Laman

Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pilihan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juli 2011

KARENA CINTA


Langit cerah tanpa awan, sang rembulan sempurna bulatnya, terang, memantulkan cahya mentari yang sedang bersinar di belahan bumi lainnya.
"Mas, kok pelan banget sih bawa motornya", suara lembut seorang penumpang di belakang terdengar, "katanya pembalap", dia tertawa pelan.
"Iya, habis mas ngga mau bawaan berharga yang mas bawa terjatuh"
"Lho, kita kan ngga bawa apa-apa"
"Kamu ngga bawa apa-apa, tapi aku kan bawa permata yang berharga"
"Permata..? Dimana?", tanya wanita berjilbab putih yang melambai-lambai tertiup angin.
"Permata tersebut adalah kamu, sayang. Engkaulah permata hatiku, permata duniaku, dan aku berharap, engkaulah permata akhiratku. Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan yang kumiliki adalah dirimu, isteriku"
Pipi putih sang wanita memerah, tersipu malu.
Kendaraan terus melaju menembus jalan malam yang sepi. Di sebuah tikungan yang tajam, ban belakang mendadak pecah, keseimbangan tidak terjaga, motor terjatuh. Suara logam yang membentur aspal, terdengar mengejutkan.
"Astagfirullah hal adzim", pekik sang wanita spontan. Motor terseret beberapa meter menggerus aspal.
"Engkau tidak apa-apa dek?", tanya pria berjaket hitam yang terjatuh. Tak dihiraukannya celana di lututnya yang berlubang dan mengeluarkan darah. Ia langsung bangkit, mendekati wanita yang terduduk, teman berkendaranya.
Sang wanita diam, ia terlihat shock, kaget. Telapak tangannya lecet berdarah. Dipapahnya wanita tersebut menepi. Dilepasnya helm yang dikenakan. Berjalan pelan setengah tertatih ke trotoar.
Wanita itu memperbaiki jilbab dan pakaiannya yang berantakan."Aduh sepertinya kakiku keseleo mas", rintihnya.
Seorang pria penjaga warung rokok, berlari mendekat. Membangunkan motor Kawasaki Ninja RR berwarna hijau lumut. Beberapa kali ia mencoba menetralkan gigi dan mendorongnya ke sisi jalan.
"Kita cek ke rumah sakit ya", sang pria coba menenangkan.
"Itu di depan sana ada praktek dokter mas", pria pemilik warung berkata. Sebuah plang putih terlihat di sebuah rumah, lima puluh meter di depan.
"Mas saya titip motor saya dulu ya sama sampean", pria separuh baya tersebut mengangguk.
"Yuk kita jalan", sang pria kembali menatap wanita yang terlihat sedikit pucat.
"Awww, aduh.., aku ngga bisa jalan mas, sakit", keluh sang wanita setelah berdiri dan coba melangkah.
"Ya udah sini mas gendong", diangkatnya sang wanita, tangan kanannya memegangi pundaknya, sedang tangan kirinya mengangkat kakinya.
Setelah berjalan sekitar dua puluh meter.
"Dik, sepertinya kamu bertambah berat ya, kayaknya setahun lalu waktu saya nikahin kamu, kamu ngga seberat ini deh", sang pria meringis. Antara tertawa di mulut dan peluh kecil yang menetes di dahi.
"Yeee, beratku tetap sama kok mas. Mas aja yang udah lama sih ngga pernah ngegendong adik, makanya jadi ngga terlatih deh"
"Hahahaha.., iya ya", tawa kecil bergema antara kedua pasangan tersebut.
Rok putih yang melambai ternoda darah dan lutut yang terluka sepertinya sudah sedikit terhiraukan oleh obat penawar sakit yang luarbiasa, cinta. Langit malam yang cerah tanpa awan, rembulan yang bulat sempurna, menyaksikan cinta menyelimuti dua insan yang sedang terluka.

Mas Parman Mencari Tuhan



"Ada yang aku lupa laporkan padamu, Yon," kata Mas Ihsan padaku, "ketika aku bertemu dengan Mas Parman."
"Wah, apa yang lupa, Mas?" tukasku menanyakan soal yang kelihatannya sangat penting. "Aku sempat bertanya begini," jelas Mas Ihsan padaku. "Apakah Mas sekarang sudah percaya dengan adanya Tuhan?"
