai itu, apalagi sampai mengejeknya sebab bagaimanapun, ia masih memiliki pesona seorang preman.
Pada kenyataannya, si Ompong memang sudah bertekad untuk melakukan perubahan yang revolusioner pada dirinya. Ini semua ia lakukan sebagai bagian dari perjuangan untuk menundukkan hati si gadis. Berdasarkan bisik-bisik gosip yang ia dengar, si gadis bukan berasal dari keluarga yang sembarangan. Dia adalah cucu juragan tembakau paling kaya di kawasan distrik itu. Berdasakan hal itulah si Ompong dengan sadar berusaha menyihir dirinya berpenampilan seperti tadi, yang menurutnya sudah pantas disetarakan dengan orang-orang yang berada di kelas sosial dimana si gadis berada. Setelah itu, ia mulai mencoba untuk memperbaiki perilaku dan sikapnya yang kemudian berujung pada keputusan : ia berhenti menjadi preman. Ia ingin berubah menjadi bocah baik-baik.
Pada kenyataannya, memang, si Ompong memiliki cinta yang benar-benar tulus kepada si gadis. Semenjak si gadis dengan tangan terbuka mau berkenalan dan sudi menerima dirinya sebagai teman baru, semenjak si gadis selalu memberikan sekuntum senyum yang bisa mendebarkan hatinya jika mereka berpapasan setelah perkenalan itu, semenjak itulah si Ompong benar-benar menjadi lelaki yang berubah, sebagai lelaki yang mau melakukan apa saja demi seorang gadis, tak seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya dimana dia menjalin hubungan dengan beberapa gadis yang hanya dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memanfaatkan mereka. Sungguh perasaan cinta tulus yang ada membuat si Ompong tak memiliki niat buruk apapun terhadap si gadis, kecuali mencintainya.
Sampai pada suatu ketika, si Ompong tak lagi bisa terus menahan perasaan cintanya itu. Ia ingin segera mengutarakannya kepada si gadis. Dan siang itu juga, seusai bel bubaran, ia menanti si gadis di gerbang sekolah, masih dengan penampilan jaman dulunya, menghadang si gadis untuk ia beri Mawar.
Karena rumah mereka searah, si gadis tak keberatan ketika si Ompong mengajukan usul untuk berjalan pulang bersama. Dalam perjalanan pulang itulah, si Ompong dengan laku kaku dan agak kesulitan dalam mengutarakan kata, melontarkan pernyataan : “Aku mencintaimu Gadis, sudilah kiranya kau menjadi pendamping hidupku sampai mati sebab cinta yang kumiliki untukmu begitu tulusnya.”
Tak pelak lagi, si gadis sangat terkejut mendapatkan kenyataan yang tak pernah ia sangka itu. Ia tak mengira semenjak awal, apa yang dilakukan oleh si Ompong padanya selama ini adalah tanda-tanda rasa cinta yang tak lagi terbendungkan.
Ia berpikir sebentar. Bagaimanapun, ia tak bisa menerima cinta si Ompong atau cinta siapapun juga dalam waktu ini, sebab ia masih berduka setelah kehilangan ayah dan ibunya. Akhirnya, secara bijak, ia mengutarakan pada si Ompong bahwa ia berterima kasih atas segenap perhatian yang telah dicurahkan si Ompong kepadanya. Namun, sampai seumuran itu, ia belum memikirkan masalah hubungan cinta. Mendengar itu, si Ompong merasakan kekecewaan yang teramat. Pada titik ini, saya belum mempengaruhi si Ompong, meski sesungguhnya saya sudah bersamanya semenjak ia berada di gerbang sekolah tadi. Sampai pada ketika mereka mencapai tempat yang benar-benar sepi, yakni di sekitar belukar Mawar ini, barulah saya meniupkan serbuk amarah pada gumpalan hati si Ompong hingga kemudian membuat hati itu buta, menghitam seluruhnya.
Dan, apa yang saya lakukan itu tak sia-sia. Segenap cinta bersih dan tulus yang sempat lekat pada hati si Ompong, lenyap seketika itu juga. Tak membuang peluang, si Ompong langsung menarik paksa tangan kurus putih milik si gadis, yang langsung saja meronta-ronta menunjukkan penolakan, setelah membaca adanya gelagat jahat si Ompong yang seterusnya, dengan segenap kekuatannya memaksa si gadis masuk ke dalam belukar Mawar. Meski si gadis mengeluarkan semua kekuatan beserta teriakan yang bercampur tangisan untuk meminta pertolongan, tetap saja kekuatan si Ompong tak terkalahkan.
Di siang menjelang petang yang senyap itulah saya menjadi satu-satunya saksi tindak pemerkosaan itu. Saya lihat kelopak-kelopak Mawar di sekitar mereka berguguran meski tak ada angin. Juga, duri-duri dari batang Mawar membuat banyak goresan luka pada sekujur badan si gadis.
Meski saya tak terlihat, saya justru bisa menyaksikan dengan sangat jelas apa yang terjadi waktu itu hingga saya langsung merayakan keberhasilan upaya saya dalam mengubah cinta menjadi benci, menggiring kembali si Ompong sebagai dirinya, bocah jahat yang bisa menggoreskan derita luka pada seorang gadis.
Sungguh, saya sangat menyukai si Ompong. Sebagaimana sebelumnya, ia adalah bocah rapuh yang dengan mudah bisa disulap untuk berbuat tindak kejahatan. Tak akan saya lepaskan ia, jika mencoba-coba untuk menjadi baik, apalagi sampai mencoba menjayakan cinta. Tak akan pernah, sebab inilah saya, si Iblis yang suka menjerumuskan anak Adam yang lengah.
Kini, matahari tak lagi berada tepat di tengah langit. Sementara si gadis semakin girang mendendangkan kesedihannya bersama angin, saya justru memutuskan untuk segera meninggalkan kaki bukit ini. Biarlah ia di sana, saya tak akan mengganggunya lagi. Sekali peristiwa sebulan yang lalu itu sudah cukup bisa menghancurkan hidup dan masa depannya, sudah cukup berhasil membuatnya menjadi gila. Tak perlu saya berbuat yang lain….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar