Laman

Tampilkan postingan dengan label Cinta Biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta Biasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Oktober 2010

SALAHKAH IA PUNYA CINTA?

SALAHKAH IA PUNYA CINTA…?


"Kenapa Tari tidak mampir ke ruangan Psiklogi, aku kan kangen sama Tari.".
Begitu isi pesan singkat di handphone Tari. Tlit…tlit... Aku kaget ketika ada bunyi sms masuk dari hanphone Tari. Tak sengaja aku menekan tombol buka. Sms nya langsung kebuka pesan singkat dari seseorang yang bernama Dirga. Aku meminjam hanphone Tari karena aku ingin mencari nomor teman yang disimpan di phone book handphone Tari. Ia memberikan hanphonenya padaku sambil berlari terbirit –birit ke toilet karena ingin buang air kecil .
"Vin… tolong pegangin hanphone aku dong! Aku mau ke toilet dulu " kata Tari grasak - grusuk sambil meringis menahan rasa sakit ingin buang air kecilnya.
"Iya deh… Aku minta no telpon shinta ya…?" sambil meraih hanphone Tari. Tari berlalu dihadapanku sambil berlari-lari kecil. Tak lama berselang. Ada suara bernada tenor yang mengagetkan aku.
"Assalamu'alaikum, maaf…Uhkti Vinka ya…?
"Wa’alaikumsalam, Ya… betul,"
"Anti kenal dengan Tari gak?” Tanya lelaki yang sudah ada di hadapan ku.
"Tari... Kenal Banget.Tari kan sahabat aku. Kenapa ya… ,antum mencari Tari?" Ada hal penting mungkin aku bisa sampaikan ke Tari." Sahutku sekenanya dan penuh tanda tanya dengan sosok itu. Kemudian Aku terdiam sejenak sambil memperhatikan sosok yang ada dihadapanku.
"Kok, Bengong… sih? O…aku lupa, perkenalkan, namaku Dirga, anak Psikologi, semester VII."sambil melihat sekeliling.
"Dirga…? Kayaknya aku belum pernah melihat antum sebelumnya di kampus ini
"Sambil memberanikan diri untuk bertanya.
”Aku memang baru di kampus ini, pindahan dari Universitas Soedirman, Malang. dan baru 7 bulan di kampus ini." Matanya terus mencari –cari seseorang.
"Kalau bertemu Tari, bilang ya… Aku mencarinya, penting! Assalamu'alaikum".
"Walaikum Salam, Insya Allah nanti aku sampaikan." Dirga berlalu dengan cepat sekali sambil membawa tiga tumpukan buku ditangannya. Rambut ikal, berbadan tegap, jenggotan dan celana ngatung, berbicara dengannya harus tengadah , sangat percaya diri. Itulah kesan pertama yang aku tangkap dari seorang yang bernama Dirga. Ciri- cirinya persis seperti seorang ikhwan. Aku kembali teringat dengan isi sms Tari. Siapa Dirga….? Ah… nggak mungkin Tari memiliki pacar. Dia kan Akhwat, mana mungkin akhwat punya pacar. Apalagi gadis seperti Tari. Sahabatku ini sangat pemalu dan hampir selalu menjaga hijabnya dengan cowok . Tapi… Sms itu? Apakah dia pengagum nya Tari. Iya... kalie! Gumamku dalam hati. Kenapa aku terus bersyuuzon sama Tari. Ah…bukannya sudah biasa Tari sering mendapat sms dari pengaggumnya. Pikiranku terus melayang . Tari adalah seorang sahabat yang bermata lembut, kulitnya sebening embun,dan berwajah oval sehingga tidak membosankan mata yang memandangnya. Tari hampir mendekati kesempurnaan, punya wajah oke, prestasi oke dan sangat santun.. Jilbab panjang yang menutupi seluruh tubuhnya tidak membuat Tari kelihatan kuno akan tetapi rapi dan modis. Dalam kebingunnganku, aku buru-buru mencatat no. Telpon Shinta. Di kejauhan sana Tari sudah muncul sambil merapihkan jilbabnya yang tersingkap karena tasnya.
"Vin.., ada nggak… nomor Shinta ? Kamu mau kasih tau apa sih sama Shinta. Ada hal yang penting ya….? " kata Tari penasaran.
"Ia… aku mau kasih tau bahwa kiki tanggal 27 Oktober besok mau walimahan. Undangannya ada sama aku dan kiki titip buat Shinta."
"Aku di undang nggak ?
"Tentu dong… ," sahutku sambil ingin menyampaikan sesuatu.
"Tadi waktu anti ke kamar kecil ada seseorang yang bernama Dirga nanyain anti."
"Masalah apa ya…? Tari kelihatan bingung.
"Aku juga nggak tahu sih.., tapi dia bilang penting dan nggak ngomong apa-apa lagi deh."
"Tapi kenapa Dia tahu ya… ,namaku?" Sambil memasukan secarik kertas yang bertuliskan nomor telpon shinta ke dalam kantong tas ku yang berwarna biru tua.
"Tar… aku boleh tanya nggak tentang sesuatu? Tapi kamu janji jangan marah dulu ya…! Kamu khan banyak pengagumnya. Jadi wajar dong… kalau temanmu ini ingin menanyakan tentang pengagum-pengagummu itu."
"Pengagum yang mana… sih?" Tari mulai gugup dan ada keringatdingin mengalir di dahinya.
"Dirga itu siapa sih…? ops…!maaf…aku agak lancang membuka sms mu karena. sewaktu mau mencari telponnya Shinta. Ada sms masuk , aku kaget kepencet deh. tombol bukaa". Raut wajah tari mulai berubah. Ia menunjukkan ketidaksukaannya terhadap perbuatan aku tadi.
"Dirga hanya teman biasa dan ia ketua Himpunan Psikologi. " sahut Tari seadanya. Ia langsung mengambil hanphonenya dari aku.
"Vin… sini hanphone ku ". Tari berlalu di hadapan ku dengan wajah merah padam dan tatapan sinis.
"Tari … tunggu !maafin aku, tolong .., kamu jangan salah paham dulu. Aku tidak bermaksud ikut campur dalam masalah pribadimu. Apakah salah kalau sahabatmu ingin mengingatkan dirimu." Tari tidak menggubris omonganku. Ia sudah melesat seperti angin. Suasana siang itu tampak hening, hanya daun-daun hijau pepohonan yang menemani aku sendiri ditinggal Tari. Kampuspun mulai sepi, karena aktivitas perkuliahan sudah selesai. Aku pulang sendiri dengan langkah gontai serta membawa rasa bersalah terhadap Tari. Beberapa hari ini Tari tidak kelihatan di kampus. Padahal sebentar lagi akan mid semester. Aku sudah menelpon ke rumahnya untuk menanyakan kabarnya tapi selalu tidak ada di rumah. Ibu Tari sendiri bilang bahwa Tari tidak ada. Lalu kemana kah Ia….? Aku tidak bermaksud untuk melukai perasaanya tapi aku ingin mengarahkan dengan baik perasaan alamiah yang dirasakan oleh setiap manusia. Memang ia tidak salah untuk punya cinta. Tapi jangan sampai sahabatku terkena penyakit hati yang melupakan manusia terhadap Rabnya. Aku mencoba datang ke rumah Tari . Siapa tahu dia sakit . Aku ingin Hari Sabtu ada seminar di kampusku, Di Masjid Baiturahim Universitas Bekasi. Tema Seminar itu adalah " Virus Merah Jambu" yang diadakan oleh smile ukwah . Aku datang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan panitia. Acara dimulai pada pukul delapan pagi. Tapi panitia masih sibuk mengurus media yang digunakan untuk presentasi seminar. Aku mulai mencari tempat duduk paling depan agar materi yang disampaikan dapat didengar lebih jelas. Di pojok masjid , Aku melihat ada seorang akhwat yang sudah datang duluan. Ia menunduk sambil membaca buku. Aku seperti nya mengenal ia .Ah… bukan Tari. Sahutku dalam hati. Aku jadi ragu menyapanya takut salah orang. Aku sudah seminggu tidak melihat Tari. Aku sudah rindu dengan sahabatku itu.