Lalu, Mas Parman menjawab, "Loh, aku selama ini, sejak tidak percaya kepada Tuhan, tidak mencari-cari lagi. Sebab, apa saja yang telah aku temukan sebelumnya, pasti bukan Tuhan. Kalaupun ada, itu pun Tuhan ciptaan manusia. Tapi, mengapa tiba-tiba saja, kau menanyakan hal itu, San?" Mas Parman balik bertanya kepadaku.
"Kita kan sama-sama tahu, jika seseorang ingin bertemu dengan Tuhan, lakukanlah dengan amal saleh. Menurut hematku, sekalipun orang itu sudah atheis sejak awalnya, jika perbuatannya itu baik, ia akan menemukan Tuhan melalui pintu hidayah."
"Oh, begitu."
"Saya punya permintaan kepada Mas Parman, sebagai saudara tua yang paling kami cintai dan sayangi."
"Apa permintaanmu itu?"
"Begini Mas, tetapi jangan tersinggung kalau memang selama ini Mas Parman tidak lagi bermaksud mencari Tuhan, bagaimana jika waktu masuk masa pensiun, Sampeyan sekarang ini terus mempertahankan budi pekerti luhur sebagai jembatan untuk memperoleh penjelasan mengenai Tuhan. Jadi, Mas Parman mencari Tuhan atas permintaan saya dan demi seluruh saudara-saudara kita."
"Lalu, bagaimana hasilnya?" tanyaku tak sabar ingin mengetahui reaksi yang ditunjukkan Mas Parman.
"Alhamdulillah, Yon, Mas Parman mau. Tetapi, dia memerlukan bantuanku. Dia ingin mencari dan menemukan Tuhan melalui proses dialog denganku."
"Memang Sampeyan berdua itu paling akur, akrab, dan cocok pula. Kalau aku tidak sanggup, sebagaimana Sampeyan juga tahu, aku orangnya tidak sabar. Sebaliknya, Sampeyan, Mas Ihsan, memang telaten. Kemudian, apa saja yang sudah Sampeyan berdua lakukan dan bisa diceritakan padaku, Mas?" aku terus mengejar lantaran makin penasaran.
"Ya, pertama-tama aku mengajaknya sowan ke Gus Dur. Sebelum sowan, aku pertemukan Mas Parman dengan KH Agus Miftah, seorang kiai pengembara yang belajar di pelbagai pesantren, persis seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim."
"Apa yang Sampeyan dan Mas Parman dapatkan dari kiai itu?"
Ia bilang seperti ini:
"Wah, kalau sampeyan-sampeyan tanya tentang eksistensi Tuhan padaku, aku belum tahu jawabannya. Mari kita sowan ke Gus Dur dulu dan menanyakan pertanyaan ini kepadanya."
Ketika kami bertemu dengan Gus Dur, Kiai Agus bertanya kepada sang kiai yang sering dijuluki sebagai wali itu, "Kami ingin tanya, Gus..."
"Apa pertanyaanmu itu? Pasti aku kesulitan menjawabnya, sebab kamu ini kiai NU yang mbeling."
"Gus, sebetulnya Tuhan itu ada atau tidak ada, sih?"
"Oh, kalau pertanyaan itu, gampang saja menjawabnya."
"Apa jawabannya, Gus?"
"Ya, kalau orang percaya pada Tuhan, Tuhan ada. Tetapi kalau orang itu tidak percaya Tuhan, ya Tuhan tidak ada," jawab Gus Dur tidak mau repot.
Namun, seusai sowan dengan Gus Dur dan berpisah dengan Kiai Agus, Mas Parman berujar, "Saya kira, saya setuju dengan pendapat Gus Dur, kendati pendapat saya tetap berbeda dengan pandangan Gus Dur itu. Menurut saya, Tuhan itu tidak ada, karena itu tidak usah dicari-cari."
Setelah itulah aku menegaskan kembali maksud utamaku kepada Mas Parman sambil mengungkapkan pikiranku, "Kalau aku sendiri," demikian aku berkata pada Mas Parman, "sejalan dengan kedua pandangan Kiai Agus Miftah dan Gus Dur, karena itulah, lagi-lagi, kami saudara-saudara Sampeyan, memohon agar Mas Parman memenuhi permintaan kami."
Selang beberapa hari kemudian, kami menerima undangan untuk menghadiri Majelis Pengajian Tauhid Wahdatul Ummah. Pengajian itu dilaksanakan di Simprug, rumah Kiai Agus Miftah. Di rumah itu, pengajian dilaksanakan di tepi kolam renang dengan udara terbuka. Kebetulan, waktu itu muncul bulan sabit di sela-sela pohon kelapa. Suasananya memang indah, hanya saja dingin. Yang cukup menarik lagi, ternyata pengajian tersebut dihadiri orang-orang dan tokoh-tokoh lintas agama. Tentu saja, pembicaranya tidak hanya ulama-ulama, tetapi juga pendeta dan romo-romo. Pesertanya bisa beragam dan hampir dari semua kalangan. Karena itu, pengajiannya lebih berbentuk diskusi yang bersifat dialog kritis. Acara presentasi yang biasanya dilakukan paling sedikit oleh dua orang dan didahului dengan uraian dari Kiai Agus Miftah. Tak dapat disangkal, kiai itu luas sekali pengetahuannya, tidak saja mengenai Islam tetapi agama-agama lain juga. Dalam ceramah yang kami hadiri itu, Kiai Agus mencoba menjawab pertanyaan kami, yaitu apakah Tuhan itu ada? Sesuai dengan jawaban Gus Dur, Kiai Agus Miftah juga berpendapat bahwa hal itu sesuai dengan orang yang bertanya. Apabila orang itu percaya, ya Tuhan ada, jika tidak, ya Tuhan tidak ada. Kemudian Kiai Agus menguraikan selintas sejarah Tuhan, seperti halnya dilakukan oleh Karen Amstrong.
Ia mengawali keterangannya seperti ini: "Sebagian manusia memang percaya dengan adanya Tuhan. Masalahnya, mereka tidak mampu memberikan argumen yang memadai tentang adanya Tuhan. Ilmu pengetahuan yang ilmiah telah gagal. Dengan kata lain, Tuhan memang tidak dapat dicari dengan ilmu pengetahuan, tetapi dengan pengalaman kebatinan. Menyelami pengalaman mencari Tuhan merupakan laku seorang sufi. Sebagian dari mereka merasa telah menemukan Tuhan. Misalnya, Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn 'Arabi, dan sebagainya. Namun, permasalahan asal dari semua itu akan selalu berbenturan dengan adagium dasar. Yakni, Tuhan yang ditemukan oleh siapa pun adalah bukan Tuhan. Tuhan hanya bisa ditemukan di akhirat kelak. Itu pun kita tidak bisa tahu dan memastikannya. Dari pengalaman mencari Tuhan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan yang kita percaya selama ini adalah Tuhan buatan manusia."
Di tengah-tengah paparan Kiai Agus, Mas Parman berbisik kepadaku, "Makanya aku tidak memercayai Tuhan yang digambarkan oleh manusia, kalaupun harus percaya, aku hanya percaya kepada Tuhan yang diinformasikan oleh Tuhan sendiri. Tetapi, kalau boleh tanya, dari mana informasi ihwal Tuhan dapat diperoleh, apakah dari Alquran?"
"Ya memang tidak," jawabku. Aku pun lantas menambahkan, "Kita bisa mendapatkan informasi tentang Tuhan dari semua Kitab Suci, bahkan juga penjelasan dari para filsuf dan sufi. Akan tetapi, informasi yang tetap autentik pasti dari Kitab Suci, bukan filsafat. Karena, lagi-lagi semua yang dideskripsikan oleh filsuf atau seorang sufi sekalipun, itu adalah Tuhan ciptaan manusia atau yang dipersepsikan oleh manusia. Akibatnya, deskripsi tentang Tuhan berbeda-beda. Antara lain, Tuhan menurut orang Islam: Allah, orang Kristen: Tri-Tunggal, Sang Bapak, Sang Anak, dan Roh Kudus, yang merupakan three in one. Di sisi lain, Tuhan menurut orang Yahudi sering disebut Yahweh. Jadi, Mas Parman, masalahnya tetap soal kepercayaan."
"Demikianlah diskusi antara aku dan Mas Parman di sela-sela pengajian Kiai Agus Miftah. Kemudian kami terus mendengarkan dengan khidmat ceramahnya," ungkap Mas Ihsan.
"Yon," Mas Ihsan mencoba memberikan pengertian padaku, "Itulah sebabnya kita mesti dapat memahami sikap Mas Parman yang selama ini menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada, namun akhir-akhir ini dia mulai berusaha mencari-Nya. Tak pelak, yang dilakukan Mas Parman itu tidak berbeda sama sekali dengan laku para sufi, yaitu mencari Tuhan dengan pengalaman batin. Pada prinsipnya, Tuhan memang bisa dicari dengan pelbagai cara. Kita sendiri meyakini seseorang yang mampu menemukan Tuhan, semata-mata berkat hidayah-Nya. Untuk bisa memperoleh hidayah, kita harus beribadah. Menurut Kiai Agus konsep ketuhanan Islam itu berasal dari konsep Yahweh. Keduanya, Islam dan Yahudi, menyebut Tuhan itu sebagai Baal. Sedangkan simbol ketuhanan dalam Islam sendiri adalah Kakbah, yang di dalamnya terdapat Hajar Aswad. Konsep itu sejatinya mengikuti simbol ketuhanan Yahudi, yang disebut rock of the doom. Bagi kami, orang Islam, Tuhan Yahudi, dan Tuhan orang Islam pada hakikatnya sama. Tetapi, sebagian ulama memberikan tafsiran bahwa Tuhan Yahudi itu merupakan Tuhan yang keras, sedangkan Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang Pengasih, dan Islam sendiri menyebut Tuhan sebagai Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena itu, Tuhan dalam Islam menyempurnakan konsep-konsep Tuhan sebelumnya, terutama Tuhan orang Kristen dan Yahudi."
Kemudian, aku mengajukan pertanyaan lebih lanjut pada Mas Ihsan, yang setelah lulus dari Pabelan memang berhasil menjadi seorang teolog Muslim. Aku sendiri malah menjadi seorang petani-pengusaha, karena aku memasuki Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta, setelah lulus dari Pesantren Al-Islam, "Bagaimana hasil yang dicapai para sufi itu?" Mas Ihsan menjawab, "Beberapa orang sufi merasa telah menemukan Tuhan. Al-Hallaj merasa menemukan Tuhan setelah mengalami hulul, atau persatuan dengan Tuhan, sehingga dia mengeluarkan pernyataan ana al-haq (aku adalah Tuhan). Banyak kesalahpahaman terhadap perkataan Al-Hallaj itu, yang menyebabkan Al-Hallaj akhirnya dihukum mati. Padahal, yang dimaksud oleh Al-Hallaj sebenarnya menurut pendapatku, ia telah menemukan Tuhan dalam dirinya sendiri, yang selama ini memang sangat dekat, karena teramat rajin dan khusyuknya Al-Hallaj dalam beribadah. Tuhan sedekat urat lehernya. Hemat saya, pada waktu itu Al-Hallaj memperoleh hidayah dan diberikan pengertian yang terang tentang Tuhan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jalaluddin Rumi. Ia akhirnya mampu bercerita bahwa selama ini ia merasa berada di kamar gelap. Lalu ia dengan sekuat tenaga mencari tahu. Namun, ternyata hampa dan tidak menemukan apa-apa dalam kamar gelap itu. Artinya, usaha mencari Tuhan itu tidak perlu. Karena Ia sudah ada dalam diri seseorang yang dapat dirasakan lewat pengalaman batin, melalui kesadaran
rohani."(...pengalaman sufistik Ibn Arabi mencari Tuhan...)
"Oh, begitu," gumamku.
"Pengalaman rohani yang dilalui Mas Parman," begitulah Mas Ihsan mencoba mengaitkan pencarian Tuhan Mas Parman dengan laku para sufi, mulai tumbuh persis seusai mengikuti ceramah dan diskusi bersama majelis pengajian Kiai Agus Miftah. Mas Parman langsung berkomentar di dalam mobil:
"Wah, ini memang pengajian yang hebat. Selama ini saya tidak pernah mengalami pengajian yang menarik seperti ini. Saya kagum dengan Kiai Agus Miftah yang menyampaikan pandangannya melalui proses diskusi dengan pendengar yang kritis dan beranekaragam pendapatnya. Dengan begitu, respons dari para peserta pengajian sangat penting artinya. Maka itu, kalau saya, lain kali diundang lagi, saya mau menghadirinya."
Alhamdulillah dengan respons Mas Parman itu, aku pun jadi turut belajar banyak.
"Dik," sahut Mas Parman lagi, "terus terang saya bangga karena memiliki adik seperti kamu. Tanpa kamu saya tidak akan pernah bisa belajar seperti ini."
