Laman

Tampilkan postingan dengan label Novel Momoy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Momoy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2011

Duri-Duri Kaktus


BAGIAN I
EMOSI TAK TERKENDALI

Kemarau masih menyelimuti bulan April. Sinar matahari panas menyengat di kala siang. Daun-daun berguguran, menari-nari mengikuti alunan sang angin. Kicau burung terus mengalun menyemangati pepohonan ringkih yang masih berdiri tegar di bawah sengatan matahari.
”Baiklah! Waktu mengerjakan sudah selesai. Silakan kumpulkan lembar jawaban kalian dan keluarlah dengan tertib.” suara pengawas ujian bagaikan ledakkan di siang bolong yang menambah panas perasaan.
Terdengar banyak keluhan. Belum selesai! Waktu terasa begitu cepat bergulir pada hari terakhir ujian akhir semester ini. Tak ada senyuman ramah pengawas sejak awal hingga akhir ujian. Muka masam menghiasi kebanyakan mereka yang baru keluar ruang ujian.
”Sial!” begitu ungkapan pertama yang meluncur dari bibir Nazril ketika keluar ruangan.
Dari sekian banyak peserta ujian, ada satu wajah yang bersinar dan berhaiskan senyuman. Entah apa makna yang tersirat dari senyumannya itu. mungkin karena kali ini ia merasa bisa mengerjakan semua soal dengan baik.
Ya, mungkin!
Sejak dulu dia tak pernah menjadi juara kelas. Nilai rapornya cukup banyak berhiaskan angka merah. Beberapa ulangan dan ujian juga sering tak bisa ia selesaikan dengan baik, hingga terpaksa arus mengikuti program remidial. Saat kelas dua SMP, dia pernah tidak naik kelas. Buku catatan hitam di sekolah-sekolah yang pernah ia singgahi tak pernah ada yang kosong.
Tapi... mungkinkah arti di balik senyumannya menyiratkan bahwa kali ini ia bisa menakhlukkan soal-soal ujian? Jawabannya, menunggu hasil pengumuman ujian.
Bukan sekali ini saja dia tersenyum ceria. Di sepanjang musim kemarau, gadis dengan rambut panjangnya yang selalu dikucir ini memang selalu tampak ceria dan bersemangat. Ada apa dengan musim kemarau?
Titan. Begitulah gadis itu biasa disapa. Dengan langkah semangat dan senyuman yang melekat di bibirnya, ia berlari menuju atap gedung sekolah. Satu demi satu anak tangga ia tapaki tanpa rasa lelah.
Wush!
Angin segera menyambar ketika Titan menginjakkan kaki di atap gedung berlantai tiga. Matahari tepat berada di atas kepalanya. Panas!
Ia merentangkan tangan seolah memberi salam kepada panas terik matahari, pada langit biru, pada kicauan burung, dan pada deru angin yang meniup dedaunan di musim kemarau. Hampir di sepanjang musim kemarau ia melakukan hal ini.
Aneh!
Begitulah kesan orang-orang terhadapnya. Dia sangat menyukai musim kemarau. Dia sangat suka berjemur di bawah terik matahari siang yang menyengat.
”Titan... turun!” sayup-sayup terdengar suara seseorang dari arah bawah.
Titan melongok ke arah bawah. Tampak Ardi sedang melambaikan tangan ke arahnya.
”Ayahmu sudah datang!” serunya lagi.
Ekspresi Titan langsung berubah total. Ia tak suka mendengarnya. Namun ia tetap mau melangkah turun dan menjumpai Ardi di halaman gedung.
”Dimana?”
”Di tempat parkir, seperti biasa.” jawab Ardi seraya memberikan tas Titan yang tertinggal di ruang ujian.
”Terima kasih.” ujarnya, seraya berlari pergi menuju tempat parkir.
Titan tidak suka momen-momen seperti ini. Momen saat sang ayah mengantar dan menjemputnya di sekolah. Seumur hidup, tak pernah sekalipun ayahnya melewatkan waktu untuk mengantar dan menjemputnya di sekolah, meski sesibuk apapun pekerjaannya.
Ya! Orang bilang itu perhatian. Bentuk kasih sayang seorang ayah kepada putri kesayangannya. Ya, mungkin saja. Tapi tetap menyebalkan untuk Titan. Ia muak dan sangat ingin mengelak. Tapi tak pernah bisa.
Sekali ia pernah mencoba pulang sendiri melalui pintu belakang saat kelas I SMA semester dua. Tapi apa yang terjadi? Saat ia sampai di depan rumah, sudah ada banyak polisi di sana. Ia diintrogasi oleh banyak polisi, dan itu membuatnya takut. Ia ditanya, apakah ada orang yang menculiknya, mengajaknya kabur dari sekolah, atau ada masalah. Ia hanya bisa menjawab tidak.
Padahal baru tiga jam ia menghilang, sudah sampai sejauh itu langkah yang dilakukan ayahnya. Apalagi jika sehari ia tak pulang, pasti ia sudah masuk menjadi anggota DPO dan foto-fotonya terpampang di tempat umum dan media massa.
Segera ia menghilangkan kenangan tak mengenakkan itu.
”Titan.... ”
Ada suara sapaan halus dari arah depan. Naya, gadis cantik—Queen di SMA ini—bersama keempat orang teman setiannya, berdiri anggun menghalangi jalannya.
Titan terpaksa menghentikan langkahnya. Ia tak menyukai mereka. Selama satu semester di SMA ini, mereka berlima sudah cukup sering mengganggu dan mempermainkannya.
Naya maju mendekati Titan yang sengah berdiri dalam diam. Ia menampakkan senyuman yang menyiratkan niat jahat. Keempat temannya langsung bergerak mengelilingi Titan, hingga Titan tak memiliki celah untuk melarikan diri.
”Hai... gadis primitif... bayi besar yang selalu diantar jemput ayahnya.”
Naya mendongakkan wajah Titan sambil tersenyum seram. Namun Titan tetap diam tak melawan.
“Sejak pertama kali melihatmu sampai saat ini, tak ada yang berubah. Penampilannmu sungguh sangat kuno dan menjijikan.”
”Rambutmu... model kuciran itu sudah kuno!”
”Au!” jerit Titan ketika Naya menarik ikat rambutnya dengan paksa.
Rambut panjangnya nan hitam tergerai. Naya membuang ikat rambut itu dan menginjaknya.
”Aku yakin... rambut jelekmu ini pasti tidak pernah masuk salon.”
”Au! Lepaskan!” sekali lagi Titan menjerit, karena Naya menjambak rambutnya.
”Kau adalah orang paling menjijikan yang pernah aku temui. Primitif... sering remidi pula. Bodohnya.... ”
”Lepaskan!” seru Titan. Namun Naya tak menghiraukannya.
”Aku yakin... seumur hidup kau akan menjadi orang yang sangat menyedihkan. Sedewasa ini masih diantar jemput ayah? Apa orang tuamu tak mampu membelikanmu mobil? Kau tak pantas bersekolah di tempat elit ini. Kau hanya menjadi sampah yang membuat aku kesal! Hahaha.... ”
”Kau membuat kesabaranku hilang. Jangan salahkan jika aku bertindak kasar!” hardik Titan.
”Memangnya apa yang bisa kau lakukan!” balas Naya dengan nada tak kalah tinggi.
”Bug!” Titan melayangkan tinjunya tepat ke hidung Naya.
Hanya dengan sekali pukulan, Naya sudah jatuh terkapar dengan hidung yang berdarah. Keempat dayang setianya langsung berhambur menolong sang putri.
”Beruntung aku tidak mematahkan kakimu. Nasib anak malang sepertimu memang menyedihkan. Pantas saja pekerjaanmu suka mengganggu dan menghina orang. Anak orang kaya yang tidak disayang orang tua. Sungguh kasihan. Memiliki orang tua yang lengkap, tapi diasuh oleh pembantu. Jangankan untuk mengantar dan menjemputmu. Bicara denganmu saja ayahmu pasti tak sudi. Tragis!”
Titan langsung berpaling meninggalkan seulas senyuman terindah untuk Naya. Andai saja sang ayah tak ada di sekolah, ia benar-benar bisa bertindak lebih jauh dari sekedar meninju orang yang mengganggunya. Kalau ia kesal, tak segan ia bertindak kasar. Ia kurang bisa mengendalikan emosinya. Sudah banyak orang yang ia buat babak belur dan patah tulang karena mamancing emosinya.
Titan mempercepat langkahnya menuju mobil sang ayah yang terparkir di bawah pohon mangga. Ia membuka pintu dan langsung masuk. Sang ayah telah berada dalam mobil sejak tadi. Sekilas ia memandang ke arah putrinya. Namun tak ada sesuatupun yang ia tanyakan, melihat putri cantiknya tampak murung dengan rambut yang tergerai acak-acakan. Mobil langsung ia jalankan.
Sepanjang perjalanan Titan sengaja terus diam sebagai ungkapan protes kepada ayahnya mengenai sesuatu hal. Namun semakin ia diam, tak ada respon apapun dari laki-laki itu.
Suherman. Itulah nama laki-laki yang selama 17 tahun ini menjadi ayah Titan. Usianya baru menginjak 42 tahun. Perawakannya tinggi, tegap, bugar, dan cukup atletis. Perutnya tidak buncit seperti kebanyakan laki-laki dewasa yang telah hidup mapan. Seandainya ia masih muda, mungkin ia tidak jauh menawan dari Nicolas Saputra. Sayangnya dia telah sedikit tua. Sehingga guratan keriput mulai terlihat di wajahnya.
Sewaktu muda, Suherman pernah masuk akademi militer. Namun entah karena alasan apa, ia keluar dari akademi militer setelah tiga semester ia bertahan. Kemudian ia melanjutkan kuliah di UI mengambil jurusan Psikologi. Di kampus UI itulah Suherman bertemu dengan Ana Marina—ibu Titan—yang saat itu menjadi mahasiswi jurusan kedokteran. Setidaknya seperti itulah yang pernah Titan dengar dari ibunya.
Ibu... ya! Ibu. Sebuah panggilan yang Titan rindukan selama 6 tahun ini. Ya! Ibunya meninggal ketika ia kelas 5 SD. Ayahnya bilang karena kanker. Kanker... penyakit yang dulu sangat menyeramkan dalam bayangan Titan. Monster jahat yang tega mengambil ibu yang sangat ia sayangi. Tapi sekarang ia telah jauh mengerti. Bahwa nantinya semua orang pasti akan mengalami mati. Hanya waktunya saja yang berbeda. Ia telah belajar untuk mengikhlaskan kepergian ibunya. Meski sesekali kerinduan kepada sosok seorang ibu menggelayut dalam hatinya.
Keadaan masih hening. Titan mulai tak nyaman.
”Bisakah Ayah berhenti mengantar dan menjemputku di sekolah.” kesal karena tidak ada respon, akhirnya Titan bersuara juga.
”Ya. Ini terakhir kalinya.” ujar sang ayah singkat.
Titan terbelalak mendengar ucapan ayahnya. Ia memandang lekat wajah seorang ayah yang selama ini selalu siap siaga menemani dan menjaganya. Tidak biasanya sang ayah merespon baik permintaanya. Bahkan sekalipun tidak pernah. Ia adalah ayah yang otoriter, tak pernah mau mendengarkannya. Hanya larangan, larangan, dan larangan yang selalu Titan dengar. Ada apa kali ini?
* * * * *