Seminar sudah dimulai, pembicaranya sudah datang . pembicara tersebut ternyata yang menulis buku " Virus Merah Jambu". Ustad Muhamad Ahzam Sidik. Menurut beliau , akhir-akhir ini banyak para ikhwah yang terlibat dengan virus merah jambu atau dikenal juga dengan "HTS" (hubungan tanpa status). Mereka tidak mau di bilang pacaran , karena mereka tahu bahwa pacaran itu dilarang dalam syari'at Islam , VBJ (virus merah jambu ) sering merusak dakwah . Beliau mengatakan bahwa para ikhwah harus selalu kembali kepada tuntunan Rasululluah Saw. Kalau memang sudah sanggup untuk menikah ya.. silahkan dilakukan dari pada merusak iman dan menimbulkan penyakit hati kita kepada Allah. Begitulah penjelasan dari ustad Muh. Ahzan Sidik. Seminar sudah selesai dan waktu zuhur menjelang. Aku ikut berjamaah sekalian di mesjid kampus. Aku terus memandangi sosok yang ada dipojok itu. Ia juga ikutan sholat . Selesai sholat aku bersalaman dengan peserta lainnya. Aku berniat pulang dan mengambil sandal. Tiba-tiba ada yang menabrakku dari belakang. Sandal ku terlempar ke depan. Aku buru-buru mengambilnya. Saat aku menoleh kepada sosok tubuh yang menabrakku. Ia langsung minta maaf.
"Ta…ri, Ternyata kamu. Aku kangen banget nih… Aku merasa bersalah sama kamu. Maafin aku ya…".
Tari langsung memelukku dan menangis tersedu-sedu dipundakku.
"Vin... Aku yang seharusnya minta maaf sama anti . Aku seharusnya, berterimakasih sama anti yang sudah menyelamatkan keiman dan kefuturan yang ada dihati ini. Aku sudah melupakan Robku demi cinta kepada makhluknya. Aku berusaha untuk melupakan nya tapi perasaan ini sudah terlanjur mencintainya. "
"Ukhti kemana aja …? Aku sudah berusaha menelpon kerumah tapi ukhti tidak ada. Aku juga datang ke rumah tapi ukhti juga tidak ada. Tar… kalau memang ada masalah kita bisa berbagi. Aku siap untuk menjadi pendengar yang baik buatmu. "Tar…anti sakit ya?, kok, muka anti pucat sekali.
Aku ikut menangis melihat kondisi Tari. Tubuh kurus kering dan mata indahnya bengkak sepertinya sering menangis. wajah ceria dulu tidak aku temukan saat ini. Wajah cantik berubah jadi muram dan penuh dengan beban duka.
"Vin..tolong aku Vin…! dari semua masalah ini aku tidak kuat menanggungnya. Aku ingin mengakhiri semua ini dengan pernikahan tapi, orangtuaku tidak setuju . Terutama ayah . Ia sangat menentang keinginanku. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan ,aku mampu mengambil segala resiko.Tapi itu semua tidak berhasil.
"Tari …aku yakin kalau kamu berusaha memberikan pengertian kepada orangtuamu. Mereka akan mengerti dengan keadaan dan kondisimu. Atau cobalah bicara dengan murobbi untuk dicarikan jalan keluarnya".
"Aku... malu vin. Ada aib besar dalam keluargaku yang aku tidak pernah menduga sebelumnya. Apalagi berbicara dengan murrobi. Aku belum memiliki keberanian" Aku tidak yakin bahwa persoalan Tari belum selesai kuliah yang menjadi hambatan bagi ia untuk menikah dengan Dirga, tapi ada hal lain yang ingin di bicarakan tari. Aib apakah yang ia maksud?.
"Aku malu sebetulnya untuk membicarakan ini padamu,Vin, tapi aku tahu kamu adalah orang yang bisa aku percaya dan mau menjaga rahasia ini.
"Aku malu dengan perbuatan ayahku. Aku tidak menyangka ayahku yang sangat aku hormati di keluarga memiliki perbuatan sebejat itu. Aku malu…vin. Aku ma..lu.. Apa kekurangan ibuku sehingga Ayah berbuat seperti itu".
"Maksud kamu apa Tar….? Aku jadi tidak mengerti dengan perkataanmu.
"Aku jadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa dengan permasalahan mu."
"Dosa apakah yang diperbuat oleh ayahmu sehingga kamu sangat membenci beliau" Tari mengeluarkan mutiara-mutiara bening itu kembali. Ia tak mampu melanjutkan ceritanya padaku. Dadanya terasa sesak dan napas tersengal-sengal untuk melanjutkan cerita. Permasalahan ini tentunya sangat menyakiti hati tari sehingga ia sangat membenci ayahnya. Tari mencoba diam sejenak sambil membuka tasnya , ia mengeluarkan sehelai kain berwarna biru. Kain itu diusapkan kemukanya. Ia berusaha untuk melanjutkan ceritanya.
"Malam itu disaat Dirga datang seorang diri untuk melamar dan mengutarakan keinginannya. Ia sempat berbicara panjang lebar pada ayah. Setelah itu Dirga mulai menceritakan asal –usul keluarganya pada Ayah. Ayah kaget mendengar nama Ibu Dirga. Akhirnya Ayah memutuskan untuk tidak menerima Dirga. Dirga menuntut alasan kepada Ayah ,akhirnya Ayah berani untuk membuka rahasia masa lalu ayah. Dirga tidak percaya dengan cerita ayah ,tapi itulah kenyataannya. Aku yang sedari tadi duduk dibalik dinding menguping pembicaraan mereka juga syok dan tidak mau menerima kenyataan ini".
"Vin… ayahku yang sangat ku hormati ternyata selingkuh dengan perempuan lain. Ayahku punya anak dari selingkuhannya itu. Ayah sudah lama menyimpan aib ini dari ibu. Kami sekeluarga tidak mengetahui perbuatan ayah ini. Sudah dua puluh tahun ayah menyimpan aib ini. Ibuku sekarang sakit-sakitan akibat perbuatan ayah . Aku tidak menyangka anak itu adalah Dirga . Lelaki yang sangat aku cintai selama ini." Ya…. Allah Ternyata berat sekali penderitaan Tari. Aku seperti kena petir disiang bolong. Aku betul –betul tidak menyangka. Keluarga Tari selama ini baik-baik saja . Tidak ada permasalahan. Mereka sangat rukun . Ujian apa yang telah menimpa keluargamu Tari. Mudah-mudahan Allah memberi keluarga Tari kesabaran. Aku berusaha menenangkan Tari dengan memeluk dan menepuk-nepuk pundaknya. Hanya itu yang dapat aku lakukan saat itu. Aku tidak tahu apakah aku akan mampu menghadapi masalah yang sama seperti Tari.