"Kalau begitu, berilah aku kesempatan untuk terus mendampingi Sampeyan, Mas. Aku juga masih perlu banyak belajar dari Mas Parman yang bijaksana ini."

Nada Galau Bunga



Namaku Prahmitha Bunga Diphya. Aku dibesarkan dikeluarga yang berkecukupan. Aku anak terakhir dari empat bersaudara, kuliah disebuah perguruan tinggi negeri fakultas ekonomi. Suatu tempat beribu kenangan, yang tak pernah henti memaksa airmataku mengalir ketika terhanyut pada suasananya. Mita, begitu teman-teman memanggilku. Aku si bungsu yang manja, terkadang aku benci sifatku yang satu itu. Buah kekanak-kanakanku telah menorehkan rasa pahit yang harus aku telan. Dan hingga kini, aku belum menemukan penawar untuk menjadikannya manis.
Aku berpuisi, menyisakan perih merintih
Rasa sesal yang larut tak berkesudahan...
Aku menepi, berharap berlabuh dari samudera derita
Tapi tonggak tambat tak satu pun ku temui...
Aku menunduk, berharap anginnya tak lagi menerpaku.
Lagi-Lagi aku salah besar, justru pusaran dibawahnya semakin menggilingku
ke puncak tak beratap
Setetes embun murni, aku cari dari beribu buih air asin samudera itu
Menengadah menanti hujan, tapi hanya tampak awan kelam…
Bumi memusuhiku, dunia mencercaku
Aku sedih, tertatih…
Aku pilu, berkutat dalam pelik roda waktu
Tak ada yang menyalahkan aku, tapi hatiku tak mau tahu
Ia telah terlanjur malu, dan kini hanya tertunduk membisu
Mataku tak berani menatap, ia bersembunyi dibalik kelopaknya yang terkatup rekat
Aku bernyanyi, dalam lagu datar yang tersisih
Iramanya, tak seorangpun mengerti…

Aku begitu hampa menjalani hari-hariku. Begitu banyak tangan berusaha menggapaiku, tapi aku tak berani menyambutnya. Rina dan Dewi teman baikku, mereka telah melesat luar biasa. Mereka menandingi cepat Fatimah, melangkah dengan deru menggelegar. Harusnya aku menaiki lagi perahu yang belum selesai berlayar itu. Tapi aku belum siap. Siti Puji Hanifah, saudara seperjuanganku, terus-menerus merangkulku. Sosok yang sopan dan rendah hati, kesan itulah yang aku dapatkan darinya selain sifatnya yang tidak mudah mengeluh dalam mengerjakan sesuatu.
Aku berpuisi,menyisakan perih merintih
Seharusnya samudera itu menarik bagiku…
Seharusnya angin itu adalah teman dalam perjalananku…
Aku butuh mereka untuk melayarkan bahteraku
Mereka adalah bagian dari episode ribuan kisah yang menjadi legenda…
Cerita mengenai seorang puteri yang mengarungi dunia
Aku bernyanyi, dalam lagu datar yang tersisih
Iramanya, tak seorang pun mengerti…
***
Hari berikutnya… Aku takjub melihat saudara-saudaraku. Mereka bekerja sekuat tenaga, membangun ukhuwah meneratas keimanan. Aku terpanggil. Aku berusaha mendekat, namun tanganku terikat entah oleh apa…
"Mita, apa yang kau tunggu…"
"Puji…, Rina…, Dewi…, Kalianlah Fatimah-Fatimah sejati…." Aku takut jika harus membayangkan salah satu dari mereka terlempar dari jalan yang telah mereka pilih itu. Sedangkan aku, teronggok dalam bongkahan bersama para yang berjatuhan.
Aku berpuisi, menyisakan perih merintih
Rasa sesal yang larut tak berkesudahan...
Aku mulai terendam sebatas muka
Tak butuh banyak waktu untuk segera menenggelamkan aku
Menunggu satu angin lagi, yang menderu ombak beranak pinak
Menunggu satu angin lagi, maka habislah aku…
Aku bernyanyi, dalam lagu datar yang tersisih
Iramanya, tak seorang pun mengerti…
"Bunga…!"