”Apa!? Pindah... ?”
Titan membelalakkan matanya. Kata-kata sang ayah memberikan semacam cambukan di hatinya. Ia gamang dan masih belum percaya.
Herman tak bersuara. Ia tetap sibuk mengaduk kopi pahit kesukaannya. Sedikitpun tak ia sempatkan untuk melirik putrinya yang sudah tidak berselera makan karena pernyataannya yang begitu mendadak.
Titan masih lelah. Baru beberapa menit ia sampai di rumah setelah ujian akhir semester yang mendebarkan. Saat ia menikmati makan siang, tiba-tiba sang ayah melontarkan kata-kata yang membuatkan semakin kesal. Ia membiarkan makanan yang masih tersisa di piringnya. Matanya mulai memerah.
”Kali ini kemana?”
”Habiskan makan siangmu dan segeralah berkemas. Nanti malam kita akan berangkat.” ujar Herman.
Mata Titan semakin merah membara. Sendok yang ada di tangannya ia genggam erat hingga bengkok. Ia kesal dengan ayahnya. Pasti selalu seperti ini jadinya. Ayahnya selalu mengambil keputusan sendiri tanpa diskusi. Tak pernah menanyakan apakah ia setuju atau tidak, apakah ia suka atau tidak. Keputusannya adalah mutlak.
”Aku ingin tetap di sini!” kata Titan dengan nada yang sedikit meninggi.
Herman membalikkan tubuhnya, memandangi Titan yang masih duduk menahan amarah. ”Kau ingin mendurhakai wasiat ibumu?” katanya kemudian.
Ucapan sang ayah membuatnya tak berdaya. Tiba-tiba terlintas saat-saat terakhir sebelum ibunya meninggal.
“Apapun yang terjadi, patuhilah ayahmu.”
Itulah kata-kata terakhir yang terucap dari sosok manusia lembut, ibunya. Kata-kata itu selalu terngiang dan tak pernah ia lupakan sejak lima tahun yang lalu. Tak pernah sekalipun ia membantah ayahnya meskipun banyak hal yang tak sesuai keinginannya. Ia selalu mencoba mengabaikan perkataan negatif teman-temannya, mengabaikan rasa malunya, dan mengabaikan perasaannya demi melaksanakan wasiat ibunya.
Titan menarik napas panjang, ia berdiri menghampiri sang ayah.
”Aku tidak akan pernah mengabaikan pesan ibuku. Tapi... Setidaknya sekali ini... ijinkan aku melihat indahnya Pensi malam ini. Sebentar saja... sebelum aku aku benar-benar pergi meninggalkan kota ini.” bujuk Titan sembari menunjukkan ekspresi wajah penuh harap pada seorang ayah yang tepat berada di depannya.
”Rapikan meja makan kalau kau sudah selesai.” kata Herman seraya menyeruput kopi pahitnya dan berjalan pergi.
Titan langsung menghalangi langkah sang ayah, ”Apakah aku tidak boleh menjadi remaja yang normal? Aku butuh bergaul... aku butuh teman.... tidakkah ayah mengerti?”
”Kau tidak membutuhkan semua itu.” ujar sang ayah enteng.
”Aku butuh! Sampai kapan aku harus terus hidup kesepian dalam kesendirian, tak ada seorangpun teman!?” seru Titan. Matanya kembali memerah. Napasnya tersengal-sengal karena kelelahan.
”Sendiri... itu yang terbaik.”
”Aku... adalah hal termalang yang pernah ada!”
“Aah….”
Titan menjadi tak terkendali. Kemarahannya memuncak. Ia menendang meja makan hingga seluruh benda yang ada di atasnya berhamburan dan jatuh berkeping-keping. Matanya yang merah membara penuh amarah menatap tajam ke arah sang ayah, seakan ia ingin memangsanya.
”Kendalikan dirimu.” ujar sang ayah sembari tetap tenang.
”Ini bukan mauku!”
Secepat kilat Titan meloncat menerobos jendela kaca dan terjun ke bawah. Kaca jendela pecah berkeping-keping. Herman langsung melongok ke luar jendela. Titan sudah tak terlihat. Di dinding terdapat bekas seperti cakaran yang cukup dalam. Bekas cakaran kuku Titan.
Meskipun hal ini bukan pertama kali terjadi, namun Titan selalu membuat Herman spot jantung. Ini kesepuluh kalinya terjadi hal yang sama. Semenjak Titan mendapatkan menstruasinya yang pertama di usia 13 tahun, emosinya semakin tak terkendali. Semakin dewasa, ia kian menjadi-jadi. Seperti kali ini. Tak ada yang bisa Herman perbuat ketika gadis kecilnya sudah memakai kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya.
Sepenuhnya ia menyadari, putrinya berbeda dengan gadis remaja lainnya. Putrinya istimewa, ia memiliki kekuatan yang tak dimiliki orang lain. Kekuatan besar yang bersemayam di dalam tubuh Titan, yang mengalir dalam darahnya. Kekuatan besar yang akan membahayakan jika tidak bisa dikendalikan. Kekuatan yang tak dapat diusir maupun dimusnahkan, kecuali pemilik kekuatan itu musnah. Kekuatan itu telah bersatu dengan DNA Titan.
by: momoy dandelion

Kamis, 30 September 2010

UNDER THE TREES

Bagian IV
SEBUAH STATUS

Sore telah menjelang ketika anak-anak DKK masih menyibukkan diri di basecamp, ruang kerja DKK yang terletak di belakang auditorium Fakultas Ekonomi. Sebuah ruangan yang dapat dikatakan cukup besar dan mewah dengan peralatan yang memadahi untuk mendukung kerja mereka.
Sebenarnya anggota DKK bukan hanya lima orang. Total seluruh anggota ada 20 orang. Tapi karena kelima orang itu merupakan pengurus inti yang sering terlibat langsung dalam menghukum orang yang bersalah, sehingga mereka dikenal sebagai DKK.
Orang-orang yang awam kebanyakan mengira bahwa pekerjaan DKK adalah mencari perkara dan menghukum orang-orang yang tak bersalah atau setidaknya salah menurut mereka, tapi tidak salah menurut persepsi kebanyakan orang. DKK memiliki citra jelek di sana. Banyak orang-orang yang telah dihukum dengan cara yang tidak wajar oleh mereka. Ada yang pernah digantung di atas pohon, ada yang diceburkan ke dalam kolam lumpur, ada yang pernah dibakar tasnya, dipotong rambutnya, bahkan ada yang pernah dipendam setengah badan di kolam pasir yang ada di taman selama setengah hari penuh. Tak ada alasan yang jelas atas kesalahan mereka. Apapun yang ditetapkan DKK, itulah hukum. Pihak universitas tak bisa turun tangan, karena DKK merupakan organisasi yang berdiri sendiri. Selain itu, para petinggi DKK merupakan anak dari para penyumbang dana yang sangat berpengaruh, sehingga semakin memantapkan keberadaan DKK.
Apa yang tampak di permukaan tak selalu benar. Begitulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kinerja DKK. Meskipun mereka memiliki imej jelek di mata para mahasiswa, tapi mereka tak pernah berhenti untuk terus bekerja mewujudkan keamanan kampus. Hanya saja cara kerja mereka yang sering memakai kekerasan dan tidak mau menjelaskan alasan vonis bersalah mereka. Itulah yang menyebabkan banyak orang salah paham dan banyak yang membenci mereka.
Banyak kasus yang telah ditangani DKK yang tidak sepopuler kasus-kasus penghukuman tanpa alasan yang jelas. Kerja terbesar yang pernah mereka lakukan adalah memutus rantai perdagangan narkoba di kalangan mahasiswa. Setiap minggu, biasanya mereka melakukan razia mendadak terhadap para mahasiswa. Mahasiswa yang terbukti membawa barang terlarang, akan segera diproses lebih lanjut oleh pihak universitas.
Selain itu, mereka juga sering merampas minuman keras dari tangan para mahasiswa yang nekad membawa minuman itu ke kampus. Tak jarang ada perkelahian. Tapi yang benar, tetap DKK.
Anggota DKK terbagi menjadi empat kelompok dalam melaksanakan tugasnya, yaitu kelompok observasi, identifikasi,analisis, dan eksekusi. Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang. Kelompok observasi bertugas mengamati setiap gerak-gerik mahasiswa. Ketika ada tanda-tanda yang mencurigakan, data orang tersebut akan dilaporkan kepada kelompok identifikasi yang akan membuntuti tersangka hingga menemukan bukti kesalahannya. Bukti yang didapatkan akan diproses lagi oleh tim analisis, yang juga akan mencari bukti lain untuk lebih menguatkan, kemudian memutuskan bersalah atau tidaknya tersangka. Jika terbukti bersalah, kelompok eksekusi akan memvonisnya denganhukuman yang dianggap setimpal dan diharapkan memberikan efek jera kepada pelakunya.
Kelompok eksekusi adalah Candra, pandu, sambu, Restu, dan Oris. Kelimanya anak pengusaha kaya yang selalu terlihat eksklusif di mata teman-temannya. Banyak yang menganggap mereka bertindak seenaknya karena kedudukan orang tua mereka sebagai penyumbang dana di universitas itu. Eksekusi bagi yang melihatnya adalah sebuah mainan untuk mereka, bukan untuk kepentingan kampus.
Meskipun DKK ada 20 orang, namun sore itu hanya ada lima orang dari kelompok eksekusi. Tidak ada tugas yang mereka kerjakan, selain bersantai seperti yang biasa mereka lakukan. Ada banyak fasilitas yang dapat mereka nikmati di dana. Kulkas dua pintu selalu dipenuhi makanan. Tempat tidur yang empuk siap memanjakan mereka. Televisi layar datar, laptop, dan PS siap menghibur mereka setiap saat. Segala fasilitas yang ada murni dibiayai oleh orangtua mereka berlima.
Sambu dan Restu sedang asyik bermain PS. Oris dan Candra duduk santai di sofa sambil menonton TV. Sementara Pandu hanya duduk diam seperti yang biasa ia lakukan.
“Boy, makanlah. Sejak siang kau belum makan.” ujar Candra kepada adiknya.
”Aku belum lapar. Nanti saja saat makan malam bersama di rumah.”
”Malam ini ayah dan ibu tidak akan pulang. Mereka masih ada di Singapura.”
Pandu terdiam. Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi. Telepon dari ibunya.
”Ibu.” katanya dengan nada lirih.
”Nanti malam ayah dan ibu tidak bisa makan malam bersama kalian. Masih ada urusan yang harus diselesaikan ayahmu di Singapura. Jangan sampai telat makan, ya. Patuhlah kepada kakakmu.” nasihat ibu.
Pandu kembali terdiam. ”Ibu, aku sudah besar. Tidak boleh terus mengandalkan kakakku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.” katanya dalam hati.
”Pandu, kau mendengarkan ibu?”
”Eh, iya. Aku akan mengingat nasihat ibu.” balasnya.
Beberapa detik kemudian sambungan telepon terputus. Dari arah pintu, muncullah delapan orang tamu tak diundang yang langsung membuat darah Oris mendidih ketika melihat kehadiran mereka. Kedelapan orang itu tersenyum sinis kepada kelima DKK. Oris dan teman-temannya langsung bangkit untuk menyambut kedatangan tamu tak diundang itu. Oris berdiri di barisan terdepan, berhadapan langsung dengan ketua rombongan, Ferdian. Ia melirik ke samping Ferdian. Ada seorang gadis cantik yang sedang menundukkan kepalanya, Meka.
“Oris, kau masih hidup?” ejek Ferdian dengan senyuman mengejeknya. “Aku kira kau akan bunuh diri setelah kehilangan harga diri dan dicampakan Meka.” tambahnya. Ia sengaja menggandeng mesra Meka untuk lebih membuat Oris emosi.
Dengan perasaan marah meledak-ledak di dada, Oris memaksakan untuk tersenyum. “Aku telah menemukan harga diriku kembali. Ternyata tidak hilang, hanya terselip di antara buku-buku pelajaran.”
”Kau sudah bisa bercanda sekarang?” guman Ferdian.
”Pergilah dari sini. Sebentar lagi kantor ini tutup. Jika ingin mengajukan berkas pengaduan, bisa datang lagi kapan-kapan.”
Ferdian menatap keempat orang di belakang Oris. ”Aku salut kalian masih bisa bertahan. Tapi sayang, kalian tetap saja pecundang di mata orang-orang.”
”Bukankah kau yang pecundang? Dendam terhadap kami, tapi memakai tangan orang lain untuk membalaskannya.” sahut Candra.
Ferdian menoleh ke arah Candra. ”Oh, Si Putih sudah bisa bicara? Sepertinya rasa sedih terhadap kematian kekasih tercintamu sudah reda.”
”Brengsek!” maki Candra seraya melayangkan satu bogem mentah di ujung bibir Ferdian.
Suasana memanas. Teman-teman Ferdian hampir maju membalas, namun dicegah oleh Ferdian. Ferdian tersenyum. Dengan ujung jempolnya, ia mengusap darah yang keluar di bibirnya. Ia melihat Candra yang masih tampak emosi.
“Kalian semua memang sangat menyedihkan. Kalian tak lebih dari lumpur kotor yang sangat menjijikan.” ejek Ferdian.
Candra hampir maju, tapi Oris mencegahnya.
“Kenapa? Pukullah kalau kau mau. Bukankah biasanya kau selalu di depan untuk membela orang yang belum jelas statusnya sebagai adikmu?” pancing Ferdian.
”Sialan!” seru Candra.
Perkelahian tak bisa terhindarkan. Namun Pandu tak ikut membantu teman-temannya menghadapi tamu pengacau itu. Ia tetap berdiri mematung. Setiap ada yang akan menghajarnya, langsung ditendang oleh Candra. Setiap kali bertemu Ferdian, ia selalu mempertanyakan tentang dirinya, apakah dia memang benar seorang anak yang terlahir dari hasil hubungan gelap yang sering dikatakan Ferdian. Ayahnya orang Inggris. Seharusnya ia memiliki kulit putih seperti ayahnya. Tapi kulitnya sawo matang, tak seperti kakaknya. Iapun tak menemukan kemiripan dirinya dengan kakaknya.
”Pandu! Apa yang sedang kau lakukan?” tegur Sambu seraya terus beradu pukul dengan lawannya.
”Tentu saja sedang memikirkan siapa sebenarnya ayahnya.” ledek Ferdian.
”Tutup mulutmu! Dia adikku dan selamanya adalah adikku.” bentak Candra yang tidak rela Ferdian mengejek adiknya. Dengan membabi buta, ia mengadu tinju dengan Ferdian.
”Kau hanya tidak bisa menerima kalau nantinya fakta menunjukkan kalau dia bukan adikmu. Mana ada dua saudara yang sangat berbeda.” ujar Ferdian.
”Keberadaannya sebagai adikku adalah fakta. Tidak ada yang bisa merubah takdir itu.”
Pandu terus mendengar perdebatan dalam perkelahian itu. Adu pukul masih berlangsung. Ia tetap diam. Ucapan Ferdian masih terpikir olehnya. Dengan gontai, ia berjalan meninggalkan arena pertarungan. Candra sempat melihat adiknya pergi. Rasa marahnya terhadap Ferdian semakin membuncah. Dengan keras ia membanting tubuh Ferdian, kemudian memukulnya berkali-kali hingga Ferdian terkapar tak berdaya.
Candra mengangkat kerah leher Ferdian, “Kenapa kau begitu suka menggangu orang!” bentaknya. “Belum puaskah kau merendahkan kami? Apa maumu sebenarnya!?” teriaknya dengan sorotan mata penuh emosi. Kerah baju Ferdian ia remas dengan kuatnya.
Dalam keadaan babak belur, Ferdian masih bisa tersenyum. “Mauku? Aku ingin kau benar-benar hancur seperti apa yang telah kau lakukan padaku. Kau telah merebut Safar dariku dan karena kau, Safar meninggal!” kata Ferdian dengan tatapan angkuh. ”Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!” serunya seraya menepis tangan Candra dari lehernya.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia bangkit, mengajak teman-temannya mengakhiri perkelahian dan pergi meninggalkan ruang kerja DKK. Candra terpaku di tempatnya. Ia sama sekali tak menghalangi Ferdian pergi.
Candra, Sambu, Restu, dan Oris tak luput dari pukulan. Muka mereka lebam-lebam. Tubuh mereka menampakkan bagian-bagian yang membiru. Dengan napas masih terengah-engah, mereka merebahkan diri di sofa. Sambu mengambilkan minuman dari kulkas untuk mereka.
”Huh! Seru juga permainan hari ini. Tapi wajahku tidak tampan lagi sekarang.” ujar Restu sembari melihat wajahnya yang biru-biru di cermin. Dengan telaten ia merapikan rambutnya yang acak-acakan.
”Seperti banci saja!” komentar Oris.
”Orang jelek dilarang komentar!” sergah Restu.
Oris hampir menonjok Restu jika tidak ditangkis Candra.
*****
Pandu duduk menunduk. Tepat di hadapannya ada Candra yang terus memandanginya. Suasana hening. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan tepat pukul sebelas malam. Begitu heningnya suasana hingga bunyi jarum jam terdengar begitu jelas.
”Apa kau akan terus seperti ini?” tanya Candra. Tak ada respon dari Pandu. ”Hanya mendengar gurauan seperti ini saja kau sudah terpuruk.” lanjutnya. Tetap tak ada tanda-tanda Pandu akan bersuara. ”Apa kekuranganku hingga kau meragukan aku sebagai kakakmu?”
”Seharusnya kau yang meragukanku. Aku tak memiliki kepantasan untuk menjadi adikmu.” lirih Pandu.
”Sekarang balikkan pertanyaan itu untukku. Apa aku pantas menjadi kakakmu? Kau begitu jenius. Kau dua tahun lebih muda dariku, tapi sudah berada di tingkat yang sama denganku. Bahkan nilaimu lebih baik dariku. Mungkin justru aku anak angkat itu. Apa kau juga berpikiran sama?”
”Tidak.”
”Terserah apa kata orang tentang kita. Kau tak perlu peduli. Kalau kau sakit, aku akan merasa lebih sakit.”
”Maaf.”
”Kelak jika ada orang yang bertanya tentang statusmu, katakan dengan lantang bahwa kau adalah Pandu Sebastian, adik Candra Sebastian, putra kedua keluarga Sebastian. Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu untuk meragukan statusmu. Termasuk warna kulitmu yang selalu membuatku iri.” tegas Candra.
Pandu tersenyum, ”Seharusnya aku yang iri pada kulit putihmu yang menawan.”
”Siapa bilang menawan? Aku bahkan sudah berkali-kali pergi ke pantai hanya untuk membuat kulitku semanis dirimu. Apa kita bertukar kulit saja?”
Pandu kembali tersenyum mendengar kekonyolan kakaknya. Dia sosok kakak yang selalu membelanya. Ia berjanji kepada dirinya sendiri, tak akan mengungkit-ungkit statusnya. Walau apapun yang terjadi, Candra akan tetap menjadi kakaknya.
*****

UNDER THE TREES

Bagian III
PANGERAN
DI TENGAH GUYURAN HUJAN

Pagi menjelang. Inilah hari baru yang ditunggu-tunggu Soli. Hari pertama masuk kampus baru. Kampus yang menurut Yorin menyeramkan dengan keberadaan DKK. Ia tidak sabar melihat, sebenarnya seperti apa DKK, hingga semua orang takut kepada mereka. Universitas Tunas Bangsa. Sebenarnya bukan universitas elit itu yang diinginkan Soli. Bahkan dia sudah merencanakan kepindahannya ke kampus biasa. Tapi ayahnya memberi pilihan yang sulit, boleh pindah asalkan di kampus yang cukup terkenal atau tidak pindah sama sekali. Akhirnya dia menurut dan memilih Universitas Tunas Bangsa sebagai jalan terakhir.
Yorin juga turut andil dalam keputusan Soli. Dia mendesaknya untuk pindah ke sana karena menurutnya masih banyak orang biasa yang kulian di sana, meskipun tetap saja mayoritas adalah anak-anak pengusaha. Selain itu, rasa penasarannya terhadap DKK yang sangat kuat. Berkuliah di tempat yang dikuasai sekelompok orang mungkin akan melahirkan cerita tersendiri. Selama ini ia sudah merasakan rasanya sebagai orang yang dianggap penting di sekolah. Kini gilirannya menjadi bukan siapa-siapa.
Soli menarik napas panjang. Ia mengembangkan senyuman. Di hadapannya kampus megah berdiri kokoh menunjukkan kekuasaannya. Dalam hati ia bertekad untuk meruntuhkan keangkuhan gedung itu.
”Selamat pagi.” sapa Yorin yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
”Selamat pagi.” balas Soli.
”Sudah siap?” tanya Yorin seraya merangkul teman kerjanya itu. Soli hanya mengangguk dengan senyuman. Kemudian mereka berjalan beriringan dengan langkah riang.
”Hari pertama kuliah harus diawali dengan kegembiraan.” kata Yorin menyemangati. Soli hanya bisa membalas kata-kata temannya dengan terus tersenyum. Tiba-tiba Yorin berhenti.
”Kenapa?” tanya Soli penasaran.
”Aku melupakan sesuatu.” jawabnya. ”Tunggu sebentar, aku ada urusan!” serunya sambil berlari cepat dengan spontan. Soli sampai tak berkedip melihat tingkah temannya itu. Dia memang selalu ceroboh.
Akhirnya Soli hanya bisa menunggu, karena tak tahu dimana tempat ia akan belajar. Yorin yang tahu. Beberapa mahasiswa terlihat hilir mudik di depannya, saling merasa asyik dengan urusan masing-masing. Dandanan mahasiswinya sangat modis dan cantik ala anak-anak kaum elit. Soli melihat dirinya sendiri dan membandingkan dengan gadis-gadis itu. Sangat jauh. Tapi dia hanya tersenyum. Ia lebih senang dengan penampilannya sekarang. Penampilan sederhana ala kadarnya seperti rakyat jelata.
Beberapa menit tak kunjung melihat kedatangan Yorin, ia mulai bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan sendiri di kampus yang belum ia kenali. Tempat yang ia tuju adalah taman. Tamannya cukup rindang dengan cukup banyak pepohonan. Pohon-pohonnya lumayan bagus untuk dipanjat. Ada pikiran iseng yang menyusup dalam benak untuk Soli untuk menjadikan taman itu sebagai basecamp-nya.
Ketika sedang duduk di bangku taman sambil menikmati kesejukan udara pagi, pada jarak sepuluh meter di depannya ada lima orang tampan yang sedang tertawa riang sambil bercanda. Terus terang dalam hati Soli mengakui mereka semua mempesona. Ada salah satu yang paling membuatnya terpesona, seseorang yang sepertinya telah ia kenal.
”Dug!!!” jantung Soli seakan tersentak. Salah satu dari mereka adalah Pangeran, orang yang terakhir kali ia temui di pesta satu minggu yang lalu.
Ia mencubit pipinya, takut apa yang ia lihat salah. Tapi tetap saja orang itu seperti Pangeran. Ia tersenyum.
”Benarkah aku satu kampus dengan Pangeran itu? Seandainya benar, aku akan mengajaknya memanjat pohon setiap hari.” guman Soli sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka memberikan tatapan tajam ke arahnya. Tatapan yang dipenuhi kebencian, kemarahan, dan dendam yang menyala-nyala. Senyum Soli berubah getir. Tatapan itu menakutkannya. Kemudian disusul tatapan-tatapan aneh dari yang lain. Sekilas ia lihat Pangeran melihatnya dengan ekspresi heran.
Orang-orang itu berjalan mendekati Soli sambil melemparkan tatapan aneh. Pangeran tetap mematung di tempatnya. Suasana menjadi tegang. Langit di hati Soli berubah muram, seram, dengan petir menyambar-nyambar. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan tak tahu mengapa ia menjadi diperhatikan.
Mereka semakin mendekat, ”Dug!” jantung Soli kembali tersentak. Dengan jelas ia bisa melihat salah satu dari mereka memiliki kucir panjang berwarna biru.
”DKK!” serunya dalam hati. Seluruh pikirannya kacau. Rasanya hari ini akan menjadi hari terburuk baginya. Ia tetap mencoba bersikap tenang meskipun sebenarnya ia sangat gugup dan khawatir. Ia merasa ceroboh karena tidak mengingat-ingat perkataan Yorin tentang DKK kemarin. Walaupun salah paham, DKK tidak mungkin akan melepaskan orang yang dianggap menghina martabat mereka.
”Kenapa kau menertawakan kami?” tanya anak berkucir yang ia tahu bernama Candra itu. Meskipun tampan, tapi tetap saja terlihat menakutkan.
Soli menunduk, ”Seram sekali. Pasti dia sangat marah. Kulit wajahnya yang putih sampai berubah menjadi merah. Seperti kepiting rebus. Ah, tidak. Seperti ikan pari panggang.” Lirihnya.
Candra mendongakkan kepala Soli, seperti mau mencekik leher gadis itu. Soli terperanjat.
”Kau tidak mau menghargai orang lain bicara?” katanya dengan tatapan yang semakin tajam.
”Tolong lepaskan.” pinta Soli. Namun Candra tak mau mendengarkan permintaannya.
”Kenapa kau menertawakan kami? Kenapa kau memandangi kami? Apa menurutmu kami seperti badut?” katanya lagi.
”Aku tidak menertawakan kalian.” kilah Soli. Candra melepaskan tangannya dari leher Soli.
”Apa kau anak baru? Sepertinya aku belum pernah melihatmu di sini?” tanya salah seorang yang memakai syal di leherrnya. Soli menebak dia adalah Restu, orang yang sangat suka menjahili anak baru.
”Oh, anak baru. Sepertinya perlu diberi pelajaran pertama agar dapat beradaptasi dengan kampus kita tercinta.” sahut pria berkacamata yang bernama Sambu.
Mereka semua tersenyum seperti orang yang telah mempecundangi lawan.
“Ikut kami!” pinta Oris seraya menarik tangan Soli dengan kasarnya.
Soli begitu terkejut hingga tak bisa berkata-kata. Ia berusaha keras untuk melepaskan cengkeraman Oris, namun tak bisa. Oris terlalu kuat dan tampak seperti algojo. Ia melirik ke arah Pangeran, berharap ia mau menolongnya. Tapi Pangeran itu hanya tertunduk, bahkan tak mau melihat perlakuan aneh DKK di hari pertama ia kuliah.
”Dia bukan Pangeran. Seandainya ia pengeran, ia pasti sudah akan menolongku. Pangeran tidak akan membiarkanku menangis.” katanya dalam hati sambil melihat sosok yang mirip Pangeran itu dengan penuh kekecewaan.
Ia tidak bisa melawan. Oris terus menariknya, hingga ia terpaksa harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkahnya yang cepat. Ia merasa seperti tersangka yang telah divonis bersalah dan akan segera dibawa untuk di eksekusi. Beberapa orang yang melihat memandanginya sambil berbisik-bisik. Ia tak tahu apa yang dipikirkan mereka semua. Tak ada satupun yang mau menolong atau melakukan sesuatu.
”Soli!” teriak Yorin yang sedang berdiri di tempat terakhir mereka bertemu.
”Yorin, mereka memperlakukanku dengan kasar.” adu Soli.
Mereka terus menyeret Soli ke tempat eksekusi. Berkali-kali Soli meminta agar Oris melepaskan tangannya. Tapi dengan angkuh dan dingin, ia diam, tak merespon permintaan itu. Candra menunjukkan muka bengisnya dalam diam. Sementara Restu dan Sambu tertawa kecil setiap kali memandanginya.
Sesampainya di halaman kampus, tepat di bawah tiang bendera, mereka berhenti. Empat orang itu berlagak seperti orang yang akan mengintrogasinya. Banya orang yang memperhatikan mereka, namun tak ada yang berani mendekat. Pangeran belum juga tampak. Padahal Soli masih berharap dia akan membelanya.
”Kau tahu siapa kami?” tanya Candra.
”Apa kalian Dewan Keamanan Kampus di sini?” Soli balik bertanya. Mereka tersenyum.
”Benar.” Balas Candra. “Kau tahu, apa peraturan-peraturan DKK di kampus ini? Apa kau tahu, kau telah melanggar salah satu aturan itu?” lanjutnya.
”Aku memang sempat mendengar ada larangan untuk memandangi kalian. Tapi aku tidak tahu kalau kalian adalah DKK. Aku minta maaf seandainya aku membuat kalian salah paham.”
”Berani sekali membuat kami salah paham. Kau ingin mempermainkan kami!?” gertak Oris dengan muka masamnya. ”Ambilkan tali!” pintanya.
Restu langsung mengeluarkan gulungan tali dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Oris. Soli berfirasat buruk. Hari ini mungkin akan benar-benar menjadi hari terburuknya.
”Ikat dia di tiang.” pinta Candra.
Soli tersentak. Restu dan Sambu memegangi tangannya, sementara Oris mengikatkan talinya di badan Soli.
”Apa yang kalian lakukan? Apa ini cara kalian menyambut orang baru?” protes Soli sembari menggeliat-geliatkan tubuhnya untuk melepaskan diri. Tapi Oris mengikatnya dengan kencang.
”Benar sekali. Aku sangat suka memberikan penyambutan spesial kepada setiap orang baru.” balas Restu dengan senyuman yang membuat Soli merasa kesal.
Keempat orang itu memandangi tahanan mereka terikat di tiang bendera dengan senyuman penuh kepuasan. Soli hanya pasrah. Ia bukan super woman yang sering muncul di TV. Meskipun lihai memanjat pohon, ia sama sekali tak bisa bela diri untuk menghajar orang-orang itu. Jangankan untuk menghajar mereka, bicara keras dengan kata-kata kasar saja dia tak bisa.
”Apa hanya karena aku memandangi kalian, sehingga kalian mengikatku di sini? Apa tidak boleh sekedar memperhatikan kalian?”
”Tidak boleh!” tegas Oris.
”Pandangan dan senyumanmu membuat aku merasa terhina.” terang Candra dengan muka masih masam. ”Apa kau menganggap kami badut yang layak untuk dilihat dan ditertawakan? Kau tidak pernah berpikir, kalau tindakanmu bisa menyinggung perasaan orang? Adikku bahkan tak mau melihatmu karena sangat tersinggung oleh tingkah lakumu.”
Soli terperanjat mendenggar kata-kata Candra. Mungkin benar, orang itu adalah Pandu, adik Candra. Kulit tubuhnya sawo matang khas orang Indonesia. Berbeda dengan Candra yang berkulit putih. Soli kini menyadari kalau kakak beradik itu memang sangat berbeda, tapi sama-sama aneh. Anak-anak DKK menang aneh, karena tidak suka dipandangi orang. Apalagi Pandu yang begitu mudah tersinggunya ketika menyadari ada orang yang memperhatikannya.
”Mungkin dia memang Pandu, bukan Pangeran.” bisiknya dalam hati. “Kalau begitu sampaikan maafku padanya. Maaf, kalau aku telah membuatnya tersinggung.” kata Soli.
”Anggap saja keberadaanmu di sini sebagai tanda permintaan maafmu sekaligus introspeksi diri. Kau harus terus di sini sampai tengah hari nanti. Jangan mengharap pertolongan, karena tak ada yang akan menolongmu.” tegas Candra.
”Bersyukurlah, rambut panjangmu yang kusut itu tidak kami pangkas habis. Anggap saja sebagai dispensasi perkenalan dari DKK terhadap anak baru.” ujar Restu.
”Sekali lagi membuat kesalahan yang sama, aku tak bisa menjamin rambutmu akan selamat.” tambah Sambu.
”Belajarlah lebih banyak tentang peraturan kampus. Jangan pernah melanggarnya jika tidak mau berurusan dengan kami.” timpal Oris. “Selamat berintrospeksi.” Tambahnya.
Keempat orang itu pergi dengan senangnya. Sementara Soli hanya bisa menerima nasibnya. Ia tahu, tidak akan ada orang yang akan berani menolongnya. Di bawah kakinya ada tulisan ”DILARANG MELEPASKAN TAHANAN DKK”. Baru kali ini ia menemui kampus yang aneh dengan peraturan yang aneh dan orang-orang yang aneh pula. Ia tersenyum walau getir. Ia marah, tapi tak tahu cara melampiaskan kemarahannya. Meskipun sedikit bandel, tapi ia tak pernah bersikap atau berkata-kata kasar. Ibunya selalu mengajari untuk bersikap lembut dan bertutur kata yang santun. Semarah apapun, ia tetap mencoba untuk berkata yang sopan. Padahal segala caci maki sudah membuncah di dadanya.
*****
DKK tertawa riang setelah menyelesaikan satu pekerjaan yang menyenangkan. Candra menepuk pundak Pandu yang masih terdiam di taman. Ia merangkul adik kesayangannya itu.
”Boy, seharusnya kau melihat ekspresi gadis itu sekarang. Pasti kau akan tertawa seperti kami.” selorohnya. Namun Pandu tetap diam.
”Gadis itu menitipkan maaf untukmu.” kata Sambu.
”Kenapa diam? Apa aku harus memberikan pelajaran tambahan untuk anak itu agar dapat membuatmu kembali bersemangat? Hey, hargailah sedikit usaha kakakmu ini untuk membuatmu tersenyum.” respon Candra. Tapi Pandu justru melepaskan tangan kakaknya dari pundaknya, kemudian pergi begitu saja.
”Hey, Boy, mau kemana?” tanya Candra.
“Masuk kelas. Sebentar lagi ada kuliah. Bukankah kalian juga ada kuliah?” balas Pandu sembari terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
”Huh! Adik kesayanganmu itu memang selalu aneh. Apa tidak ada hal yang bisa membuatnya tertawa?” ujar Restu.
”Jangankan tertawa, tersenyum saja jarang.” kilah Sambu.
”Hey, aku tidak suka kalian mengkritik adikku.” tegas Candra dengan nada serius. Sambu dan Restu terdiam.
”Sudahlah, Pandu itu tidak aneh. Mungkin kita saja yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan dia. Meskipun kita dan Pandu berada di tingkat yang sama, tapi kita harus tetap ingat, usianya terpaut dua tahun lebih muda dari kita karena dia mengikuti kelas akselerasi. Jadi pemikirannya masih seperti anak kecil walaupun pengetahuannya setingkat dengan kita. Ibaratnya dewasa sebelum waktunya. Karena takut dikatakan sebagai anak kecil, makanya dia lebih banyak diam.” terang Oris.
Teman-temannya melongo mendengarkan penjelasannya yang agak panjang dan melebar itu.
”Bukankah kau mengambil jurusan Manajemen Bisnis. Dari mana mendapatkan ilmu psikologi?” selidik Sambu.
”Oh, dulu kekasihku anak psikologi. Untuk mengakrabkan diri, aku sempatkan membaca buku psikologi.” jawabnya.
Ketiga temannya hanya bisa saling pandang. Entah mengapa Oris selalu mengunggul-unggulkan mantan kekasihnya. Padahal dia telah dikhianati, hingga sampai saat ini belum bisa menyukai orang lain lagi. Meka, cinta pertama dan kekasih pertamanya itu mencampakannya demi orang yang pernah menghina Oris.
*****
Langit tiba-tiba menjadi sangat mendung. Soli masih terikat di tiang bendera. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu waktu hukumannya habis. Hari ini sudah dapat dipastikan ia tidak bisa mengikuti kuliah perdananya. Dari arah depan, terlihat Yorin berlari terburu-buru ke arahnya.
”Bagaimana mereka bisa melakukan hal ini kepadamu?” tanyanya dengan ekspresi kecemasan di wajahnya.
Soli tersenyum, ”Seperti yang pernah kau katakan, hanya dengan memandangi mereka, aku bisa terikat di sini.”
”Hey, bukannya kesal dan sedih malah tersenyum. Seharusnya kau tetap menungguku di sana. Aku sudah memperingatkanmu, jangan bertindak di tempat yang masih asing. Memangnya tadi kau kemana?” lanjut Yorin yang kini berubah marah padanya.
”Maaf, aku tidak bisa menahan diri untuk melihat taman di kampus ini.”
”Terus bagaimana? Aku tidak bisa menolongmu.” ekspresi Yorin berubah gundah.
”Masuklah ke kelas, aku tidak apa-apa di sini. Bukankah sebentar lagi kuliah dimulai?”
Yorin memandangi wajah temannya dengan seksama, ada rasa iba melihat teman baiknya terikat seperti saat ini.
”Langit mendung, bagaimana kalau nanti turun hujan? Bagaimana kalau kau sakit?”
”Aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas.”
”Teman seperti apa aku ini kalau tidak mencemaskan temannya yang sekarang sedang diikat seperti tahanan yang akan dieksekusi!” ujar Yorin dengan kesal karena tak dapat berbuat apa-apa untuk temannya.
”Pergilah sebelum DKK datang. Aku tidak ingin bertambah satu korban lagi. Pergilah.” Pinta Soli dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
Bel tanda perkuliahan berbunyi. Bergegas Yorin langsung berlari pergi dengan membawa kekecewaan terhadap dirinya sendiri karena tak bisa membela temannya. Soli tetap berusaha tersenyum, meskipun sebenarnya ia sangat malu menjadi tontonan hingga rasanya ingin menangis. Betapa aneh keadaannya sekarang. Seperti binatang yang dicancang pada sebuah tiang. Langit yang mendung seperti keadaan hatinya sekarang. Sedih, malu, kesal, dan marah bercampur menjadi satu.
Sementara itu, dari balik kaca jendela ruang perkuliahan di lantai lima, Pandu terus memandangi gadis yang sedang terikat di tiang bendera halaman kampus. Dosen yang sedang menerangkan di depan kelas sama sekali tak ia dengarkan. Pandangannya terus tertuju pada gadis itu. Hasil perbuatan kakak dan teman-temannya itu bukannya membuat ia senang, tapi justru membuatnya iba. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Bukan tanpa alasan ia tak mau menolong gadis itu. Tapi ia sungguh terkejut hingga hampir tak bisa bernapas ketika melihat gadis itu ada di kampusnya. Gadis yang sangat ia kenal. Gadis yang selalu ia temui dengan cara yang unik. Gadis yang bahkan belum ia ketahui namanya meskipun sudah sekitar delapan tahun saling mengenal.
Ia begitu kaget hingga seluruh tubuhnya seakan kaku tak berdaya. Ia hanya bisa mematung melihat kakak dan teman-temannya memperlakukan sahabat rahasianya dengan kasar. Tak mungkin ia terang-terangan membela gadis itu di depan anak-anak DKK yang selalu melindunginya. Mereka bersikap seperti itu kepada gadis itu juga untuk membelannya, seperti yang sering terjadi. Meskipun sebenarnya cara mereka tak membuatnya merasa lebih baik.
Pandu terus melihat ke luar jendela. Gadis itu tampak kecil di matanya. Gadis yang dulu sangat suka menangis karena jatuh dari pohon dan selalu ia beri coklat setiap kali ia menangis itu kini sedang tersiksa di bawah sana. Ingin ia mendekati gadis itu, tapi tak mungkin. Ia masih belum siap mendengarkan apa yang nanti akan dikatakan DKK jika ia menolong gadis itu.
Langit semakin kelam diselimuti awan hitam. Titik-titik hujan mulai turun, lama kelamaan semakin deras. Perasaan Pandu terhenyak melihat hujan mengguyur tubuh gadis yang terikat di tiang bendera. Pikirannya kacau oleh suara-suara yang berasal dari hati dan egonya. Di satu sisi tentu saja ia ingin menolong gadis yang pastinya kini sedang merasa kedinginan itu. Di sisi lain, ia masih belum siap melihat ekspresi wajah teman-temannya jika menfgetahui apa yang dilakukannya.
Guyuran hujan semakin deras. Suara sang dosen juga semakin terdengar keras. Otaknya serasa ingin meledak.
”Brak!” Pandu memaksa dirinya berdiri. Semua orang memandang ke arahnya, termasuk sang dosen.
”Pandu, ada apa?” tanya sang dosen.
Pandu terdiam membisu seperti patung. Ia tak memikirkan kalau ia sedang menjadi pusat perhatian. Dilema dalam pikirannya semakin membuncah. Tanpa berkata apapun, akhirnya ia keluar dari ruang perkuliahan. Semua orang yang berada di sana memandang penuh keheranan dengan seribu tanya di benak mereka. Pandu memang terkenal pendiam. Namun belum pernah dia berlaku kurang sopan dengan keluar kelas tanpa ijin seperi sekarang.
Hujan mengguyur tubuh Soli yang semakin melemah. Rasanya ia sudah tidak tahan dan lebih baik pingsan. Ia merasa pusing. Pandangannya kurang jelas karena hujan begitu deras. Dicobanya menggeliat-geliatkan tubuh, berusaha melepaskan tali yang mengekangnya.
”U huk...huk...!” Soli terbatuk karena ada air hujan yang masuk ke mulutnya. Ia merasa kedinginan. Sudah sekitar sepuluh menit hujan membasahinya, tapi belum ada tanda-tanda akan reda, bahkan semakin deras hujannya.
Soli semakin merasa tak berdaya. Ia prediksikan sebentar lagi ia akan terkapar di tempat eksekusi. Tak ada yang akan datang menolongnya. Semua orang sedang menikmati kehangatan di ruang perkuliahan. Hanya ia, orang aneh yang mau berdiri di bawah guyuran hujan deras. Rasa pusingnya semakin menjadi-jadi. Kepalanya mulai pening.
