Laman

Kamis, 30 September 2010

UNDER THE TREES

Bagian IV
SEBUAH STATUS

Sore telah menjelang ketika anak-anak DKK masih menyibukkan diri di basecamp, ruang kerja DKK yang terletak di belakang auditorium Fakultas Ekonomi. Sebuah ruangan yang dapat dikatakan cukup besar dan mewah dengan peralatan yang memadahi untuk mendukung kerja mereka.
Sebenarnya anggota DKK bukan hanya lima orang. Total seluruh anggota ada 20 orang. Tapi karena kelima orang itu merupakan pengurus inti yang sering terlibat langsung dalam menghukum orang yang bersalah, sehingga mereka dikenal sebagai DKK.
Orang-orang yang awam kebanyakan mengira bahwa pekerjaan DKK adalah mencari perkara dan menghukum orang-orang yang tak bersalah atau setidaknya salah menurut mereka, tapi tidak salah menurut persepsi kebanyakan orang. DKK memiliki citra jelek di sana. Banyak orang-orang yang telah dihukum dengan cara yang tidak wajar oleh mereka. Ada yang pernah digantung di atas pohon, ada yang diceburkan ke dalam kolam lumpur, ada yang pernah dibakar tasnya, dipotong rambutnya, bahkan ada yang pernah dipendam setengah badan di kolam pasir yang ada di taman selama setengah hari penuh. Tak ada alasan yang jelas atas kesalahan mereka. Apapun yang ditetapkan DKK, itulah hukum. Pihak universitas tak bisa turun tangan, karena DKK merupakan organisasi yang berdiri sendiri. Selain itu, para petinggi DKK merupakan anak dari para penyumbang dana yang sangat berpengaruh, sehingga semakin memantapkan keberadaan DKK.
Apa yang tampak di permukaan tak selalu benar. Begitulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kinerja DKK. Meskipun mereka memiliki imej jelek di mata para mahasiswa, tapi mereka tak pernah berhenti untuk terus bekerja mewujudkan keamanan kampus. Hanya saja cara kerja mereka yang sering memakai kekerasan dan tidak mau menjelaskan alasan vonis bersalah mereka. Itulah yang menyebabkan banyak orang salah paham dan banyak yang membenci mereka.
Banyak kasus yang telah ditangani DKK yang tidak sepopuler kasus-kasus penghukuman tanpa alasan yang jelas. Kerja terbesar yang pernah mereka lakukan adalah memutus rantai perdagangan narkoba di kalangan mahasiswa. Setiap minggu, biasanya mereka melakukan razia mendadak terhadap para mahasiswa. Mahasiswa yang terbukti membawa barang terlarang, akan segera diproses lebih lanjut oleh pihak universitas.
Selain itu, mereka juga sering merampas minuman keras dari tangan para mahasiswa yang nekad membawa minuman itu ke kampus. Tak jarang ada perkelahian. Tapi yang benar, tetap DKK.
Anggota DKK terbagi menjadi empat kelompok dalam melaksanakan tugasnya, yaitu kelompok observasi, identifikasi,analisis, dan eksekusi. Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang. Kelompok observasi bertugas mengamati setiap gerak-gerik mahasiswa. Ketika ada tanda-tanda yang mencurigakan, data orang tersebut akan dilaporkan kepada kelompok identifikasi yang akan membuntuti tersangka hingga menemukan bukti kesalahannya. Bukti yang didapatkan akan diproses lagi oleh tim analisis, yang juga akan mencari bukti lain untuk lebih menguatkan, kemudian memutuskan bersalah atau tidaknya tersangka. Jika terbukti bersalah, kelompok eksekusi akan memvonisnya denganhukuman yang dianggap setimpal dan diharapkan memberikan efek jera kepada pelakunya.
Kelompok eksekusi adalah Candra, pandu, sambu, Restu, dan Oris. Kelimanya anak pengusaha kaya yang selalu terlihat eksklusif di mata teman-temannya. Banyak yang menganggap mereka bertindak seenaknya karena kedudukan orang tua mereka sebagai penyumbang dana di universitas itu. Eksekusi bagi yang melihatnya adalah sebuah mainan untuk mereka, bukan untuk kepentingan kampus.
Meskipun DKK ada 20 orang, namun sore itu hanya ada lima orang dari kelompok eksekusi. Tidak ada tugas yang mereka kerjakan, selain bersantai seperti yang biasa mereka lakukan. Ada banyak fasilitas yang dapat mereka nikmati di dana. Kulkas dua pintu selalu dipenuhi makanan. Tempat tidur yang empuk siap memanjakan mereka. Televisi layar datar, laptop, dan PS siap menghibur mereka setiap saat. Segala fasilitas yang ada murni dibiayai oleh orangtua mereka berlima.
Sambu dan Restu sedang asyik bermain PS. Oris dan Candra duduk santai di sofa sambil menonton TV. Sementara Pandu hanya duduk diam seperti yang biasa ia lakukan.
“Boy, makanlah. Sejak siang kau belum makan.” ujar Candra kepada adiknya.
”Aku belum lapar. Nanti saja saat makan malam bersama di rumah.”
”Malam ini ayah dan ibu tidak akan pulang. Mereka masih ada di Singapura.”
Pandu terdiam. Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi. Telepon dari ibunya.
”Ibu.” katanya dengan nada lirih.
”Nanti malam ayah dan ibu tidak bisa makan malam bersama kalian. Masih ada urusan yang harus diselesaikan ayahmu di Singapura. Jangan sampai telat makan, ya. Patuhlah kepada kakakmu.” nasihat ibu.
Pandu kembali terdiam. ”Ibu, aku sudah besar. Tidak boleh terus mengandalkan kakakku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.” katanya dalam hati.
”Pandu, kau mendengarkan ibu?”
”Eh, iya. Aku akan mengingat nasihat ibu.” balasnya.
Beberapa detik kemudian sambungan telepon terputus. Dari arah pintu, muncullah delapan orang tamu tak diundang yang langsung membuat darah Oris mendidih ketika melihat kehadiran mereka. Kedelapan orang itu tersenyum sinis kepada kelima DKK. Oris dan teman-temannya langsung bangkit untuk menyambut kedatangan tamu tak diundang itu. Oris berdiri di barisan terdepan, berhadapan langsung dengan ketua rombongan, Ferdian. Ia melirik ke samping Ferdian. Ada seorang gadis cantik yang sedang menundukkan kepalanya, Meka.
“Oris, kau masih hidup?” ejek Ferdian dengan senyuman mengejeknya. “Aku kira kau akan bunuh diri setelah kehilangan harga diri dan dicampakan Meka.” tambahnya. Ia sengaja menggandeng mesra Meka untuk lebih membuat Oris emosi.
Dengan perasaan marah meledak-ledak di dada, Oris memaksakan untuk tersenyum. “Aku telah menemukan harga diriku kembali. Ternyata tidak hilang, hanya terselip di antara buku-buku pelajaran.”
”Kau sudah bisa bercanda sekarang?” guman Ferdian.
”Pergilah dari sini. Sebentar lagi kantor ini tutup. Jika ingin mengajukan berkas pengaduan, bisa datang lagi kapan-kapan.”
Ferdian menatap keempat orang di belakang Oris. ”Aku salut kalian masih bisa bertahan. Tapi sayang, kalian tetap saja pecundang di mata orang-orang.”
”Bukankah kau yang pecundang? Dendam terhadap kami, tapi memakai tangan orang lain untuk membalaskannya.” sahut Candra.
Ferdian menoleh ke arah Candra. ”Oh, Si Putih sudah bisa bicara? Sepertinya rasa sedih terhadap kematian kekasih tercintamu sudah reda.”
”Brengsek!” maki Candra seraya melayangkan satu bogem mentah di ujung bibir Ferdian.
Suasana memanas. Teman-teman Ferdian hampir maju membalas, namun dicegah oleh Ferdian. Ferdian tersenyum. Dengan ujung jempolnya, ia mengusap darah yang keluar di bibirnya. Ia melihat Candra yang masih tampak emosi.
“Kalian semua memang sangat menyedihkan. Kalian tak lebih dari lumpur kotor yang sangat menjijikan.” ejek Ferdian.
Candra hampir maju, tapi Oris mencegahnya.
“Kenapa? Pukullah kalau kau mau. Bukankah biasanya kau selalu di depan untuk membela orang yang belum jelas statusnya sebagai adikmu?” pancing Ferdian.
”Sialan!” seru Candra.
Perkelahian tak bisa terhindarkan. Namun Pandu tak ikut membantu teman-temannya menghadapi tamu pengacau itu. Ia tetap berdiri mematung. Setiap ada yang akan menghajarnya, langsung ditendang oleh Candra. Setiap kali bertemu Ferdian, ia selalu mempertanyakan tentang dirinya, apakah dia memang benar seorang anak yang terlahir dari hasil hubungan gelap yang sering dikatakan Ferdian. Ayahnya orang Inggris. Seharusnya ia memiliki kulit putih seperti ayahnya. Tapi kulitnya sawo matang, tak seperti kakaknya. Iapun tak menemukan kemiripan dirinya dengan kakaknya.
”Pandu! Apa yang sedang kau lakukan?” tegur Sambu seraya terus beradu pukul dengan lawannya.
”Tentu saja sedang memikirkan siapa sebenarnya ayahnya.” ledek Ferdian.
”Tutup mulutmu! Dia adikku dan selamanya adalah adikku.” bentak Candra yang tidak rela Ferdian mengejek adiknya. Dengan membabi buta, ia mengadu tinju dengan Ferdian.
”Kau hanya tidak bisa menerima kalau nantinya fakta menunjukkan kalau dia bukan adikmu. Mana ada dua saudara yang sangat berbeda.” ujar Ferdian.
”Keberadaannya sebagai adikku adalah fakta. Tidak ada yang bisa merubah takdir itu.”
Pandu terus mendengar perdebatan dalam perkelahian itu. Adu pukul masih berlangsung. Ia tetap diam. Ucapan Ferdian masih terpikir olehnya. Dengan gontai, ia berjalan meninggalkan arena pertarungan. Candra sempat melihat adiknya pergi. Rasa marahnya terhadap Ferdian semakin membuncah. Dengan keras ia membanting tubuh Ferdian, kemudian memukulnya berkali-kali hingga Ferdian terkapar tak berdaya.
Candra mengangkat kerah leher Ferdian, “Kenapa kau begitu suka menggangu orang!” bentaknya. “Belum puaskah kau merendahkan kami? Apa maumu sebenarnya!?” teriaknya dengan sorotan mata penuh emosi. Kerah baju Ferdian ia remas dengan kuatnya.
Dalam keadaan babak belur, Ferdian masih bisa tersenyum. “Mauku? Aku ingin kau benar-benar hancur seperti apa yang telah kau lakukan padaku. Kau telah merebut Safar dariku dan karena kau, Safar meninggal!” kata Ferdian dengan tatapan angkuh. ”Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!” serunya seraya menepis tangan Candra dari lehernya.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia bangkit, mengajak teman-temannya mengakhiri perkelahian dan pergi meninggalkan ruang kerja DKK. Candra terpaku di tempatnya. Ia sama sekali tak menghalangi Ferdian pergi.
Candra, Sambu, Restu, dan Oris tak luput dari pukulan. Muka mereka lebam-lebam. Tubuh mereka menampakkan bagian-bagian yang membiru. Dengan napas masih terengah-engah, mereka merebahkan diri di sofa. Sambu mengambilkan minuman dari kulkas untuk mereka.
”Huh! Seru juga permainan hari ini. Tapi wajahku tidak tampan lagi sekarang.” ujar Restu sembari melihat wajahnya yang biru-biru di cermin. Dengan telaten ia merapikan rambutnya yang acak-acakan.
”Seperti banci saja!” komentar Oris.
”Orang jelek dilarang komentar!” sergah Restu.
Oris hampir menonjok Restu jika tidak ditangkis Candra.
*****
Pandu duduk menunduk. Tepat di hadapannya ada Candra yang terus memandanginya. Suasana hening. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan tepat pukul sebelas malam. Begitu heningnya suasana hingga bunyi jarum jam terdengar begitu jelas.
”Apa kau akan terus seperti ini?” tanya Candra. Tak ada respon dari Pandu. ”Hanya mendengar gurauan seperti ini saja kau sudah terpuruk.” lanjutnya. Tetap tak ada tanda-tanda Pandu akan bersuara. ”Apa kekuranganku hingga kau meragukan aku sebagai kakakmu?”
”Seharusnya kau yang meragukanku. Aku tak memiliki kepantasan untuk menjadi adikmu.” lirih Pandu.
”Sekarang balikkan pertanyaan itu untukku. Apa aku pantas menjadi kakakmu? Kau begitu jenius. Kau dua tahun lebih muda dariku, tapi sudah berada di tingkat yang sama denganku. Bahkan nilaimu lebih baik dariku. Mungkin justru aku anak angkat itu. Apa kau juga berpikiran sama?”
”Tidak.”
”Terserah apa kata orang tentang kita. Kau tak perlu peduli. Kalau kau sakit, aku akan merasa lebih sakit.”
”Maaf.”
”Kelak jika ada orang yang bertanya tentang statusmu, katakan dengan lantang bahwa kau adalah Pandu Sebastian, adik Candra Sebastian, putra kedua keluarga Sebastian. Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu untuk meragukan statusmu. Termasuk warna kulitmu yang selalu membuatku iri.” tegas Candra.
Pandu tersenyum, ”Seharusnya aku yang iri pada kulit putihmu yang menawan.”
”Siapa bilang menawan? Aku bahkan sudah berkali-kali pergi ke pantai hanya untuk membuat kulitku semanis dirimu. Apa kita bertukar kulit saja?”
Pandu kembali tersenyum mendengar kekonyolan kakaknya. Dia sosok kakak yang selalu membelanya. Ia berjanji kepada dirinya sendiri, tak akan mengungkit-ungkit statusnya. Walau apapun yang terjadi, Candra akan tetap menjadi kakaknya.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar