Laman

Tampilkan postingan dengan label Dunia Kepenulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kepenulisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2011

Novel Sang Pemimpi

 "Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah, jika engkau tidak mengetahui siapa yang disembah akhirnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sembahan yang sia-sia." (Syekh Siti Jenar)
Itulah sebuah kutipan yang dapat kita temui dalam salah satu seri dari Tetralogi Laskar Pelang. Entah mengapa kutipan itu dimasukkan. Whatever!
Okay

Bagi pecinta Laskar Pelangi, silakan download seri ke-2 dari Tetrlogi Laskar Pelangi ini.
Selamat membaca
:)

Download Link:
Sang Pemimpi_Andrea Hirata

Catatan Hati Seorang Istri (Asma Nadia)

Saat cinta berpaling dan hati menjelma serpihan-serpihan kecil, saat prahara terjadi, saat ujian demi ujian-Nya terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri, kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati mampu terus bertasbih?

Telah kutinggalkan cemburu di sudut kamar gelap
Telah kuhanyutkan duka pada sungai kecil yang mengalir dari mataku
Telah kukabarkan lewat angin gerimis
Tentang segala catatan hati yang terhampar di tiap jengkal sajadah
Dalam tahajud dan sujud panjangku

Itulah sepenggal kata-kata indah dalam buku Catatan Hati Seorang Istri yang sungguh sangat menyentuh hati. Buku yang mengisahkan beraneka warna kehidupan tentang wanita. Senyuman, tangisan, ketabahan, ketidakberdayaan, penderitaan, dan kebahagiaan... semua ini tentang para wanita, para kaum istri. Melalui buku ini, kita akan lebih memahami perasaan seorang wanita, perasaan seorang istri.

Download Link:
Catatan Hati Seorang Istri

Sabtu, 16 Juli 2011

MANFAAT MENULIS BAGI KESEHATAN MENTAL

Menulis bisa membuat gila? Lalu untuk apa menulis?
Bagi sebagian orang, menulis dianggap membosankan. Buang waktu hanya untuk sebuah tulisan yang belum tentu dibaca, disukai atau dinikmati orang lain. Sah-sah saja sih berpendapat seperti itu karena tiap orang punya kepentingan dan keinginan yang berbeda dengan menulis. Bagi yang telanjur menganggap menulis itu gak penting, luangkan sedikit waktu untuk sekedar merenung : apa arti tulisan dan mengapa orang mau menulis bahkan bisa menulis. Alasannya pasti beragam, mulai dari sekedar hobi, mengembangkan bakat (alih-alih jadi bakat ku butuh…), kepuasan mengekspresikan pikiran dan perasaan, tuntutan pekerjaan dan yang paling “menjual” bisa mempengaruhi dan mengubah pikiran orang lain atau menginspirasi orang lain. Apa sebenarnya yang menarik dari kegiatan menulis? Adakah manfaat menulis untuk kesehatan mental kita?
Menulis ternyata memiliki banyak keunikan dan manfaat. Keunikan menulis akan dirasakan ketika kita menikmati kegiatan itu ( mungkin saya termasuk orang yang sangat menikmati kegiatan menulis). Keunikan pertama dari kegiatan menulis bisa tercermin lewat kepuasan batin bahkan memberikan pengaruh bagi pola hidup si penulis.  Secara aktivitas, menulis memang membutuhkan waktu yang kadang-kadang tak sedikit. Bisa berjam-jam, berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Apalagi jika tulisan yang dibuat bersifat riset ilmiah atau sebuah discovery, waktu yang dibutuhkan bisa bertahun-tahun. Namun, proses itu akan terasa begitu berharga ketika hasil itu diapresiasi dan memberi banyak manfaat. Sebuah kepuasan yang tidak terbeli dengan nilai material. Kepuasan batin ini akan memberikan pengaruh positif terhadap kondisi mental si penulis. Misalnya, bisa memotivasi kreativitas dan rasa percaya dirinya untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik.
Keunikan lain dari  menulis ialah bisa membuat gila. Mengapa? karena menulis itu memerlukan ide, masalah dan tujuan. Orang bisa menjadi gila baca dan gila pengetahuan untuk mendapatkan inspirasi bagi tulisannya; gila-gilaan mengasah imajinasi untuk menemukan ide-ide gila dan mengembangkan cerita pada tulisannya. Orang juga bisa segila mungkin menggali pengalaman individual dan sosial untuk menemukan masalah serta data-data pendukung tulisan; memiliki semangat, kemauan dan strategi yang gila untuk menuangkan ide, merumuskan dan mencapai tujuan dari tulisannya; serta menjadi gila kerja untuk menghasilkan karya yang luar biasa. Berkaitan dengan ini, ada sejumlah orang yang harus menulis terlebih dahulu agar ia bisa tertidur. Ini menunjukkan adanya koneksi antara kepuasan hati dengan ketenangan pikiran dengan mengekspresikan dorongan hasrat dan imajinya. Makanya, saya sebut menulis bisa membuat orang menjadi gila, maksudnya menggilai aktivitas itu.
Keunikan di atas bersimultan dengan manfaat menulis. Menulis dapat menjadi tempat menyalurkan perasaan dan pendapat yang jika disimpan bisa berdampak negatif bagi tubuh dan pikiran secara fisik dan mental. Sebagaimana diungkapkan James Pennebaker, Ph.D, dan Janet Seager, Ph.D, dalam jurnal Clinical Psychology bahwa orang yang memiliki kebiasaan menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat dari mereka yang tidak punya kebiasaan tersebut. Pikiran yang sehat tentunya akan memberi kekuatan positif pada tubuh kita. Dengan memahami ini, maka menulis bisa menjadi kekuatan dan sebuah tulisan bisa menjadi kekuatan bagi penulis bahkan pembacanya. Cobalah baca Chicken Soup dengan berbagai serinya. Kisah-kisah nyata yang begitu inspiratif dan mampu membuka cakrawala hati pembacanya. Di sanalah kekuatan sebuah tulisan berbicara. Banyak lagi tulisan-tulisan yang berkekuatan, seolah-olah memiliki daya magis yang bahkan bisa mengubah pola pikir pembacanya. Jika kita kaitkan dengan kegilaan menulis, hal ini sangat simultan. Kegilaan seperti ini tidak selalu buruk bagi mental seorang penulis, meskipun ada beberapa kejadian pada penulis novel yang memiliki kelainan psikologis karena terpengaruh tulisannya sendiri. Sebagaimana penemuan Pennebaker, tidak sedikit pasien penderita trauma mengalami kesembuhan setelah menjalani terapi menulis, sehingga dalam beberapa tahun terakhir, menulis dikembangkan menjadi media therapis oleh para psikolog dan psikiater.
Manfaat lain dari menulis ialah kita bisa menghargai data dan waktu. Joel Saltzman dalam bukunya If You Can Speak You Can Write mengungkapkan bahwa menulis tidak berhenti pada langkah pertama. Artinya, menulis tidak cukup sekali dan sekali jadi, tetapi diperlukan upaya untuk menulis kembali. Penyuntingan, revisi, dan penulisan kembali merupakan langkah penting untuk menyempurnakan hasil tulisan. Seorang penulis perlu memeriksa kembali tulisannya secara kritis dan objektif mengenai berbagai hal, khususnya dalam ketepatan pemilihan kata, contoh, dan ilustrasi, serta menghindari kesalahan dalan penyusunan kalimat. Ini menunjukkan bahwa waktu sangat berharga untuk dimanfaatkan bagi seorang penulis dan menulis membutuhkan waktu apalagi untuk menghasilkan tulisan yang memiliki kekuatan. Penghargaan atas waktu berpengaruh positif terhadap kestabilan dan kesehatan mental si penulis. Orang yang menghargai waktu merupakan orang yang mampu dan mau memanfaatkan waktu sesempit apa pun untuk kebermaknaan hidup, sehingga dengan sendirinya akan membangun mentalitas dan pola pikirnya. So, menulis itu asyik lho! terlepas dari ada tidaknya apresiasi atau opini orang lain atas tulisan kita.
Setiap diri kita adalah penulis untuk diri dan kehidupan kita karena hanya kita yang benar-benar mengerti siapa diri kita. (Nia Hidayati)

Sumber:
http://programatujuh.wordpress.com/2010/06/20/manfaat-menulis-untuk-kesehatan-mental/#more-322

CARA MEMBUAT CERPEN


Cerpen atau cerita pendek adalah tulisan yang menggambarkan tentang kehidupan manusia di suatu tempat dan dalam kurun waktu tertentu. Tulisan ini dibuat pendek, maksimal 20.000 karakter, meskipun sebenarnya bisa dibuat panjang, lebih dari sejuta karakter. Tulisan yang dibuat dengan panjang tidak disebut cerpen, tetapi disebut novel atau biografi. Cerpen memiliki minimal empat buah unsur, yaitu tempat, waktu, pemeran dan peristiwa.

Tak ada batasan yang pasti tentang tempat, tetapi cerpen yang baik hanya menggambarkan peristiwa di sebuah tempat, tidak menggambarkan peritiwa di tempat lain, meskipun keduanya saling berhubungan. Yaitu peristiwa yang dianggap menarik oleh penulisnya untuk disajikan kepada pembaca. Peristiwa itulah yang dijadikan sebagai inti cerita. Inti cerita itu kemudian dikembangkan lagi dengan gambaran lain sebagai pelengkap cerita itu.

Karena hanya menggambarkan inti cerita, maka jumlah pemeran pada sebuah cerpen hanya beberapa orang saja, tidak lebih dari lima orang, yaitu satu atau dua orang sebagai pemeran utama, sedang yang lain hanya sebagai pemeran pembantu. Kalaupun pemeran sampai rbuan orang, tetapi hanya disebut selintas, tidak detail. Misalnya, pemeran utama berorasi diantara rubuan mahasiswa di depan istana negara.

Waktu yang digambarkan dalam sebuah cerpen sangat singkat. Hanya beberapa jam atau beberapa hari saja. Jarang sekali cerpen yang menggambarkan sampai berbulan-bulan, apalagi sampai bertahun-tahun. Kalaupun ada, tetapi hanya disebutkan selintas, misalnya sebulan kemudian atau setahun kemudian. Tetapi cerpen itu tidak menggambarkan prilaku pemeran dalam tahun atau bulan tersebut.

Demikian juga dengan tempat kejadiannya. Tempat kejadian yang digambarkan dalam sebuah cerpen tidak banyak. Hanya beberapa tempat saja. Kalaupun disebutkan, tetapi hanya selintas. Misalnya pemeran utama berlari di sebuah jalan kecil yang dihimpit puluhan rumah, lalu menyebrangi sebuah jalan desa dan sebuah sungai kecil, hingga akhirnya masuk ke dalam sebuah gubug.

Bahasa dalam cerpen tergantung dari golongan pembaca. Untuk pembaca di Indonesia, tentu saja harus dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Namun seringkali bahasa dalam cerpen harus disesuaikan dengan trend. Maka timbulah istilah bahasa gaul. Bahasa yang tidak mencerminkan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tetapi itulah tuntutan. Yang pasti bahasa dalam cerpen harus dibuat singkat, padat dan jelas.

Sumber: 
http://ilmiahpopuler.blogspot.com/2008/06/cara-membuat-cerpen_5497.html