Ketika keadaan badannya semakin tak menentu, samar-samar ia melihat bayangan seseorang mendekat ke arahnya. Hujan yang deras membuat sosok orang itu tak jelas. Lambat laun sosok orang itu semakin jelas. Dalam keadaan pusing, ia masih bisa mengenali kalau orang itu seperti Pangeran. Seperti ada energi tambahan yang menyusup ke dadanya ketika melihat Pangeran.
Di bawah guyuran hujan, Pangeran menatapnya dengan tatapan iba. Karena terlalu bahagia melihat kedatagan pengeran, Soli tak bisa menahan tangisannya. Ia terisak-isak sama seperti ketika pertama kali bertemu Pangeran ketika ia terjatuh dari atas pohon.
”Kenapa menangis? Bukankah aku sudah ada di sini.” katanya.
Pangeran melepaskan tali yang melilit di tubuh gadis yang masih terisak-isak itu. Ketika tali telah terlepas, tubuh Soli hampir jatuh seandainya tak disanggah Pangeran. Kakinya sangat lemas karena dingin. Kepalanya pusing tapi hatinya merasa sangat gembira meskipun diekspresikan dengan air mata. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Pangeran langsung menggendongnya, membawanya pergi meninggalkan tempat eksekusi. Isak tangis Soli belum mereda seperti hujan yang mengguyur.
”Kali ini aku tak membawa coklat. Berhentilah menangis. Anggap aku berhutang sebatang coklat padamu.” tutur Pangeran.
Soli tersenyum. Ia mengingat kembali masa lalu. Setiap ia menangis, Pangeran selalu memberinya coklat. Tapi setelah dewasa dan ia tak menangis, ia tak pernah mendapat coklat lagi dari Pangeran. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama Pangeran tak memberinya coklat.
”Pangeran....” desahnya lirih sebelum akhirnya ia pingsan dalam gendongan Pangeran. Hujan terus mengguyur mengiringi Pangeran dan Soli.
*****
Hujan telah reda ketika Soli tersadar dari pingsannya. Ia kebingungan, mendapati dirinya telah ada di sebuah ruangan bercat putih dengan selang infus di tangannya. Dipandanginya setiap sudut kamar tempatnya dirawat. Tak ada Pangeran. Padahal ia sangat yakin kalau Pangeran yang telah membawanya ke tempat itu.
Pandangannya beralih ke jendela.masih tampak sisa-sisa embun yang membasahi kaca jendela. Pepohonan di luar sana juga terlihat basah. Langit masih tampak mendung. Soli tersenyum. Betapa bahagia perasaannya saat ini. Pangeran telah menolongnya. Pangeran yang selalu datang di saat ia membutuhkan seorang teman.
”Krek!” terdengar suara pintu dibuka. Soli menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum, seakan tahu kalau orang yang datang pasti Pangeran.
Wajahnya berubah cemberut ketika melihat yang datang ternyata anak-anak DKK. Spontan ia langsung memalingkan pandangannya. Suara-suara sepatu mereka terdengar semakin jelas, semakin mendekat ke arahnya. Soli tetap dalam posisi membelakangi mereka. Perasaan kesal, marah, takut, dan cemas kembali berkecambuk di hatinya.
”Kenapa memalingkan muka? Tidak mau menghormati orang lain?” suara itu telah Soli kenal. Suara Candra Si Ikan Pari.
”Aku tidak mau rambutku dipotong hanya karena aku memandangi kalian. Apa aku salah? Bukankah itu peraturan yang berlaku di kampus kalian?” kilah Soli yang tetap kukuh tak mau menoleh ke arah mereka.
Oris tiba-tiba menduduki kursi di depan Soli. Dia memandangi gadis itu sambil tersenyum-senyum. Tangannya dilipat di dada, membuat Soli semakin kesal.
“Untuk apa kalian datang kemari? Apa ingin kembali mengikat gadis lemah ini di tiang bendera?” keluh Soli sembari terus menatap Oris yang senyumannya tampak sedang mengejeknya.
”Siapa yang menolongmu?” celetuk Candra.
Soli terperanjat. Ia diam.
”Hey, ketua DKK sedang bertanya padamu.” Sergah Oris.
“Kenapa kalian harus tahu? Kenapa aku harus memberitahukan kepada kalian?”
”Karena kami memiliki tanggung jawab terhadapmu. Bukankah sudah jelas, tak ada yang boleh melepaskan tahanan DKK. Katakan, siapa orang itu?” kata Candra.
”Tentunya kau tak ingin terus berurusan dengan kami selama kuliah di kampus kita tercinta. Apalagi kau seorang mahasiswa baru. Kami bisa membuatmu tidak pernah tenang hingga kau mau mengalah. Bekerjasamalah dengan kami.” bujuk Sambu.
Nyali Soli menciut, tapi bukan karena takut. Ia merasa berat mengambil sikapnya. Di satu sisi ia tak mungkin mengatakan kalau orang yang telah menolongnya adalah pangeran. Ia paham, orang-orang DKK pasti akan melakukan sesuatu terhadap orang yang berani melepaskan tahanan mereka. Di sisi lain, jika ia Drop Out dari Universitas itu, maka ayahnya akan mengajaknya kembali ke rumah. DKK pasti akan melakukan segala cara untuk membuatnya merasa tidak betah dan akhirnya keluar.
”Kau tak mau mengatakannya?” tanya Oris. ”Kau ingin dikeluarkan dari kampus dengan cara tidak terhormat bahkan sebelum kau sempat duduk di ruang perkuliahan?” ancam Oris dengan tatapan matanya yang tajam.
”Pangeran!” celetuk Soli. Ia tak tahan menerima tekanan dari orang-orang tidak beres itu. Sementara anak-anak DKK saling berpandangan, seakan tak percaya dengan apa yang telah mereka dengar.
”Apa yang kau katakan?” tanya Candra menegaskan.
Soli membalikkan tubuhnya ke arah Candra yang membuatnya kesal karena terlalu banyak bertanya. Ia memandangi lelaki berkulit putih itu.
”Pa...” belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba seseorang masuk. Mata Soli terbelalak. Pangeran datang. Pangeran langsung menundukkan kepalanya ketika melihat Soli sedang memperhatikannya.
”Kenapa datang terlambat?” sambut Restu sembari menjabat tangan Pandu. Perhatian kini tertuju kepada satu lagi anggota DKK.
Soli terus memperhatikan lelaki yang baru datang itu. Dengan akrabnya Candra merangkul Pangeran di mata Soli. Pangeran sempat memperhatikannya, tapi kembali menunduk ketika kedua mata mereka bertemu.
”Kau bilang siapa yang menolongmu?” tanya Candra lagi.
Padahal Soli berharap Si Ikan Pari itu telah melupakan pertanyaannya. Sekilas Soli melihat Pangeran menunjukkan ekspresi aneh. Tapi anak itu tetap menunduk. Soli kembali ragu, orang itu tidak seperti pangeran, meskipun wajahnya sangat mirip. Pangeran lebih murah senyum dan baik hati daripada orang itu. Seandainya dia pangeran, sudah pasti langsung membelanya, tidak akan membiarkannya kebingungan.
“Orang yang menolongku adalah Pangeran.” Tegas Soli. Anak-anak DKK saling berpandangan, kecuali Pandu yang masih betah menundukkan kepalanya.
“Apa kau sedang tidak mengigau?” selidik Oris dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Soli. Soli langsung mendorong Oris. Ia duduk.
“Ibuku tak pernah mengajariku berbohong.”
“Di kampus kita tak ada mahasiswa yang bernama Pangeran. Berani sekali dia menyebut dirinya pangeran. Sebenarnya siapa dia? Kau pasti tahu banyak tentang dia.” selidik Candra.
”Seharusnya kalian yang lebih tahu. Aku ini hanya mahasiswa baru yang bahkan belum sempat mengikuti perkuliahan gara-gara melakukan kesalahan dan harus menjalani hukuman diikat di tiang bendera di bawah guyuran hujan deras tanpa ada kepedulian DKK untuk menolong orang yang hampir sekarat ini.”
Soli melirik ke arah Pandu yang masih menunduk. Ia berharap lelaki itu mau mengangkat mukanya dan mengakui bahwa dialah Pangeran yang telah menolong Soli. Agar Soli yakin bahwa lelaki yang ada di hadapannya itu benar-benar pangeran. Tapi sepertinya harapan itu tak akan terjadi. Lelaki itu terus menunduk.
”Kita pergi saja. Sebentar lagi latihan basket dimulai.” ujar Oris seraya bangkit dari duduknya.
”Benar, lain waktu saja kita mencari orang yang mengaku sebagai pangeran itu. Lagipula, saksi mata pasti banyak.” bujuk Restu.
Candra tampak berpikir sejenak. ”Bagaimana meurutmu?” tanyanya pada Pandu.
”Untuk apa diperpanjang. Bukankah lebih baik hidup damai? Lupakan masalah ini.” jawabnya dengan tetap menundukkan kepala.
”Mana bisa seperti itu?” Oris berjalan mendekati Pandu. ”Orang salah tetap pantas mendapatkan hukuman. Tentunya kau belum lupa, bagaimana orang-orang memperlakukan kita sebelum ada DKK. Apa kau sudah lupa, bagaimana sorot mata mereka memandangi kita, dan apa yang mereka bicarakan di depan dan di belakang dengan kata-kata yang sungguh menyakitkan hati, seperti ingin membunuh kita secara perlahan-lahan. Apa kau sudah melupakannya?” katanya dengan nada menggebu-gebu seperti orang kesal.
Tampak Pandu mengepalkan tangannya. Meskipun tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, Soli merasa kata-kata Oris telah merasuk ke dalam hati Pandu. Orang itu tetap diam, meskipun tubuhnya mengisyaratkan adanya gejolak dalam dirinya.
”Apa kau sudah lupa, bagaimana cara mereka memandangi kita? Kau lupa, apa makna di balik tatapan mereka? Mengapa begitu mudah kau mengatakan masalah ini selasai? Gadis ini bahkan telah menertawakan kita seperti badut! Apa pikiranmu masih selevel anak kecil yang mudah dibohongi orang?” tambah Oris.
”Hentikan!” pinta Candra seraya menjauhkan Oris dari adiknya. ”Oris, ucapanmu sama saja dengan orang-orang yang menghina DKK. Kau bisa menyakiti adikku, dan juga menyakiti aku.”
Oris menunduk. ”Maaf, aku sedikit emosi.”
”Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan di depan orang sakit ini?” sahut Soli yang dari tadi kebingungan menjadi pendengar pembicaraan mereka.
Semua orang menatapnya. ”Need not to know.” Ucap Candra seraya membawa adiknya keluar, diikuti yang lain.
Kini tinggal Soli sendiri dengan sejuta tanya di hatinya yang belum menemukan jawabannya. DKK sekarang telah menjadi tantangan baginya untuk ia tahu. Dari apa yang ia dengar, ada perbedaan persepsi antara apa yang selama ini ia dengar dari Yorin dengan apa yang mereka katakan. Oris yang bersikap agak emosi menunjukkan bahwa ada sesuatu yang melatarbelakangi sikap keras DKK. Itulah misteri yang ingin diketahui Soli.
*****

UNDER THE TREES

Bagian II
KILAS BALIK

Semburat warna merah menggores keindahan cakrawala di dalam senjakala. Bulan mulai menyembul, sementara matahari perlahan meluncur menuruni bukit.dari balkon kamarnya, Soli menikmati fenomena menawan itu. Beberapa saat kemudian, suara adzan berkumandang. Menyusul kemudian terdengar deru mesin mobil di halaman rumah. Soli melihat ayahnya turun dari mobil. Segera ia beranjak dari balkon, berlari kecil menghampiri ayahnya.
”Assalamu’alaikum.” salam Sang Ayah setelah memasuki ruang tamu.
”Wa’alaikum salam.” balas Soli seraya langsung mencium tangan ayahnya dan membawakan tas kerja sang ayah, kemudian menuntun ayahnya untuk duduk di sofa.
Lelaki yang sudah tampak semakin tua itu mengelus lembut rambut putri satu-satunya itu dengan mata penuh binar kebahagiaan. Soli tersenyum. Dengan cara yang manis, ia memberikan secangkir kopi susu hangat yang sebelumnya telah ia persiapkan untuk sang ayah tercinta. Sejak ibunya meninggal, ia yang menggantikan ibunya membuatkan minuman kesukaan ayahnya setiap kali ayahnya pulang dari kantor dengan wajah yang tampak kelelahan.
Terkadang Soli berpikir, betapa keras perjuangan ayah untuknya. Semenjak ibunya meninggal, ayah semakin menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Sudah hampir delapan tahun ibu meninggal. Tapi ayah masih setia dalam kesendiriannya. Tak pernah sedikitpun ayah menceritakan niatan untuk menikah lagi kepadanya. ’Apakah kamu bahagia?’ itulah yang sering dibahas sang ayah ketika bertemu dengannya. Ia tak pernah menunjukkan betapa letihnya ia, atau betapa kesepiannya dia.
Sebenarnya Soli kurang tega meninggalkan rumah. Ingin ia tetap tinggal, menemani ayahnya, merawat ayahnya, dan menyiapkan makanan untuk ayahnya. Tapi ia sungguh sudah bosan berada di sana. Apalagi ayahnya sering pergi ke luar kota atau ke luar negeri untuk mengurusi bisnis perusahaannya hingga berhari-hari tak pulang. Setelah satu bulan pergi meninggalkan rumah, ini pertama kalinya ia kembali menyuguhkan secangkir minuman kesukaan sang ayah. Minuman yang ia buat dengan penuh rasa cinta.
Ayah mengelus rambut putri kesayangannya. Tangannya merasakan sesuatu yang berbeda. Rambut indah itu tak lagi sehalus dulu. Namun wajah dengan senyuman tulus itu tetap terlihat cantik meski rambutnya sedikit kusut.
”Ayo kita shalat maghrib berjamaah.” ajak sang ayah.
Soli mengangguk sambil menunjukkan senyuman yang sedikit melebar. Rasanya sudah lama sekali ayahnya mengatakan hal itu. Keduanya bergegas menuju mushala kecil di serambi rumah untuk mengambil wudhu. Dua orang satpam yang setia menjaga rumah mewah itu tampak sedang duduk khusyu di dalam mushala kecil itu. Seorang tukang kebun yang baru selesai berwudhu tersenyum kepada kedua ayah dan anak itu. Soli dan ayah menuju tempat wudhu yang berbeda.
Berselang beberapa menit kemudian, para penghuni rumah mewah itu melaksanakan shalat berjamaah. Tak ada lagi kedudukan atasan dan bawahan. Mereka sama. Shalat kali ini diimami oleh Pak Karta, sopir pribadi Pak Hasan Sanusi, ayah Soli. Sudah menjadi kebiasaan di rumah mewah itu untuk selalu melaksanakan shalat secara berjama’ah. Seluruh penghuni rumah diajak shalat bersama, terutama saat maghrib, ketika mereka ada di rumah semua.
Rumah besar itu dihuni oleh Soli dan ayahnya bersama lima orang pembantu, dua orang tukang kebun, dua orang satpam, dan dua orang sopir pribadi. ketika Nyonya Zalwi, ibu Soli masih ada, kegiatan shalat maghrib berjamaah itu sudah mulai rutin dilaksanakan. Setelah Nyonya Zalwi meninggal, kegiatan itu pun masih dilaksanakan, hanya saja Pak Hasan jarang ikut serta karena kesibukannya di luar rumah.
Shalat dilaksanakan dalam keadaan begitu tenang, hingga suara bair mancur di tengah kolam terdengar jelas. Selepas shalat, Bibi Suti mengajak mantan Nona kecilnya itu ke dalam kamar rias untuk menunjukkan sesuatu. Soli tentu saja senang mendengarnya. Apalagi setelah melihat sebuah gaun indah berwarna coklat muda yang telah dipersiapkan untuknya. Namun tiba-tiba rasa senangnya hilang ketika teringat anak-anak yang tinggal di kolong jembatan. Mereka yang setiap hari berpakaian seadanya, namun tetap menunjukkan keceriaan, ketika ia mengajak mereka belajar membaca dan menulis. Semangat mereka untuk menjadi pintar sangat besar, meski keadaan mereka sungguh tidak memungkinkan mereka mendapatkan pendidikan di sekolah yang sebenarnya. Mereka hanya belajar dari para relawan seperti dirinya.
Anak-anak itu mungkin malam ini tidur dalam kedinginan dengan perut masih kelaparan. Sementara ia malam ini akan berpesta di tempat yang hangat, indah, mewah, dengan banyak hidangan lezat yang pasti akan menggugah selera. Sungguh tidak adil seandainya ia merasakan suatu kenyamanan, sementara di luar sana, ia tahu ada orang-orang yang mengalami kesengsaraan.
”Nona, kenapa diam? Apa Anda tidak menyukai apa yang telah saya siapkan?” tegur bibi, setelah sekian waktu melihat Nonanya tertegun.
”Ah, tidak. Ini bagus.” balas Soli dengan senyuman manisnya.
Sang bibi tampak lega. “Semoga Nona menikmati pesta nanti malam.” katanya. ”Jangan membuat orang cemas dengan menghilang tiba-tiba dari pesta seperti yang biasa Nona lakukan.” lanjutnya.
Soli tersenyum. Bibi Suti dan seluruh penghuni rumah memang sudah terbiasa dibuat kerepotan ketika sang nona keluar dari rumah. Dia adalah jagonya bersembunyi. Setiap kali keluar diam-diam dari rumah, meskipun dikerahkan puluhan orang untuk mencarinya, tak ada yang bisa menemukannya. Setelah orang-orang yang mencarinya frustasi, nona itu akan pulang ke rumah dengan sendirinya, dan menjadi perhatian seisi rumah.
”Aku tidak janji.” balas Soli dengan seulas senyum.
Menjelang pukul delapan malam, Soli telah siap dengan dandanan sederhananya. Menurutnya, anggun tidak berarti harus tampil seksi dengan dandanan yang terlalu mencolok. Kali ini saja ia terpaksa berdandan hanya untuk memenuhi janjinya kepada sang ayah. Sejak dulu ia tak menyukai keramaian pesta. Tapi ayahnya selalu mengajaknya pergi ke acara itu. Setiap kali ada kesempatan, Soli pasti akan kabur. Kemudian pesta menjadi sedikit terganggu, karena banyak orang berjas hitam, pakaian hitam dan kacamata hitam menyebar ke seluruh penjuru tempat untuk mencari Soli. Mereka tidak akan menemukannya, kecuali telah melihatnya terbaring nyaman di tempat tidur menjelang tengah malam. Sejak kecil hingga sekarang ia selalu membuat orang cemas.
Hotel Samudera Mimpi. Itulah nama hotel yang malam ini tengah mengadakan pesta berkenaan dengan peresmian dan pembukaan hotel baru itu. Hotel mewah berlantai lima belas yang tampak indah dan elegan dengan cat warna biru yang secerah warna lautan. Mobil-mobil mewah berjajar rapi memenuhi tempat parkir. Setelah turun dari mobil, Soli melihat taman hotel yang cukup rindang. Ia tersenyum, memikirkan tempat yang telah ia temukan untuk persembunyian. Rasanya bukan Soli kalau tidak menghilang di tengah acara pesta.
”Putri Cantikku.” tegur sang ayah.
Soli sedikit salah tingkah. Namun ia segera menguasai dirinya. Langsung ia menggandeng tangan ayahnya, melangkah masuk menuju tempat pesta.
”Kamu tidak sedang berpikir untuk menghilang seperti biasanya, kan?” tanya sang ayah.
Soli tersenyum, ”Mungkin.” katanya. ”Seandainya aku menghilang, ayah tidak perlu cemas mencariku. Aku sudah tahu jalan pulang.” lanjutnya.
”Kita lihat saja, apakah kali ini kamu bisa menghilang dari samping ayah. Ayah tidak akan lengah lagi.”
Soli kembali tersenyum. Ia merasa kali ini sama saja dengan sebelum-sebelumnya. Ia pasti bisa keluar dari tempat ramai itu tanpa ayahnya menyadari. Selalu ada jalan.
Pesta diadakan di tepi kolam renang luas yang terletak di belakang hotel. Lilin-lilin bertebaran, melayang-layang di atas kolam renang. Lantunan musik jazz mengiringi jalannya pesta. Orang-orang yang datang pada malam itu sungguh tampil begitu menawan dan tetap berwibawa. Mereka saling bergerombol membicarakan masalah yang tidak dimengerti Soli. Gerombolan para direktur dan bisnisman sudah pasti membahasnya masalah bisnis. Gerombolan nyonya-nyonya kaya berbincang-bincang tentang salon dan shopping. Sementara anak-anak mereka saling bergosip tentang anak-anak pengusaha yang mereka kagumi atau yang mereka benci.
Tak ada satupun orang yang Soli kenal selain ayahnya. Tetapi ada beberapa rekan bisnis ayahnya yang mengenalinya, karena ia sering menghilang dan membuat panik banyak orang.
”Tuan Hasan.” sapa seseorang ketika Soli dan ayahnya sedang membicarakan tentang peristiwa-peristiwa masa lalu sambil menikmati kesegaran air kelapa muda.
Sang ayah terlihat sangat bahagia melihat orang yang menegurnya. Mereka lantas berpelukan. Soli tak mengenal orang itu.
”Apa ini putri cantikmu?” tanyanya.
”Oh, iya. Ini adalah satu-satunya permata berharga yang sangat aku sayangi.” jawab sang ayah dengan bangganya sambil merangkul putri kesayangannya itu.
”Soli, perkenalkan, Beliau adalah Tuan Kenedy, rekan bisnis ayah.”
Soli lantas menjabat tangan Tuan Kenedy dengan ulasan senyum. Rekan bisnis ayahnya itu berkulit putih, berpostur tinggi, dan berwajah khas orang-orang Eropa. Sudah dapat dipastikan kalau ia bukanlah pribumi meskipun bahasa Indonesianya sangat baik. Kata ayahnya, Tuan Kenedy berasal dari Inggris, tetapi telah menetap di Indonesia selama 20 tahun bersama istri dan kedua anaknya. Istrinya bernama Siti Sukesih, berasal dari kota Semarang. Beliau telah menjadi muslim dan berganti nama menjadi Abdullah Kenedy Sebastian.
”Putri Anda sangat cantik.” puji Tuan Kenedy.
”Kedua putra Anda juga sangat cerdas dan tampan. Saya sangat mengagumi cara presentasi mereka untuk meyakinkan para investor bahwa Hotel Samudera Mimpi ini akan menjadi sebuah hotel terbaik di Indonesia. Anda bahkan bisa dikalahkan oleh mereka.” kata Pak Hasan.
Kedua pengusaha itu saling memuji satu sama lain. Soli hanya bisa tersenyum sesekali.
”Dimana kedua Putra hebat Anda itu? Apa malam ini mereka tidak datang?”
”Mereka datang. Tapi mungkin sedang bersama teman-temannya yang lain sesama calon pengusaha muda. Nona Soli juga pasti ingin mengikuti jejak Pak Hasan menjadi seorang pengusaha sukses. Bukankah begitu?”
”Insya Allah.” balas Soli lirih.