Aku terkejut. Benarkah suara itu tertuju padaku…
"Iya, engkaulah Bunga. Bunga yang dibanggakan Fatimah…"
Aku terdiam. Seketika berlinang airmataku. "Kau benar, aku adalah Bunga…"
***
Namaku Prahmitha Bunga Diphya. Aku dibesarkan dikeluarga yang berkecukupan. Aku anak terakhir dari empat bersaudara, kuliah disebuah perguruan tinggi negeri fakultas ekonomi. Suatu tempat beribu kenangan, yang menyimpan begitu banyak senyuman dalam tangis haru kebahagiaan. Bunga, begitu teman-teman memanggilku. Aku si bungsu yang mujahidah. Buah atas kekuatan keimanan yang menorehkan kenikmatan tiada tara. Dan hingga kini, aku belum menemukan racun yang mampu merusak aroma dan rasanya.
Aku berpuisi, melantunkan nada indah menyentuh hati
Rasa cinta yang getarannya memenuhi dunia ...
Aku terus berlayar tanpa pernah terpikir menepi
Walau beribu tonggak tambat acap kali ku temui...
Aku berdiri tegak, angin-angin itu belum mampu membuatku bergerak
Pusaran dibawahnya hanya berputar sebentar kemudian pudar
Berjuta embun murni, berbaur menawar buih air asin samudera itu
Menengadah menatap hujan, awannya menggelayut bersahabat
Bumi menyambutku, dunia tersenyum padaku
Aku kokoh, pantang roboh…
Aku bergemuruh, membalap putar roda waktu
Tak ada yang menyalahkan aku, hatiku tahu itu
Ia begitu berani, dan kini semakin teguh memilih
Mataku lantang menatap, kelopaknya tak pernah berkejap
Aku bernyanyi, dalam lagu berbait kedamaian
Iramanya, akan selalu dinantikan
Ku tuliskan perasaan terdalamku pada secarik kertas, tumpahan pesan yang ingin kusampaikan kepada saudaraku yang telah berpulang…
"Fatimah…, Aku takut jika harus membayangkan salah satu dari kami terlempar dari jalan yang telah kami pilih ini. Aku berjanji, akan kujaga ukhuwah ini sekuat tenaga, yang dengannya aku rasakan kelapangan dalam menjalani hari-hari yang melelahkan, keindahan kebersamaan mereguk nikmat memahami keletihan. satu pun, tak akan kubiarkan ada yang berjatuhan. Tanganku cukup kuat untuk membantu memapah, karena tanganku berisikan tenaga dari Tuhan-ku yang Maha memiliki daya…"
***

PERTEMUAN YANG MEMBAWA BERKAH



Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
“Nur” begitu dia biasa dipanggil oleh teman - temannya. Berita terakhir menyebutkan bahwa Nur merantau keluar kota buat mencari pekerjaan dan berhasil. Untuk ukuran seorang pemuda yang masih melajang dia tergolong sudah cukup mapan. Nur adalah shahabat Sholeh yang senantiasa mengingatkan tentang agama saat belum merantau.
Saat ini Nur rupanya sedang mencintai seorang gadis, hatinya telah dimasuki oleh kecintaan yamg kuat terhadap gadis itu. Berbagai cara telah dia jalani untuk menarik hati gadis yang didambakannya, tetapi Allah berkehendak lain, sikap sigadis membuat bingung Nur.
Setiap pertemuan yang telah diatur dengan memakan waktu dan pikirannya tidak membuahkan hasil, setiap bertemu tidak menjadikan dia bahagia, berbeda sekali dengan apa yang ada didalm bayangannya.
Setiap menit pikirannya dipacu untuk berpikir bagaimana cara yang terbaik untuk menaklukan hati gadis itu, memberi hadiah yang mahal sudah , pergi ketempat wisata dengan biaya yang besar pun sudah dijalankan tetapi tidak menunjukkan tanda- tanda yang pasti. Nur mulai kacau, shalat dia tinggalkan, mengingat Allah tidak pernah, setiap detik dan menit pikiran dan hatinya cuma memikirkan gadis pujaannya itu, minuman keras pun mulai memasuki jadual hariannya, gitar menjadi pendampingnya.
Nur bahkan pernah berucap. Kalau aku tidak bersama dia maka hidupku tidak akan bahagia. Astaghfirullah hal Adzhiem. Hari demi hari hidupnya makin kacau, miras dan guitar yang dia pikir bisa menyelesaikan maslahnya malah menambah daftar kekacauan dalam hidupnya, pekerjaannya mulai tidak beres dan dia sering mendapat teguran dari atasannya, seolah olah tidak ada hari tanpa masalah bertumpuk tumpuk, seperti awan gelap yang akan menurunkan badai.