Sore itu langit terasa gelap, mendung hitam menyelimuti angkasa .Sunyi menghinggapi kami berdua. Ku tarik dan kugopong Tari untuk ku ajak pulang. Biarkan waktu yang menjawab kegundahan hatinya. Dua bulan telah berlalu saat ia bercerita kepadaku, Tari berusaha untuk melupakan kejadian yang telah menimpanya. Ia mulai menerima Dirga sebagai saudara kandungnya. Umur Tari dan Dirga tidak berbeda jauh ,hanya terpaut dua tahun. Tari menjadi kakak bagi Dirga yang usianya lebih tua. Aku dengar dari Dirga ,ia mulai mencarikan calon suami untuk kakaknya.
"tok…tok ..tok, Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikum Salam, cari siapa nak?” Sapa ibu siang itu .
"Vinkanya, ada bu?"
"O…Vinka, ada! Silahkan masuk. Ibu panggilkan dulu." Suara ibu langsung berteriak-teriak memanggil namaku. Kebetulan aku lagi di kamar atas sambil membaca buku " komitmen Muslim Sejati" karya Fathur Khan.
"ya…sebentar bunda …",ku tarik jilbab dan langsung kupasangkan .Aku terburu-buru menuruni anak tangga kamar atas.
"Assalamu'laikum, Vin". Dirga memberi salam.
"Wa'alaikum salam, Dirga. Silahkan duduk. Ada apa nih… ?."
”Aku Cuma mau ngantar undangan ini buat anti, dari Tari".Dirga menyodorkan amlop persegi panjang berwarna biru langit dan bergambar hati
"Alhamdullilah ,Tari sahabatku sudah menemukan Abdullahgaib ya… "
"maksudnya apa Vin…?"
"Masak nggak tahu sih , artinya hamba Allah yang menjadi rahasia."
"bisa aja kamu Vin." Senyum kecil merekah dari wajah Dirga menunjukkan kebahagian pernikahan kakaknya ,begitu juga aku.



Ditulis di Bekasi, Desember 2006, Nama Asli : Elvira suryani. Sekretaris FLP cab. Bekasi
Catatan:
1.anti: panggilan. Anda/kamu untuk perempuan , 2.antum: panggilan anda/kamu untuk perempuan dan laki-laki, 3. Ukhti : saudari( panggilan untuk perempuan aktivis dakwah), 4. ikhwan:saudara (Panggilan untuk laki-laki aktivis dakwah), 5.walimahan : pernikahan, 6. Murrobbi : Guru ngaji