Kini Soli tahu, ternyata pemilik hotel indah itu adalah Tuan Kenedy. Ayahnya diajak bekerjasama untuk mensuplai seluruh properti hotel. Tiba-tiba matanya menangkap keindahan di salah satu sudut hotel. Lukisan sebuah pohon besar yang sangat rindang pada dinding. Soli tersenyum. Pohon itu mengingatkannya pada pohon besar di taman yang sering ia panjat. Sudah lebih dari satu tahun ia tak pergi mengunjungi pohon itu, dan selama waktu yang sama ia tak bertemu dengan ’Pangeran’.
”Mm, Om, siapa yang melukis pohon besar itu?” tanya Soli sambil menunjuk arah yang dimaksud.
Tuan Kenedy dan Hasan malah seperti terkejut melihat lukisan itu. Mereka seperti tidak tahu sebelumnya. Padahal lukisan itu cukup besar, sesuai dengan ukuran pohon sebenarnya.
”Desain hotel ini aku serahkan sepenuhnya kepada kedua putraku. Aku sama sekali tidak tahu kalau ada lukisan pohon di dinding sebelah sana. Nanti ketika peresmian, akan aku tanyakan kepada kedua putraku. Mereka yang akan meresmikan hotel ini.”
Aneh. Hanya sebuah lukisan pohon bisa membuat Soli begitu penasaran. Ia merasa ’Pangeran’ ada di sana. Mungkin juga yang melukisnya adalah dia. Atau dia yang menyuruh orang untuk melukiskan sebuah pohon. Orang itu pastilah memiliki kenangan indah tentang pohon sehingga dengan bangga ia menggambarkan sebuah pohon di tempat indah ini.
Satu tahun yang lalu, beberapa kali ia bertemu dengan ’Pangeran’ di pesta. Meskipun tak bertemu secara langsung di tempat pesta, tapi mereka selalu bertemu di tempat tak jauh dari tempat pesta. Bertemu di balik semak-semak. Ketika tak ada satupun orang yang tahu tempat persembunyiannya, Pangeran itu selalu datang menghampiri tempat persembunyiannya dengan membawakan sekaleng minuman dan beberapa bungkus makanan. Hanya dia orang aneh yang tahu tempat favoritnya di pesta, yaitu di balik semak-semak atau di atas pohon.
”Kenapa kamu ke sini?”
”Untuk berpesta bersama seorang teman.” balasnya setiap kali muncul pertanyaan dari Soli.
Biasanya mereka hanya akan diam sambil memandangi langit. Tak banyak hal yang dibicarakan. Walaupun suasana akan ramai karena kesibukkan orang-orang mencari Soli, mereka akan tetap diam sekalipun sirine polisi yang berbunyi. Mereka akan seperti penjahat yang sedang bersembunyi karena menjadi buronan kelas kakap polisi. Meskipun hujan, mereka tidak akan bergeming, hingga muncul keinginan untuk pergi. Biasanya Pangeran yang terlebih dulu pergi, ketika ada yang memanggil namanya. Sementara Soli akan tetap di sana hingga merasa benar-benar bosan.
*****
Pesta peresmian Hotel Samudera Mimpi akan segera dimulai. Tiba-tiba seorang pemuda berpenampilan rapi menghampiri mereka.
”Paman, Si Anak Emas menghilang lagi.” adunya.
“Tidak apa-apa. Nanti juga kembali lagi. Mungkin dia sedang mencari udara segar sebentar di luar. Yang penting Candra ada, karena sebentar lagi acara peresmian akan dilaksanakan.”
“Apa paman belum tahu watak anak-anak paman yang aneh-aneh itu? Salah satu tidak ada, yang lain juga pasti ikut pergi. Kalau begitu aku saja yang meresmikannya.” usulnya.
”Ayahmu saja tidak mengijinkanmu berbisnis, kenapa Paman harus menyerahkan tanggung jawab ini padamu? Lebih baik aku serahkan kepada orang lain.”
”Paman tega sekali.”
”Hey, bergegaslah mencari mereka kalau kamu tidak ingin acara ini berantakan.” pinta Tuan Kenedy.
Pemuda itu langsung pergi dengan raut wajah kecewa. Soli tersenyum. Ternyata selain dirinya masih ada yang suka menghilang di tengah acara pesta. Apalagi di saat-saat penting. Tiba-tiba muncul keinginan dalam benaknya untuk melakukan kebiasaannya. Ia berharap akan kembali bertemu dengan Pangeran itu malam ini.
Ketika ayahnya semakin terhanyut dalam perbincangannya bersama Tuan Kenedy, Soli perlahan melangkah mundur, membaur dengan kerumunan orang-orang, dan akhirnya bisa keluar dari area pesta. Ia tersenyum lebar, karena ia kembali berhasil keluar dari pengawasan ayahnya. Beberapa kali ia menjumpai petugas keamanan mondar-mandir seperti sedang mencari sesuatu. Mungkin sedang mencari tuan muda yang hilang. Kalau tuan muda itu tidak ditemukan, sudah dapat dipastikan acaranya akan berantakan.
Soli terus berjalan menelusuri hotel, mencari jalan menuju taman yang terletak di belakang hotel. Akhirnya ia menemukannya juga. Udara malam yang segar dan sedikit dingin menerpa wajah ketika ia membuka pintu belakang hotel. Taman indah tepat berada di hadapannya. Taman yang cukup rindang dan asri. Suasana sepi. Tak mungkin ada orang yang berinisiatif mencari orang hilang di balik semak. Begitu yang dipikirkan Soli. Dengan penuh semangat, ia berjalan menuju salah satu semak yang ia sukai, kemudian melompat ke dalam semak-semak itu dengan girangnya.
“Bruk!” Soli langsung terduduk manis di sekeliling semak-semak. Ia seperti merasakan kembali masa-masa indah dulu. Meskipun hanya bermain petak umpet sendiri, ia tetap merasa senang.
Tapi entah mengapa kali ini ia merasa ada yang aneh. Ia seperti merasakan kehadiran seseorang. Ia merasa seperti kaku karena ketakutan yang tiba-tiba saja datang. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, dengan cepat ia menengok ke arah kanannya.
”Dug!” jantungnya serasa ingin lepas karena kekagetannya melihat sebuah sosok yang persis berada di sampingnya dalam jarak beberapa senti saja. Tubuhnya seakan kaku, beku, dan lemas. Bahkan untuk berkata-kata saja ia tak mampu. Apalagi sorot matanya menatap tajam ke arah Soli.
”Apa kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada keheranan.
”Ti...ti...dak.” jawab Soli dengan nada tergagap.
Orang itu memberikan sekaleng minuman yang langsung diminum oleh Soli. Napasnya masih tidak karuan saking kagetnya.
“Kau membuatku kaget setengah mati.” Ujar Soli.
“Seharusnya aku yang mengatakan hal itu.” kilahnya.
Soli terdiam sebentar, ”Lama tidak berjumpa.”
“Seharusnya ada banyak kesempatan berjumpa. Tapi karena kau tidak meluangkan sedikit waktu mengunjungi taman kota atau datang ke pesta, maka kesempatan itu terlewat begitu saja.” Katanya dengan nada tanpa ekspresi. Seperti biasa, ia hanya tertarik dengan minuman kaleng miliknya. Seperti itulah Pangeran.
”Tidak biasanya kau datang ke taman lebih dulu daripada aku.”
”Mungkin kamu yang terlalu lama di dalam pesta.”
Soli merenung. Memang rasanya ini adalah waktu terlama ia bisa bertahan dalam suatu pesta. Biasanya baru sebentar ia sudah mau keluar. Pangeran memang tahu apa yang ia pikirkan.
”Di hotel ini ada lukisan sebuah pohon yang menarik perhatianku.”
”Kau menyukai lukisan seperti itu?” katanya dengan nada mengejek.
”Tentu saja. Apa kau ingin merendahkan? Orang yang melukisnya pastilah memiliki kenangan berharga dengan pohon itu. Seandainya aku bisa melukis, pastilah sudah aku lukis pohon di taman kota yang sering aku panjat sejak kecil.”
”Kalau bisa di bawah pohon digambar seorang anak perempuan yang sedang menangis karena terjatuh dari atas pohon, kemudian ada Pangeran yang datang memberinya coklat untuk anak cengeng itu.”
”Kau mengejekku?” protes Soli dengan memandang sinis orang yang ada di sampingnya itu. Tapi Pangeran tetap asyik memandangi bintang di langit.
”Jangan marah. Meskipun cara pertemanan kita aneh, tapi rasanya aku tidak rela kehilangan teman menyepi sepertimu. Bersembunyi tanpa teman rasanya tidak menyenangkan.”
Kata-kata Pangeran seperti kata-kata yang keluar dari mulut orang yang polos. Begitu jujur dan tanpa ekspresi. Soli terdiam. Ia ikut memandang ke araha langit. Malam itu bulan bersinar sangat terang. Indah. Suasana juga tenang, walau sebenarnya di dalam sedang cukup dihebohkan dengan kesibukan orang mencari putra Tuan Kenedy yang pergi dari ruangan pesta.
”Hei, Pangeran, keluarlah! Aku menyerah. Aku kalah. Tidak ada pesulap yang lebih hebat dari dirimu.” Seru seseorang tak jauh dari tempat Soli dan Pangeran berada.
“Pangeran….”
“Kau tidak menjawab panggilan itu?”bisik Soli.
”Aku tidak merasa sedang bermain petak umpet sekarang. Tapi aku sedang bernostalgia bersama seorang teman yang cukup lama tak aku jumpai.” balas Pangeran dengan nada datar dan tenang. Sorot pandangannya terus terpaku ke arah langit.
“Pangeran, kumohon keluarlah. Aku benar-benar telah lelah mencarimu. Apa aku harus menangis terlebih dahulu agar kau mau keluar?”
Pageran tetap tak bergeming mendengar panggilan itu. Soli memandangi aneh orang di sampingnya yang terus terpagut dengan keindahan purnama. Padahal sebelumnya Pangeran selalu menghampiri orang yang memangginya tanpa harus mendengar orang-orang memohon padanya. Malam ini Pangeran berbeda.
“Pangeran, Tuan Muda, Yang Mulia, Raja, Guru, Bos, Orang tampan sedunia, Pria baik hati, ayolah keluar... apa kau ingin menyiksaku? Seisi hotel telah aku periksa. Aku harap kau ada di sini. Kalau tidak, aku benar-benar menjadi orang gila yang berteriak-teriak memannggil orang yang tidak ada.”
”Kau tidak kasihan dengan orang yang mencarimu?” gerutuku.
“Dia kakakku.”
“Kalau begitu, mana boleh mengabaikan panggilan kakak sendiri.”
”Kau bahkan mengabaikan panggilan puluhan orang yang mencarimu. Ini pertama kali bagiku.”
”Hey, Boy... aku rela bertukar posisi menjadi adikmu asalkan kau mau menjawab panggilanku.”
”Pangeran yang baik hati, apa kau tega kakakmu ini dicap sebagai kakak yang tidak becus menjaga adiknya sendiri?”
”Pangeran... aku lebih baik mati daripada menghadapi masalah ini tanpamu. Biarlah semuanya hancur dan membuat ibu kecewa.”
”Pangeran....”
Akhirnya Pangeran luluh dan mau keluar dari persembunyiannya. Soli tetap berada di tempatnya.
”Kakakku yang tampan sepertinya sudah terlalu banyak bicara hari ini.”
”Kalau tidak begitu, adik kesayanganku tak akan mau keluar. Kenapa hari ini kau bandel sekali? Aku benci petak umpet denganmu.”
”Bukankah hari ini tidak ada agenda memainkan permainan ini? Kenapa kau tetap mencariku?”
”Hey, kau ingin lari dari tanggung jawab seperti seorang pecundang? Acaranya akan segera dimulai. Ayo ikut aku.”
”Aku tidak mau.”
”Kenapa?”
”Kau pasti tahu alasanku. Pakaianku sudah kotor. Acara itu tak tepat untukku. Kau yang lebih pantas berada di sana.”
”Tanpamu aku tidak mau. Di sana ada ibu dan ayah yang sangat kita kasihi. Kalau kau ingin mengecewakan mereka, mari kita lakukan bersama.”
Mereka terdiam. Soli mendengarkan percakapan kakak beradik itu dengan sangat jelas meskipun tak mengerti apa inti dari pembicaraan mereka. Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki kakak beradik itu semakin menjauhi tempat Soli berada. Akhirnya suasana kembali sunyi. Soli sendiri. Menikmati ketenangan malam dengan purnama yang bersinar terang.
*****