Tidak ada teman yang menasihatkan dia, setiap orang yang berjumpa dengan dia hanyalah orang orang yang memiliki kebiasaan buruk seperti dia. Semakin jauh dari petunjuk, semakin banyak masalah datang bertumpuk-tumpuk. Mandi dan makan pun tidak menjadi kebiasaan, pokoknya yang ada dalam pikirannya hanya wajah gadis itu.
Suatu saat terlintas dalam benaknya bayangan seolah olah dia itu seperti tikus yang berada dalam permainan mencari jalan keluar, setiap dia yakin jalan itu jalan keluar semakin dia tersesat, dan dia merasa ada sebuah kekuatan yang membuat dia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi apa? Mulai terasa ada sesuatu yang tidak tampak dan mempunyai kekuatan besar dan mampu mengatur dan menggagalkan setiap keinginannya, akan tetapi itu bukan manusia…lalu siapa? Nur tahu bahwa itu Allah Penguasa Timur an Barat, yang ditanganNYA lah kekuasaan. tetapi dia masih dalam keadaan bingung dan bingung. Semua orang di dekatnya mendukung dan membantu dia untuk mendapatkan hati gadis itu tapi hasilnya nihil itu yang membuat dia bingung, tampang dan penghasilan pun mendukung tetapi kenapa ini bisa terjadi????kegelapan dan kekusutan menjadi teman hidup.
Malam Kamis, Sholeh sedang berada dalam kamar, khusyuk melakukan shalat hajat. Sementara diluar, suasana begitu tenang seolah olah ikut dalam kekhusyukan seorang hamba yang sedang menghadap Penciptanya. Sesekali terdengar suara isak tangis Sholeh mengiringi bacaan dalam sholat.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, Selesai memanjatkan do’a tiba - tiba terdengar suara mengucapkan salam dari arah luar…..Sholeh pun segera beranjak dari sajadahnya
mendatangi arah suara.
Begitu pintu dibuka tampak disitu berdiri shahabat lama sholeh yang sudah sekian tahun tidak kelihatan batang hidungnya.
Nur : ” Assalammu’alaikum Leh……. Sholeh : ” Wa ‘alaikum salam Nur……Masya Allaah senang ketemu ente lagi…., waaah sudah sukses ya sekarang….? eh….yuk kita masuk kedalam……” ajak sholeh.
Sholeh : ” Enak ya sekarang Nur…….” Sholeh melanjutkan.
Dalam pandangan Sholeh dan orang banyak memang Nur terlihat bahagia dengan keadaanya sekarang, padahal Nur sedang mengalami masalah yang dia sendiri tidak menemui pemecahannya.
Nur : ” Ahh Sholeh ente bisa aja……, Justru ente yang ane lihat bahagia sekali, tidak ada raut muka kegelisahan dan kecemasan…..”
Dalam pandangan Nur keadaan sholeh yang masih memakai gamis putih lengkap dengan kopiah putihnya ditambah lagi wajahnya yang ceria memberikan gambaran yang sangat membekas dihatinya.
Nur : ” Wajah sholeh kok seperti bercahaya, cerah sekali dan tenang, berbeda sekali dengan keadaanku, padahal nasibnya dari segi materi jauh sekali dibanding aku, dia tadi bilang enak jadi aku…….? seandainya dia tahu aku sedang kusut dan kacau, tak ada kebahagiaan sama sekali dalam kehidupanku ( Nur berujar dalam hati )
Sholeh : “Nur……Allah itu mampu membolak balikkan hati manusia, sedangkan manusia tidak. Betapapun kita menginginkan agar hati seseorang berubah meskipun dengan berbagai cara yang menurut kita akan mampu merubah hati orang tersebut tanpa izin Allah maka itu semua tidak akan terjadi…….sia-sia aja” Entah mengapa Sholeh tiba tiba berkata seperti itu, dan itu cukup membuat Nur terkejut. Padahal dia belum menceritakan apa - apa mengenai permaslahannya, tapi kenapa kok sepertinya apa yang diucapkan si Sholeh berhubungan.
Sholeh : ” Allah itu maha melihat dan maha mendengar dan Allah itu sebaik baik perencana. Tak ada satupun makhluk yang dapat bergerak atau diam melainkan dengan izin Allah “.
Sholeh : ” Kebahagiaan dan kejayaan umat manusia itu hanya ada dalam agama yang sempurna,Semakin kita dekat dan banyak mengingat Allah maka hati kita akan diberikan ketenangan jiwa. Kebahagiaan ada di tangan Allah Penguasa alam semesta. Sebagaimana ikan yang hidup tanpa air, maka seperti itulah hidup manusia apabila tanpa agama.
Nur bertambah kaget dan tidak terasa dari bibirnya keluar ucapan “Allaahu Akbar”, kata yang selama ini sudah lama sekali tidak diucapkan, bahkan telah lama tidak terbersit di dalam hatinya untuk mengingat Allah. Rupanya kepergian Nur untuk merantau jauh dari kampungnya telah membuat dirinya pun jauh dari Allah.
Tak terasa air matanya meleleh demi merasakan kejadian malam itu, rupanya pertemuan kedua orang shahabat itu dirasakan oleh Nur adalah rencana dan kasih sayang Allah….
Kejadian itu menghunjam hatinya, menggetarkan batinnya dan menampakkan kembali ingatannya pada masa dia dulu saat dekat dengan Allah pencipta langit, bumi beserta isinya.
Kalimat - kalimat yang terlontar dari Sholeh shahabatnya dirasakan sebagai peringatan dari Allah untuk dirinya sekaligus kasih sayang Allah untuk memberi kesempatan pada dirinya sebelum ajal menjemput untuk kembali kepada keimanan.
Betapa dirinya telah Zhalim karena menganggap bahwa ada sesuatu benda atau makhluk yang dapat memberikan kebahagiaan selain Allah, padahal Tiada satupun yang mampu memberikan manfaat atau mudharat selain Allah.
Nur : ” Ane udah lama nggak sholat Leh, Bener harta dan kedudukan tidak menjamin kebahagiaan seseorang….., ente bilang ane udah enak dengan apa yang ane miliki, tapi ane lihat ente lebih bahagia daripada ane. Ente bener Allah maha melihat dan maha tahu isi hati hambanya.
Sholeh : ” Subhanallah Nur, Allah telah menyediakan Air yang cuma-cuma untuk kita pakai berwudhu kemudian shalat dan menghadap kepada Allah, mengadu kepada Allah atas segala permaslahan kita. Sebagaimana Rasulullah pun menjadikan shalat sebagai penyejuk matanya, dan juga para shahabat RA, menjadikan shalat dan sabar sebagai penolong mereka. Ingat kan Nur kita harus senantiasa mengeluarkan kebesaran makhluk dan benda - benda dalam diri kita dan memasukkan kebesaran Allah kedalam hati kita”
Setelah itu Nur pun menceritakan semua yang dialaminya sampai kemudian dia sampai di rumah Sholeh.
Sholeh : “Allah benar benar Maha Perencana yang baik ya Nur….., Maha suci Allah”
Nur berdoa dalam hati : ” Ya Allah telah lama hamba melupakan MU, tetapi sekarang dengan kasih sayangMU Engkau tunjukkan aku ke jalan MU, Engkau Beri kesempatan kepada hamba untuk mendekat kepada Mu dengan jalan yang baik, Ampunilah Dosa hamba ya Allah, Hamba telah menganggap dan berkeyakinan bahwa tanpa gadis itu hamba tidak akan bahagia, padahal tanpa Engkaulah hidupku akan sengsara, sekarang engkau telah tunjukkan bahwa tanpa gadis itu kebahagiaan telah hadir dalam jiwaku dengan mengingat keberadaanMU……Laa ilah ha ilallaah…..tiada yang dapat memberikan manfaat, kebahagiaan , keburukan kecuali Engkau ya Allah……”
Kepulangan Nur kekampung dan kerumah Sholeh sebenarnya dikarenakan dia ingin mengambil barang miliknya yang dulu pernah dipinjamkan kepada Sholeh tanpa batas waktu, sekalian dia ingin main saja. Rupanya pertemuan itu telah membuka mata hatinya.
Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (S. al-Furqan: 31). Ingat saat ketika datang waktunya kita masuk ke dalam alam yang kita tidak bisa melakukan amalan kebaikan, yang ada hanyalah pembalasan atas amalan kita selama ini ….Kehidupan Akhirat……Kubur…….Mashyar