UNDER THE TREES

Bagian I
CERITA DARI RESTORAN

Sebuah restoran cepat saji di tengah kawasan perkantoran siang itu terlihat ramai. Para pelayannya dibuat sibuk dengan pesanan yang silih berganti datang. Sudah menjadi pemandangan biasa setiap jam istirahat kantor tiba, restoran yang memiliki menu andalan nasi goreng ayam itu pasti menjadi sasaran utama para pegawai kantoran untuk menikmati waktu istirahatnya. Di sela-sela kesibukan kerja, dua orang pekerja yang bertugas mencuci peralatan dapur menyempatkan diri berbincang-bincang.
“Li, aku kesal dengan tempat kuliahku sekarang. Seharusnya aku tetap satu kampus denganmu saja.” keluh Yorin sambil terus mencuci tumpukan piring di depannya.
”Kamu kan sekarang sudah menjadi orang kaya. Sudah sepantasnya kamu bergaul dengan orang-orang kaya dan bersekolah di tempat yang mahal dan bergengsi. Kamu juga sudah waktunya meninggalkan pekerjaan rendahan seperti ini..” balas Soli enteng.
”Gaya bicaramu seperti ibuku saja!” ketus Yorin. ”Aku sampai bosan mendengar kata-kata seperti itu setiap hari dari ibu. Padahal baru kaya sedikit gara-gara ayah mendapat warisan dari kakek. Kalau tidak berhemat, bisa jatuh miskin lagi nanti.” lanjut Yorin dengan raut masam.
Soli tersenyum, ”Apa karena itu, kamu kesal dengan tempat kuliahmu yang sekarang?”
”Tidak juga.”
“Terus kenapa?”
“Gara-gara ada DKK, Dewan Keamanan Kampus yang menyebalkan! Andai saja bisa, aku ingin memukul kepala mereka satu persatu!” Yorin bicara sambil menggosok piring dengan keras. Soli tersenyum geli melihat ekspresi temannya yang sedang kesal.
”Jangan terlalu keras menggosoknya, nanti piringnya jadi tipis.”
”Biarkan! Aku anggap saja piring ini muka anak-anak DKK yang menyebalkan itu!” gerutu Yorin.
”Wah... waktunya kerja malah bercanda. Pantas kerja kalian menjadi lambat.” suara Ibu Mara, pemilik restoran itu, membuat keduannya terdiam dan pura-pura kembali bekerja dengan tenang. ”Tidak perlu berpura-pura! Saya sering melihat kalian bercanda saat jam kerja.”
Soli membalikkan tubuhnya menghadap Ibu Mara, diikuti Yorin.
”Maafkan kami, lain kali ibu tidak akan melihat kami bercanda saat bekerja.” kata Soli merendah.
”Iya, kami janji.” tambah Yorin.
Ibu Mara memandang kedua pegawainya itu, ”Baik, saya pegang kata-kata kalian. Yorin, kembali bekerja!” pinta Ibu Mara. Yorin langsung melanjutkan pekerjaaannya. Ia takut dipecat.
”Soli, tolong kamu antarkan pesanan untuk meja nomor sepuluh. Hari ini ada pengunjung aneh yang hanya ingin kamu yang melayaninya dan menemani dia makan. Dia berani membayar lima kali lipat untuk pesanannya. Dan kamu tidak boleh menolak.” tegas Ibu Mara.
Soli memandang ke arah Yorin. Ia melihat temannya menganggukkan kepala, tanda bahwa ia harus melakukannya.
”Cepat!” pinta Ibu Mara.
”I...Iya.” jawab Soli. Sebelum pergi, ia sempat membisikkan sesuatu ke telinga Yorin. ”Ceritanya nanti saja setelah pulang.”
Soli segera mengantarkan pesanan untuk meja nomor sepuluh. Terbersit rasa penasaran yang besar tentang orang yang telah berani membayar mahal hanya untuk ia temani makan. Baru kali ini ia mendapati pengunjung yang aneh. Biasanya hanya ada pengunjung yang minta berkenalan, menanyakan alamat rumah, atau nomor teleponnya. Hal seperti itu masih ia anggap biasa dan masih bisa ia hadapi dengan senyuman atau canda. Tapi kali ini, ia anggap sebagai hal di luar kewajaran.
Ia terus berjalan melewati bangku-bangku menuju meja nomor sepuluh. Ia melihat punggung orang yang duduk di meja nomor sepuluh. Dari penmapilannya, ia dapat menebak kalau orang itu adalah pegawai kantoran atau pengusaha. Dan dari warna rambutnya yang mulai memutih, ia tebak usia orang itu sekitar empat puluh tahunan. Soli menjadi agak ragu. Cepat-cepat ia menepis perasaan itu. Ia kembali melangkah.
”Ini pesanannya, Tu... Ayah!” seru Soli. Jantungnya seakan mau pecah karena terkejut. Ternyata pengunjung aneh itu adalah ayahnya sendiri. Soli berusaha menguasai diri. Ia mengingatkan pada dirinya bahwa saat ini dia hanyalah seorang pelayan restoran. Ia kemudian meletakkan makanan di nampan yang ia bawa di depan ayahnya. Ia kemudian duduk tepat di depan ayahnya. Ia melihat ayahnya tersenyum padanya.
”Putri kesayanganku yang sering bermanja-manja padaku, sekarang sedang menjadi seorang pelayan restoran. Padahal di rumah ada puluhan pelayan yang siap melayaninya.” guman sang ayah, seraya memulai menyantap pesanannya.
”Dari mana ayah tahu aku di sini?’ tanya Soli dengan perasaan bersalah.
”Kamu sudah tahu, tidak sulit bagi ayah untuk dapat menemukanmu.”
Soli langsung paham. Ayahnya pasti akan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencarinya. Padahal baru satu bulan ia bisa pergi dari rumah bertepatan dengan kepergian ayahnya ke Jepang untuk urusan bisnis.
”Kapan ayah pulang?”
”Tadi pagi.”
”Ayah... kenapa ayah kemari? Seharusnya ayah istirahat saja di rumah. Ayah pasti masih lelah. Ayah memang selalu begitu.” kata Soli dengan nada sedikit manja.
”Apa tidak boleh, jika seorang ayah ingin bertemu dengan putri kesayangannya? Apa salah, jika seorang ayah khawatir, karena ketika pulang putri kesayangannya tidak ia jumpai di kamarnya?” kata-kata ayah semakin membuat Soli merasa bersalah.
”Maafkan aku.”
”Pulanglah bersama ayah. Jadilah seorang putri yang manis di duniamu yang seharusnya. Hanya kamu yang ayah miliki setelah ibumu meninggal. Kamu tidak mau ayah merasa kesepian di rumah, kan?” bujuk ayah.
”Ayah, aku bahagia hidup seperti ini. Aku sayang ayah, tapi aku tidak bisa tinggal di rumah. Ayah sering pergi jauh dalam waktu lama. Aku juga kesepian, ayah.”
”Kamu kan punya banyak teman. Ajaklah teman-temanmu ke rumah agar kamu tidak kesepian.”
”Aku tidak suka. Mereka semua bukan teman yang tulus. Mereka mau berteman denganku karena aku anak orang kaya. Kalau suatu ketika ayah bangkrut, aku tidak akan punya teman lagi. Aku lebih suka berteman dengan orang-orang biasa, yang mau tulus berteman denganku.”
“Bagaimana dengan ayah? Apa putri kesayanganku ini juga tidak mau bersamaku?”
”Ayah... ayah boleh memintaku menemani ayah kapan saja ayah mau. Tapi jangan paksa Soli untuk pulang. Aku suka seperti ini. Aku tidak ingin menjadi anak manja lagi. Aku ingin makan dengan kedua tanganku, dan hidup dengan kerja kerasku sendiri, ayah.” rajuk Soli. Sang ayah seperti memahami keinginan putri satu-satunya itu.
”Ayah bahkan tidak bisa mengusap rambutmu sekarang. Kamu sedang menjadi orang lain yang tidak ayah kenal. Rasanya ayah tidak rela melepaskanmu hidup sendiri. Bagaimana kalau kamu kelelahan dan kedinginan di luar rumah?” ayah berkata dengan mata berkaca-kaca.
“Ayah tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak sendiri, ayah. Sekarang aku tinggal dengan mantan pengasuhku, Bibi Maryam, orang kepercayaan Ayah.” Kata Soli meyakinkan ayahnya.
“Kalau begitu ayah tidak perlu terlalu khawatir.”
“Tapi ayah tidak boleh memberikan fasilitas atau apapun kepada bibi karena keberadaanku. Karena aku akan marah kalau ayah melakukannya. Aku ingin ayah berpura-pura tidak tahu. Karena sekarang aku mengaku sebagai anak mereka.”
”Kau sudah bosan menjadi anak ayah?”
”Bukan begitu. Ini hanya sementara, sampai aku menemukan teman-teman sejati dan aku telah siap kembali ke rumah.”
”Sepertinya ayah harus banyak mengalah padamu. Bagaimana seandainya suatu saat ayah ingin menjumpaimu? Apa ayah harus mengerahkan anak buah ayah untuk mencari keberadaanmu?”
”Tidak perlu, ayah cukup meneleponku saja. Aku pasti akan langsung datang.”
”Ayah dengar kamu pindah ke kampus biasa.” Soli terperanjat, ternyata ayahnya juga sudah tahu kalau ia pindah tempat kuliah.
”Justru di tempat yang biasa, biasanya terdapat banyak ketulusan. Ayah, makanlah.” Soli mengingatkan karena sedari tadi ayahnya hanya asyik bicara dengannya, sementara makanan di depannya diabaikan.
”Nanti malam pulanglah ke rumah. Temani ayah menghadiri acara peresmian hotel rekan bisnis ayah.”
Soli langsung cemberut mendengar permintaan ayahnya. Sebenarnya dunia seperti itu yang kini ingin mulai ia jauhi.
”Anggaplah ayah memohon. Seandainya ibumu masih ada, ayah tidak akan memberatkanmu.”
”Baiklah, ayah.” setiap kali ayah berbicara dengan membawa nama ibunya, ia menjadi tidak berdaya. Ia tahu kalau ayahnya sangat kesepian setelah ibunya meninggal. Karena itu ayah lebih memilih menyibukkan diri dengan bekerja, hingga terkadang ia merasa terabaikan. Soli mencoba memahami, bahwa semua kerja keras ayahnya hanya untuk kebahagiaanya. Meskipun ia tetap ingin ayahnya mengerti kalau kebahagiaan terbesarnya adalah tetap bersama ayahnya.
Sesuai janjinya pada Yorin, selepas kerja mereka mampir sebentar di taman. Mungkin Yorin memang sedang butuh teman bicara. Sejak menjadi orang kaya mendadak, ibunya menjadi kurang peduli padanya. Ibunya memiliki hobi baru, berbelanja dan berkumpul dengan istri-istri orang kaya. Tidak seperti ibu yang dulu, ibu yang selalu memasak untuknya dan ibu yang selalu mendengar keluh kesahnya.
”Ayo, Yorin. Kamu bilang ingin melanjutkan ceritamu tentang DKK.” kata-kata Soli membuyarkan lamunannya tentang keadaan keluarganya.
”Eh, iya. Anggota DKK itu ada lima orang yang semuanya menyebalkan. Yang pertama Candra. Dia ketuanya. Orangnya putih, turunan ayahnya yang asal Inggris. Mukanya selalu jutek, tidak pernah tersenyum. Menyapa orang saja tidak pernah. Dunia seperti hanya miliknya sendiri. Rambutnya pendek, tapi ada kucir panjang di belakang yang dicat biru. Mmm… kalau aku lihat seperti ekor ikan pari.” Soli tertawa geli membayangkan seperti apa orang yang diceritakan Yorin.
”Yang kedua Pandu. Adik Candra. Tapi perbedaanya jauh, bagai langit dan bumi. Kalau mereka berdua disejajarkan, pasti terlihat seperti black and white. Putihnya Candra seperti bule, sedangkan Pandu seperti pribumi, kulitnya sawo matang. Banyak yang tidak percaya kalau mereka bersaudara. Padahal mungkin saja Pandu mengikuti ibunya yang asli orang Indonesia. Kalau kamu melihat mereka bersama, meskipun sangat kontras, tapi jangan pernah berpendapat atau memandang dengan pandangan aneh kepada mereka.”
”Kenapa?” tanya Soli penasaran.
”Menurut cerita teman-temanku, sudah banyak yang dipukul habis-habisan oleh Candra hanya karena memandangi mereka ketika lewat. Aku juga melihat sendiri, ada anak perempuan berambut panjang yang dipotong rambutnya menjadi sangat pendek, karena memberikan tatapan aneh kepada mereka.”
”Sampai seperti itu?” guman Soli sambil memegangi rambut panjangnya.
”Memang seperti itu. DDK yang seharusnya menciptakan suasana kampus yang tenang, malah membuat onar. Apalagi Oris. Meskipun tampan, tapi suka menyuruh orang seenaknya. Kemudian Sambu dan Restu. Mereka juga tak kalah menjengkelkan. Mereka sangat suka berbuat usil kepada anak baru. Aku saja pernah diberi hadiah tikus saat ulang tahun. Makanya nanti kamu juga harus hati-hati. Bersikap wajar saja.”
”Apa pihak universitas tidak ada yang mengatasinya?”
”Mana ada yang berani menasihati mereka. Anggota DKK semuanya adalah anak orang kaya yang mempunyai saham di universitas itu.”
Soli bisa mengerti. Saat dulu ia bersekolah di SMP swasta yang dibangun ayahnya, ia juga merasa sangat diistimewakan oleh kepala sekolah, guru, dan teman-temannya. Ia bahkan pernah menjadi ketua OSIS tanpa pemilihan, karena semua saingannya mengundurkan diri. Tapi ia tidak menyukainya, sehingga saat kelas dua semester dua SMP, ia minta pindah sekolah, dengan alasan bosan. Alasan utamanya karena ia tak pernah mendapatkan teman yang benar-benar mau menerimanya apa adanya. Mereka mau berteman hanya karena ia anak pemilik sekolah. Saat ia kelas lima SD, ibunya meninggal. Sejak saat itu ia merasa kesepian. Ibu tidak ada, ayah juga sibuk bekerja. Ia lebih suka menyendiri di atas pohon yang ada di taman kota.
Meskipun suasana jalan raya tetap terdengar bising, namun di atas pohon ia menemukan ketenangan dan kedamaian. Ia tak perlu memikirkan segala kesedihannya. Ia hanya perlu menikmati kesendirian. Walau sendiri, sepi, masih ada pohon yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Masih ada burung yang menghiburnya lewat suaranya yang merdu. Masih ada angin semilir yang selalu membelainya lembut, selembut belaian ibunya.
Tempat kecil di tengah kota yang ramai itu telah menjadi rumah kedua bagi Soli. Sebanyak apapun anak buah yang diperintah ayahnya untuk mencarinya setiap kali ia pergi diam-diam dari rumah, tak ada yang pernah menemukannya. Tak ada yang tahu kalau ia bersembunyi di tempat yang sebenarnya sangat sering dikunjungi orang. Ketika orang-orang suruhan ayahnya sedang kebingungan mencarinya, Soli hanya memandangi mereka dari atas pohon dengan senyuman kecil. Setelah puas menikmati kesendirian, biasanya ia akan pulang dengan sendirinya ke rumah. Dan orang rumah pasti akan heboh menyambut kedatangannya dengan tubuh kotor.
Di antara teman-temannya, dialah yang paling jago bersembunyi. Tidak pernah ada yang bisa menemukannya ketika bersembunyi. Sampai sekarang dia masih sama, masih suka bersembunyi dari ayahnya. Tapi ada satu teman yang tahu tempat persembunyian rahasianya. Seorang teman yang sering ia jumpai di taman kota, namun tak pernah ia tahu namanya. Perjumpaan Soli dengan temannya itu selalu dalam suatu situasi yang sama. Setiap kali orang itu datang, pasti bertepatan dengan Soli jatuh dari atas pohon.
Soli memang sangat lincah memanjat pohon. Namun ia kurang menguasai cara turun dari pohon. Oleh karena itu, ia sering jatuh karena terpeleset atau pegangannya yang kurang kuat. Pertemuan pertama dengan teman yang tak ia tahu namanya itu masih ia ingat dengan jelas. Saat itu, setelah semua anak buah ayahnya pergi dari taman kota, ia ingin segera turun. Ketika akan turun, dahan yang ia gunakan sebagai pijakkan tiba-tiba patah , akhirnya ia terjatuh. Ia jatuh tepat di depan seorang anak laki-laki yang sedang duduk di bawah pohon. Anak itu melihat Soli dengan ekspresi terkejut, melihat kemunculan Soli yang sangat tiba-tiba. Soli menangis. Bukan lantaran sakit di lengannya, tetapi karena malu, jatuh di depan orang, apalagi anak laki-laki yang mungkin seumuran dengannya.
”Kamu tidak apa-apa?” tanya anak itu sembari membantu Soli duduk.
Saat itu Soli terus saja menangis, karena malunya. Anak itu mengeluarkan dua batang coklat dari dalam tasnya, kemudian memberikannya kepada Soli.
”Kata ibuku, coklat bisa menghapuskan kesedihan dan rasa sakit. Makanlah.” katanya.
Soli langsung menghentikan akting menangisnya. Sedikit demi sedikit ia menggigit coklat itu. Rasanya enak. Soli memperhatikan anak baik yang menolongnya itu. Meskipun kelihatan baik, tapi tak ada senyuman di wajahnya. Anak itu lebih pantas disebut sebagai orang yang tidak bahagia. Mereka tak saling bicara, seperti layaknya orang yang baru saling mengenal.
”Pangeran....” terdengar suara seseorang memanggil. Anak itu menoleh ke arah datangnya suara.
”Teman-temanku sedang mencariku. Maaf, aku harus pergi. Lain kali berhati-hatilah, jangan sampai jatuh lagi.” kata anak itu seraya langsung berlari pergi.
Soli bangkit. Dilihatnya anak laki-laki--yang mungkin namanya ’Pangeran’—itu berlari menghampiri kedua temannya. Ia tersenyum. Meskipun belum tentu anak itu adalah benar-benar Pangeran, tapi ia tetap bahagia karena telah ditolong Pangeran.
Sejak pertemuan itu, entah kenapa Soli menjadi sering bertemu dengan ’Pangeran’. Cerita pertemuan itu masih sama, Soli jatuh, menangis, dan Pangeran memberinya coklat. Lambat laun mereka semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu sore untuk menikmati semilir angin di atas pohon, bercerita tentang kisah-kisah lucu yang terjadi di sekolah mereka. Tapi mereka tak pernah memiliki kesempatan untuk berkenalan. Mereka hanya saling menyapa dengan sebutan ’Hey’. Ketika ada teman-teman yang mencarinya, Pangeran itu akan pergi meninggalkan Soli.