I LOVE YOU SOMAD

I LOVE YOU SOMAD

SUER…!
Somad bukan cowok yang masuk itungan. Di kelas 2 IPS 3 nyaris nggak dianggap. Orangnya lugu. Potongan rambutnya seadanya. Jangan-jangan dia motong rambut sendiri lagi? Pokoknya out of date banget, deh! Tapi anehnya kok ya aku nggak bisa menghilangkan bayangan Somad begitu aja. Aneh bin ajaib. Apa dia punya ilmu pelet sehingga aku jadi sering merhatiin dia? Eh, tapinya terus terang aku merhatiin cowok lugu itu diam-diam, karena kalo sampai ketahuan wah, bisa gempar sekolah ini! Bahkan seluruh sekolah di selatan Jakarta ini.
Bayangin aja, aku kan pernah jadi finalis cogirl, terus pernah ikutan syuting sinetron, ya meskipun perannya nggak banyak tapi wajahku bisa dijadikan patokan kalo aku ini lumayan kece… bur got! Hehehe. Tapi suer, makanya jangan heran kalo banyak anak cowok berkelas di sekolah ini yang ngejar-ngejar aku. Tapi ya itu tadi, kenapa aku malah sering-sering merhatiin Somad, seeh? Aneh!
***
SUMPE LUH!
Orang nggak percaya kali ya kalo aku nggak pengin pacaran dulu! Aku bahkan berani bersumpah nggak bakal pacaran selagi SMA! Makanya aku sama sohibku, yang namanya Ririn, jadi klop banget. Tapi… ya itu tadi, sumpah anak ABG, boleh dibilang cuma jadi sumpah-sumpahan aja. Begitu juga dengan Ririn. Waktu kelas satu, menjelang naik-naikan kelas dua, ada anak cowok kelas tiga yang emang udah kesohor di sekolahan, namanya Jacko. Aslinya sih Joko Sutanto, tapi lama kelamaan berubah menjadi Jacko!
Si Jacko ini kalo dibandingin sama Somad kaya siang dan malam. Yang jelas Jacko ini anak orang kaya, ke sekolah boil-nya gonta-ganti. Emang, sih, kendaraan itu semua punya bokap-nya tapi paling nggak kan nanti-nantinya bakal nurun juga ke dia. Yang jelas semua cewek bertekuk lutut, deh! Termasuk diriku yang sebelumnya pernah bersumpah nggak mau pacaran. Bahkan aku ama Ririn sepakat nggak bakalan kecantol ama si Jacko yang udah ketahuan sering jalan ama cewek-cewek, baik dari sekolah ini maupun dari sekolah lain!
Awalnya memang Ririn duluan yang luluh, ketika dia didekati Jacko dan katanya Jacko suka ama dia dan ujung-ujungnya Ririn pun nggak berkutik. Aku juga kaget.
“Jadi lo jadian ama dia?”
Ririn ngangguk. Waduh.
“Kok bisa?”
“Enggak tau, aku sebetulnya udah nolak, tapi dia mendesak terus dan akhirnya aku juga nggak bisa apa-apa…”
Ya, amplop!
Lama kelamaan aku juga suka merhatiin Jacko yang kalo dilihatin emang cakep, ibunya Jawa dan bokap-nya turunan Portugis. Jadi, biar Jawa tapi rada bule-bule gitu. Eh, ini dia yang bikin runyem, karena tiba-tiba Jacko juga bilang suka sama aku.
“Eh, bukannya kamu sudah jadian sama Ririn?” tanyaku heran, tapi senang.
“Kayanya kami nggak cocok,” jawab Jacko, pendek.
“Tapi nggak bisa, aku nggak mau pacaran dulu…”
“Lho, kita nggak pacaran, cuma bersahabat aja kok. Kalo aku mau curhat ada yang mau dengerin, kalo aku mau jalan ada yang nemenin. Itu aja kok.”
“Eh, ya kalo begitu….”
Dan ternyata mereka bukannya nggak cocok lagi, tapi Jacko telah berhasil menduakan kami! Benar-benar brengsek! Bayangin aja, aku dan Ririn dijadiin ceweknya sekaligus! Tentu saja hubunganku dengan Ririn jadi renggang. Karena entah kenapa, aku jadi berusaha untuk bisa menguasai Jacko sepenuhnya.
“Aku nggak mau kamu lepas dari diriku…,” kataku. “Dan aku nggak mau kamu curhat ke orang lain!” Ternyata begitu juga dengan Ririn yang sudah jatuh cinta banget sama Jacko. Hm, ternyata Jacko bagi kita berdua adalah first love, sedangkan bagi Jacko, nggak taulah…!
Dan malapetaka mulai terjadi ketika Jacko mulai kecantol cewek lain. Aku dan Ririn mulai jarang dapat perhatian lagi. Bahkan Ririn terkadang suka nekat melabrak Jacko, tapi itu tidak membuat Jacko kapok. Akibatnya Ririn jadi gampang frustasi. Aku juga jadi lunglai. Yang bikin aku kaget adalah ketika aku dengar Ririn katanya sudah pernah menginap di hotel barengan Jacko. Astagfirullah! Dan ujung-ujungnya Ririn mulai mudah termenung. Aku sering memperhatikannya, dan besoknya aku dapat informasi lagi kalo Ririn sudah mulai merokok! Ya, Allah!
***
BENERAN!
Ririn sohibku yang baik. Aku tahu karakter dia. Kenapa dia bisa berubah seperti itu? Aku berusaha gentle. Aku mendatangi Ririn yang sebelumnya sudah menutup buku denganku. Karena aku sudah mendengar berita Ririn sering bolos, aku dekati Ririn untuk memulai hari baru dan melupakan masa lalu bersama cowok brengsek itu. Ririn membuka tangannya.”nanti gue tunggu di kantin.” Aku kaget melihat Ririn menantiku sambil menghisap batang sigaret.
“Elo sekarang merokok, Rin?” tanyaku, terperangah. Ririn tersenyum. Seseorang membisikkanku di telinga, katanya Ririn juga sudah mulai mengonsumsi obat-obatan terlarang.
“Kenapa sih lo?” tanyaku betul-betul kaget.
“Gue kecewa?” kata Ririn sambil mengebulkan asap rokok dari mulutnya. “Dia ngebohongin gue!”
“Tapi kan dia ngebohongin gua juga? Bahkan mungkin telah menipu beberapa cewek lain!”
“Iya, gua tau, maka dari itu sebetulnya gue tuh kecewa bukan cuma ama dia aja, tapi ama semuanya! Ya, ama diri gue juga, kenapa kok udah tau cowok kayak begitu masih saja gue terima! Lo tau kan, kita udah sepakat nggak bakal melirik dia, eh malah kita berdua jadi korbannya! Akibatnya hubungan kita jadi berantakan, bahkan musuhan segala!”
“Iya, ya. Kenapa kita jadi bego begini?” aku geleng-geleng kepala.
“Terkadang yang sekarang gue pikirin cuma satu, gue pengin mati aja!”
“Eh, gila lo ye. Jangan gitu, dong! Lo harus tegar!”
“Gue malu. Maluuu banget! Gue pengin pindah sekolah, tapi nggak mungkin. Pasti nyokap gue nggak setuju dan dia bakalan tau kondisi anaknya yang udah menjadi kacau seperti ini!”
“Tenang Rin, lo harus tenang…!”
Sejak saat itu, kantin pojokan jadi tempat favorit buat kami berkeluh-kesah, dan gobloknya lagi, kok aku jadi ikut-ikutan merokok juga!
“Bisa buat ngusir stres, nih.”
“Masa, sih?”
“Coba aja.”
Kami mencari tempat paling pojok dan ngerokok di sana. Dan anehnya tempat itu jadi tempat berkumpulnya orang-orang frustasi. Malahan sebagian anak menjuluki beberapa anak yang suka berada di tempat itu sebagai korban Jack-gatte! Yang jelas, benar kata pepatah yang mengatakan; kalo main api, kepanasan, kalo main air, kebasahan. Begitu juga kalo kita banyak ngobrol sama anak-anak nggak benar. Nggak usah nunggu lama, deh, yang namanya rokok, ganja, obat-obatan, shabu, putau, dan lainnya jadi nggak asing lagi. Begitu juga dengan kami berdua, yang tadinya cuma dengar-dengar aja, nggak tahu kenapa jadi enteng aja untuk mencoba itu semua!
Tiap pulang sekolah, kami berdua janjian untuk menikmati obat-obatan terlarang. Rumah Ririn sering kosong. Nyokap-nya yang single parent itu banyak bisnisnya. “Eh, bener, stres jadi ilang!” kataku.
“Bukan cuma stres yang ilang, pikiran kita juga bisa ilang!” saut Ririn sambil nyengir.
Kami berdua memang sudah bisa melupakan Jacko yang handsome dan selalu ‘tepe’ (tebar pesona) itu. Tapi kok sekarang jadi nggak bisa ngelupain obat-obatan? Hampir tiap hari pasti ada aja yang nawarin ke kami.
“Mau nggak lo? Gratis, nih! Yang penting lo hepi gue hepi!”
Sampai kemudian Ririn sakit dan dibawa ke dokter oleh mamahnya. Dan mamanya marah banget begitu tau kalo anaknya jadi pecandu. Bahkan mamanya akan memindahkan Ririn ke sekolah lain dan mencap sekolah itu menjadi sekolah buruk! Padahal sekolahan sih tetap baik, tapi anaknya aja yang lagi nggak benar. Dan lebih buruk lagi, adalah ketika Mama Ririn menuduhku sebagai biang keladi dari perubahan karakter Ririn! Aku kaget sekali, dan kaget lagi ketika Mama Ririn juga mengancam akan lapor pada polisi.
“Awas kalo kamu mendekati Ririn lagi!”
Duh, aku menjadi takut. Gimana kalo aku diperiksa, disuruh tes urin, terus ketahuan aku juga pernah mengonsumsi benda-benda terlarang, dan kemudian ditangkap di penjara? Hiiih, bulu kudukku berdiri! Aku langsung bertekad untuk tidak lagi mengonsumsi barang-barang itu, tapi anehnya susah banget. Biarpun Ririn sudah nggak ada, aku masih saja dapat jatah dari beberapa anak kelas tiga yang memang suka menawarkan benda-benda itu di sekolah.
Sampai akhirnya Mama Ririn betul-betul memanggil pihak berwajib untuk memeriksa teman-teman dekat Ririn, dan aku yang kebetulan membawa satu sachet obat terlarang, sangat ketakutan. Keringat dingin langsung keluar. Kebetulan Mama Ririn datang pas jam istirahat, sehingga aku bisa sembunyi di kamar mandi, lalu mengunci pintunya dari dalam. Tadinya aku ingin membuang saja obat-obat itu ke dalam kloset, tapi aku merasa sayang dan akhirnya aku minum semuanya! Dan apa yang terjadi sodara-sodara, aku langsung OD (over dosis)! Aku pun terkapar dengan mulut berbusa di kamar mandi!
***
HONESTLY.
Pagi itu Somad seperti biasa datang pagi-pagi. Aku kebetulan memang sudah ada di situ. Dan biarpun dia langsung mengeluarkan buku catatannya dan menulis-nuliskan sesuatu, aku senang mencuri-curi pandang kepadanya, yach meskipun dia juga nggak membalas pandanganku …, aku sih cuek aja. Jujur aja, kalo dilirik orang sih aku sering, tapi melirik orang jarang-jarang lho. Seperti sudah aku bilang, kepada Somad kok jadi lain? Tapi aku tetap nggak berani bilang ke siapa-siapa kalo aku sekarang mulai senang melempar lirikan ke Somad. Ya, akhirnya aku memang suka sama Somad. Dia seperti batu karang di tengah lautan yang tidak terpengaruh oleh ombak besar. Dia tetap sama menjadi out of date diantara kemoderenan yang hadir menggelora di tengah-tengah sekolahku.
Dia tetap saja suka ke musala, mengerjakan salat, atau kemudian bikin acara-acara keagamaan meski seringkali diejek dan tidak diminati sama sekali. The Somad must go on! Pernah dia bikin acara di tengah lapangan basket, tapi kelihatan yang sibuk cuma panitianya aja, yang datang juga mereka-mereka aja, tapi aku lihat Somad tetap semangat! Beda waktu Jacko bikin acara musik, wah, satu lapangan penuh! Satu sekolahan ikut membantu! Dan anehnya Somad waktu itu, nggak terpengaruh, tuh! Dia terus saja ke musala! Diam-diam aku salut padanya. Dan rasanya sikap seperti itu harus aku tiru biar aku juga punya ketegaran yang kuat!
Ada keinganku untuk bergaul dengan Somad, tapi anehnya kok ya nggak berani. Aku ingin bergaul dengan komunitasnya, tapi kok merasa malu? Apalagi sekarang, udah jelas nggak bisa! Terkadang aku juga memperhatikan Jacko yang masih aja nggak berubah. Dia punya gank yang terdiri dari cowok dan cewek keren. Aku, meskipun pernah jadi pacarnya, nggak pernah disapanya lagi. Aku dianggapnya sebagai lalat yang pernah hinggap di pundaknya yang dengan mudahnya ia usir begitu saja. Luar biasanya, kenapa bisa ada manusia seperti itu? Dan bodohnya lagi, kenapa aku juga mau menjadi seekor ‘lalat’?
Kini aku hanya bisa sendiri memperhatikan itu semua. Ririn sudah tidak ada lagi. Entah sekolah di mana dia sekarang. Tapi aku berharap dia sudah berubah, menjadi Ririn yang dulu lagi.
***
ALHAMDULILLAH.
Bel pulang berdentang. Anak-anak pun pulang. Aku lihat Somad juga siap berkemas. Aku memperhatikannya sampai dia keluar pintu kelas. Sekolah mulai sepi. Aku tetap sendiri di sini. Aku tidak bisa ke mana-mana, entahlah kenapa tempat itu menjadi melekat olehku. Aku dengar dia ingin mengumpulkan siswa yang sering ke musala untuk menyumbangkan sebuah doa … entah untuk siapa?
Tapi katanya untukku? Masa, sih? Mereka mau berdoa untukku? Oh, luar biasa, aku jadi semakin sayang sekali pada Somad. Sungguh, I Love You Somad, I Love You Su Much!
Aku janji, seandainya saja mereka mengetahui bahwa aku mulai sering memperhatikan Somad, aku tidak akan malu lagi, dan aku berharap bisa bergaul sama sahabat-sahabatnya, tapi sayang kini aku sudah…ah, aku tak kuasa … menceritakan ini semua pada kalian… Yang teringat olehku hanyalah ketika terkapar di kamar mandi itu, aku melihat samar-samar pintu dibuka paksa, dan aku lihat Somad masuk, sementara aku melihat yang lain berteriak, berlari dan menjauh, sementara Somad berusaha menggotongku ke ruang UKS.
Somad berusaha menyadarkanku, tapi rupanya obat yang aku telan terlalu banyak dan akhirnya …. Oh, entahlah apa yang akan terjadi selanjutnya pada diriku di alam kehidupan lain yang hingga kini masih gamang aku jalani…. Oh, Tuhan bisakah dosaku Kau maafkan?

CINTA SEPOTONG MIMPI

CINTA SEPOTONG MIMPI

Dapatkah seseorang mencinta hanya karena sepotong mimpi? Mustahil. Namun, adikku semata wayang mengalaminya – setidaknya itu yang diakuinya. Gadis yang dicintainya adalah Lala, adik sepupunya sendiri. Wajar, bukan? Bahkan, menjadi halal saat kedua orang tuaku kemudian berpikir untuk meminangnya.
Semua berawal dari penuturan Jamal. Ia bilang, ia memimpikan Lala sebagai gadis yang diperkenalkan Ibu kepadanya sebagai calon istrinya. Kami sudah saling mengenal, Bu,” kata Jamal dalam mimpi itu dengan malu-malu. Gadis itu pun mengangguk dengan senyum malu-malu pula. Sebenarnya Jamal tidak terlalu meyakini gadis itu adalah Lala. Wajahnya samar terlihat. Namun, Jamal merasakan aura gadis itu cukuplah ia kenal. Hebatnya, ini diperkuat oleh ayah kami. Di malam yang sama, beliau bermimpi tentang Jamal yang duduk di kursi pelaminan bersama Lala! Apakah ini pertanda? Entah. Hanya saja, sejak itu aku merasakan pandangan Jamal terhadap Lala berubah.
Mereka sebenarnya teman bermain di waktu kecil, namun tak pernah bertemu lagi sejak remaja. Keluarga Lala tinggal jauh di Surabaya, sementara kami di Jakarta. Kami jarang berkumpul, bahkan saat lebaran, sehingga kenangan yang dimiliki Jamal tentang Lala adalah kenangan di masa kecil dulu sebagai abang yang kasih kepada adiknya. Kasih dimana sama sekali tak terpikirkan untuk memandang Lala sebagai gadis yang pantas dicintai, bahkan halal dinikahi. Namun, mimpi itu mampu menyulap semuanya menjadi…cinta (?). Mari katakan aku terlalu cepat menyimpulkan sebagai cinta. Barangkali saja itu hanya pelangi yang tak kunjung sirna mengusik relung hati adikku. Pelangi yang mampu merubahnya menjadi sok melankolis hingga membuat kami sekeluarga khawatir melihat ia kerap termenung menatap kejauhan, untuk kemudian mendesah perlahan.
“Mungkin kau harus menemuinya di Surabaya,” kata Ibu.
”Rasanya tak usah, Bu. Masak hanya karena bunga tidur aku menemuinya,” jawab Jamal.
”Barangkali saja itu pertanda.”
”Bahwa Lala jodoh saya?”
”Bukan. Bahwa sudah lama kau tak mengunjungi mereka untuk bersilaturahmi. Biar nanti Mbakmu dan suaminya yang menemanimu kesana.”
Jamal tertegun sejenak untuk kemudian mengangguk.
Wah, pintar sekali Ibu membujuk. Padahal tanpa sepengetahuan adikku yang pendiam itu, Ibu menyerahi kami tugas untuk ”meminang” Lala. Ibu betul-betul yakin mimpi itu sebagai pertanda sehingga memintaku menanyakan kepada Lala tentang kemungkinan kesediaannya dipersunting Jamal.
”Kenapa tidak minta langsung saja pada Paklik? Biar mereka dijodohkan saja,” kataku waktu itu.
”Ah, adikmu itu takkan mau.”
”Tapi…”
”Sudahlah. Ibu tahu Jamal belum terlalu dewasa. Kuliah saja belum selesai. Tapi setidaknya ia memiliki penghasilan dari usaha sambilannya berdagang, ‘kan?”
“Bukan itu maksudku. Apa Ibu yakin Jamal mau dengan Lala? Barangkali saja mimpinya hanya romantisme sesaat.”
Ibu tercenung. Aku yakin Ibu belum memastikan ini. Yang beliau tahu hanya Jamal yang bertingkah aneh. Itu saja. Selebihnya ia perkirakan sendiri. Sepertinya justru Ibulah yang ngebet ingin meminang Lala.
”Kupercayakan semua itu padamu.”
Walah! Berarti tugasku berlipat-lipat! Selain memastikan kesediaan Lala, aku pun harus memastikan perasaan adikku sendiri.
***
Ia diam. Sudah kuduga reaksinya begitu jika kutanyakan tentang kemungkinan perjodohannya dengan Lala.
“Kamu mencintainya?” Aku mengganti pertanyaan. Kali ini Jamal malah terkekeh.
”Mungkin… Entahlah. Rasanya tak wajar.”
Tentu saja tak wajar! Bagiku, mencinta karena sepotong mimpi hanya omong kosong. Lagi pula Jamal tak tahu seperti apa wajah dan kepribadian Lala dewasa ini. Aku pun tak tahu.
“Santai saja, Mal. Tak usah dipikirkan. Yang penting kita tiba dulu di sana,” kata Bang Rohim, suamiku.
***
Setiba di Surabaya, kami disambut keluarga Lala hangat.
”Wah, iki Jamal tho? Oala, wis gedhe yo?!” ucap Bulik.
Jamal hanya tersenyum. Apalagi saat pipi gendutnya dijawil Bulik seperti saat ia kanak-kanak dulu.
”Mana Lala, Bulik?” tanyaku saat tak mendapati anak semata wayangnya itu.
”Ada di dapur. Sedang bikin wedhang.”
Aku segera ke dapur. Aku sungguh penasaran seperti apa Lala sekarang. Kulihat seorang gadis di sana. Subhanalah, cantiknya! Ia mencium tanganku. Hmm, santun pula. Cukup pantas untuk Jamal. Tapi, aku harus menahan diri. Kata Bang Rohim, butuh pendekatan persuasif untuk menjalankan misi ini. Aku tak yakin aku bisa sehingga menyerahkan sepenuhnya skenario kepadanya. Tak banyak yang dilakukan Bang Rohim selain meminta Lala menjadi guide setiap kami bertiga pergi ke pusat kota. Ia melarangku membicarakan soal perjodohan, pernikahan, pinangan atau apapun istilahnya kepada Lala. Katanya, kendati kami keluarga dekat, sudah lama kami tidak saling bersua. Bisa saja Lala memandang kami sebagai ”orang asing”. Upaya melancong bersama ini demi untuk mengakrabkan kembali Jamal, Lala dan aku. Kiranya ini dapat memudahkanku saat mengutarakan maksud kedatangan kami sesungguhnya nanti.
Malam ini saat dimana aku diperbolehkan suamiku mengungkapkan semuanya kepada Lala. Seharusnya memang begitu. Tapi Jamal mendahuluiku. Tak kusangka ia serius dengan perasaannya. Ia utarakan semuanya. Tentang mimpinya, tentang jatuh cinta, bahkan tentang pinangan.
“Mungkin Dik Lala menganggap ini konyol. Abang juga merasa begitu. Tapi, setidaknya sekarang Abang yakin dengan perasaan Abang. Jadi, mau tidak kalau Lala Abang lamar?”
Bukan manusia kalau Lala tidak kaget ditembak seperti itu. Ia tampak galau. Seperti aku dulu. Sayang Lala tak merespon seperti aku merespon pinangan Bang Rohim dulu.
“Maaf, Mas. Aku terlanjur menganggapmu sebagai kakak. Rasanya sulit untuk merubahnya.”
Berakhirlah. Sampai di sini saja perjuangan kami di Surabaya. Jamal tersenyum mengerti, namun kuyakini hatinya kecewa. Cintanya yang magis tak berakhir manis. Kami pulang ke Jakarta dengan penolakan.
Sejak hari itu, Jamal tak terlihat lagi melankolis. Ia kembali sibuk dalam aktivitasnya. Adikku itu benar-benar hebat. Kendati patah hati, ia tak mau larut dalam perasaannya. Bahkan, belakangan aku tahu ia belum menyerah. Setidaknya penolakan itu berhasil mengakrabkan kembali Jamal dengan Lala. Mereka berdua kerap berkirim SMS sekedar menanyakan kabar ataupun saling bercerita. Jamal betul-betul memandang ini sebagai peluang untuk mengubah pandangan Lala terhadapnya.
Waktu kian berganti hingga masa dimana Jamal mengutarakan lagi keinginannya itu. Sayang ditolak lagi. Begitu berulang hingga tiga kali.
Ayah dan Ibu prihatin melihatnya. Mereka tak bisa berbuat banyak. Keinginan mereka untuk menjodohkan saja keduanya Jamal tolak.
”Syarat orang yang menjadi calon istriku, haruslah tulus ikhlas menjadi pendampingku. Atas kemauannya sendiri, bukan pihak lain!” Begitu alasannya selalu.
Terserahlah apa katanya. Tapi ini sudah menginjak tahun kelima Jamal memelihara cinta tak kesampaian ini. Usianya kian mendekati kepala tiga. Cukup mengherankan ia tetap memeliharanya terus. Rasanya tak layak cinta itu dipelihara terus. Ia harus diberangus. Lala bukanlah gadis terakhir yang hidup di dunia. Untuk itu Ibu, Ayah dan aku kongkalikong untuk membunuh cinta Jamal. Sudah saatnya ia mempertimbangkan gadis-gadis lain. Kebetulan ada yang mau. Pak Haji Abdullah sejak lama ingin bermenantukan Jamal dan menyandingkannya dengan Azisa, anak sulungnya. Kami susun perjodohan tanpa sepengetahuan Jamal. Lantas, kami sekeluarga berusaha ”menghasut” Jamal untuk memperhitungkan keberadaan Azisa, temannya sejak SMU itu.
Alhamdulillah berhasil. Hati Jamal mulai terbuka untuk Azisa sehingga saat Pak Haji Abdullah meminta dirinya menjadi menantu, ia tak punya lagi pilihan selain mengiyakan.
***
Kesediaan Jamal memang sudah didapat, namun anehnya ia tak kunjung juga menentukan tanggal pernikahan. Kali ini naluriku sebagai kakak turut bermain. Rasanya Jamal tengah menghadapi masalah yang tak dapat dibaginya kepada siapapun, termasuk Azisa. Saatnya aku menjadi kakak yang baik untuknya.
”Entahlah, Mbak. Rasanya aku tak siap untuk menikah.”
Mataku terbelalak saat Jamal mengutarakan penyebabnya.
”Apa pasal?” tanyaku agak jeri. Aku tak berani membayangkan jika Jamal tiba-tiba membatalkan perjodohan. Keluarga kami bisa menanggung malu!
”Rasanya Azisa bukan jodohku.”
Aku semakin terkesiap. Aku mulai menduga-duga arah pembicaraannya.
”Lala-kah?” tanyaku. Jamal mengangguk pelan, namun pasti.
”Sebenarnya mimpi tempo hari itu tak sekonyong datang. Aku memintanya kepada Tuhan. Aku meminta Dia memberikan petunjuk tentang jodohku kelak. Dan yang muncul ternyata Lala!”
Aku kembali terdiam. Aku benar-benar payah. Sudah setua ini, masih saja tak dapat menjadi kakak yang baik buat Jamal. Aku bingung harus menanggapi bagaimana.
”Maafkan jika selama ini Mbak tak bisa menjadi kakak yang baik, Mal. Bahkan untuk masalahmu satu ini pun Mbak tak bisa menjawab. Hanya saja, kita tak akan pernah benar-benar tahu apa yang kita yakini benar itu sebagai kebenaran, Mal. Termasuk mimpimu. Mbak tidak tahu lagi harus menganggapnya omong kosong ataukah benar-benar pertanda. Kalaulah mimpi itu pertanda, pasti banyak sekali maknanya.”
”Kamu memaknainya sebagai cinta dan jodoh, Ibu memaknainya sebagai silaturahmi dan Ayah memaknainya sebagai tipikal istri ideal bagimu. Bukankah Azisa pun tak berbeda jauh dengan Lala? Mimpi itu nisbi, Mal.”
Jamal hanya mendesah pelan sambil memandang kejauhan. Mukanya masam. Mungkin tak menghendaki aku bersikap tak mendukungnya.
”Mungkin,” lanjutku, ”ini hanya masalah cinta saja. Mungkin hatimu masih hidup dalam bayangan Lala dan tak pernah sekali pun memberi kesempatan untuk dimasuki Azisa. Kau hidup di kehidupan nyata, Mal. Sampai kapan akan menjadi pemimpi?!”
Aku tersentak oleh ucapanku sendiri. Tak kuduga akan mengucapkan ini. Bukan apa-apa. Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar Lala menerima pinangan seseorang. Kendati menyerah, aku yakin Jamal masih memiliki cinta untuk Lala. Ia pasti sakit. Aku betul-betul kakak yang tak peka. Aku menyesal. Aku peluk Jamal, menangis sesal. Jamal turut menangis. Isaknya berenergi kekesalan, kekecewaan, kesepian, keputus-asa-an, bahkan kesepian. Aku terenyuh. Betapa ia menderita selama ini.
“Besok kita batalkan saja perjodohan dengan Azisa, Mal. Itu lebih baik ketimbang kau tak ikhlas menjalaninya nanti. Itu katamu tentang pernikahan, ‘kan? Kita bicarakan dulu dengan Ayah dan Ibu.”
Kupikir ini yang terbaik. Tak bijak rasanya tetap berkeras melangsungkan perjodohan di saat Jamal rapuh begini. Di saat Jamal terluka dan bimbang pada perasaannya. Biarlah keluarga kami menanggung malu bersama.
“Tidak. Kita teruskan saja. Aku ikhlas menjalani sisa hidupku bersama Azisa. Mungkin aku hanya membutuhkan sedikit menangis saja. Aku pergi dulu ke rumah Pak Haji untuk membicarakan ini. Assalamu’alaikum.”
Kutatap kepergian Jamal dengan perasaan tak tentu. Kalau diingat semua ini terjadi karena mimpi. Ya, Allah apakah benar mimpi itu pertanda-Mu? Jikalau benar kenapa sulit sekali terrealisasi? Jika pun tidak benar kenapa banyak orang mempercayai? Aku terpekur. Maafkan aku adikku. Aku hanyalah insan, yang tak mampu menerjemahkan segala misteri-Nya, bahkan yang tersurat sekalipun. Aku hanya berusaha. Dia tetap yang menentukan. Maafkan aku.

CINTA SEDERHANA

CINTA SEDERHANA

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.
Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.

(Dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono; Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002)

AKU MENCINTAIMU KARENA ALLAH

AKU MENCINTAIMU KARENA ALLAH

Empat kata sms misterius aku terima malam kemarin. Aku kaget. Dan tanda tanya besar dalam benakku. Siapa yang mengirim sms ini?? kesana kemari tapi tidak ada yang tahu siapa pengirimnya. Aku sudah menanyakan sama deni, Farhan, Ade dan teman-teman di Mushola Fakultas ”Kebaikan”, juga sama Andi, Jamal, Rifky dan teman-teman sekelasku yang lain, kakak kelas dan adik kelas, semuanya tidak ada yang tahu no sms ini. Sms misterius. Pikirku.
Sempat terlintas pengirim sms itu adalah ukh Rany, salah satu anggota baru LDF Al Khoir Fakultas Kebaikan. Tapi, nggak mungkin!, dia kan baru masuk LDF, dia hanya Mahasiswi Konversi dari D3. aku hanya bertemu dengannya sa’at acara pertemuan aktivis LDK se-Universitas ”Kebebasan” Bogor (UNIKBO) D3 dan S1, sa’at itu aku jadi MC. Sudah dua Tahun yang lalu. Dan aku tidak pernah memberikan no ponselku sama dia, walaupun kami sempat bercakap-cakap. Dan sekarang akhirnya bertemu lagi. Tapi, tidak mungkin dia, dia Akhwat banget. Ya Allah tunjukkan kebesaranmu. Sms siapakah ini. Dalam sujud aku menangis. Di sa’at aku shalat. Disa’at aku belajar. Aku selalu teringat sms ini.
Suasana subuh mulai terasa. Kokok ayam ikut membangunkan manusia-manusia yang terlelap dalam tidurnya. Menara masjid satu persatu mendendangkan irama sholawat Nabi. ” Azan subuh sudah dekat ”, gumamku dalam hati. Segera kurapikan sajadah yang terhampar sedari tadi. Nampak tanda-tanda cinta disana. Cinta yang kupersembahkan melalui sujud syukur di sepertiga malam. Secepat kilat aku merapikan diri, bersiap untuk pergi kemasjid, memakai sarung putih bergaris, lalu meraih baju koko yang tergantung dibalik pintu dan kupakai dengan ikhlasnya.
Sebelum melangkah keluar kamar tak lupa aku oleskan minyak wangi merk HARUM produksi SUM Farfum dengan wangi ”Malaikat subuh” keseluruh tubuhku, telapak dan punggung tanganku juga baju koko yang kukenakan. ”oya hampir lupa, Mushaf!” kataku dalam hati. Lalu bergegas aku ambil mushaf yang tersimpan cantik diatas meja belajar. Memang aku tak lupa tilawah sebelum dan setelah sholat Shubuh. Kadang membaca di masjid, kadang di rumah. Kulangkahkan kaki menuju masjid. Masjidnya memang tidak jauh, 150 meter dari tempat kostku. Bagiku cukup dekat. Walaupun jalan yang harus kulalaui berbelak-belok, penuh gang-gang kecil. Disini jalannya kecil-kecil. Tidak ada halaman yang kosong, semuanya dipakai untuk bangunan rumah.
Menurut ibu kost. Dulu daerah ini sepi, hanya ramai oleh anak-anak yang asyik bermain di halaman rumah mereka, yang sangat luas. Rumah-rumah disini sedikit, tidak sebanyak seperti sekarang. Tiap rumah menyediakan halaman rumah sebagai tempat anak-anak bermain. Setiap rumah menyediakan tempat untuk pohon-pohon tumbuh dan berbuah. Terkadang ada juga yang menyediakan halaman rumahnya dengan taman-taman yang indah, yang sedap dipandang mata.
Tapi, itu dulu. Lima sampai tujuh tahun yang lalu. Sebelum orang luar bogor membeli tanah disini, sebelum orang –orang jakarta membangun rumah-rumah bertingkat di atas tanah yang subur disini, sebelum para penguasa eh, pengusaha membangun minimarket-minimarket dan toko – toko disini. Yang lebih miris lagi sebagian dari kami, orang ’pribumi’ memilih menjual tanahnya atau rumah-rumah mereka kepengusaha-pengusaha yang ber’duit’, hanya dengan beberapa lembar uang rupiah pemilik tanah rela melepaskan tanah wariasan leluhurnya, ada seorang ibu yang sudah tidak memiliki suami sa’at mengunjungi kerabatnya disini terlihat lesu dn mengiba sa’at memandangi sebuah bangunan yang diisi oleh anak-anak kost, dulu rumah itu adalah miliknya, namun karena kondisi ekonomi ia rela menjual rumahnya tersebut, sekarang dia hanya mampu memandanginya dan mengenang masa-masa lalu bersama rumahnya tersebut” tutur ibu kost, yang terlihat menerawang, mengingat dan menghayati apa yang sedang diceritakannya.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala membiarkan si ibu bernostalgia dengan hari-hari yang telah dilaluinya. ” sebenarnya kami juga merasa bersyukur, karena selain itu kami mendapatkan barokah dari Allah karena adanya kampus UNIKBO disini. Buktinya ibu bisa hidup dan makan dari hasil berjualan gorengan dan bisa mengontrakkan rumah ibu. Sebagian anak-anak kami juga ada yang terbawa arus ke-mahasiswaan, malah banyak anak-anak kami yang ikut melanjutkan belajarnya di Peguruan Tinggi, walaupun ada sebagian tidak kuliah disini, tapi setidaknya wawasan mereka ikut terbawa oleh intelektual Mahasiswa UNIKBO.” tambah si ibu kost yang begitu bernafsu menceritakan kampungnya yang dulu hanya desa penuh dengan rawa-rawa dan pohon-pohon, sekarang telah berubah menjadi kota.
Dan ini terjadi sa’at ini, tidak tahu 5 samapi 10 tahun lagi. Seperti apakah disini. Hanya anak-anak warga sini yang akan merasakannya, sedang aku, setahun atau dua tahun lagi sudah meninggalkan kampung ini. Aku akan membangun daerahku di Sukabumi. Disanalah aku akan berbakti, mensejahterakan masyarakat desaku. Mudah-mudahan Allah swt mengabulkan semua keinginanku. Amiin.
Masjid sudah dekat, akupun langsung masuk kedalam masjid. Dan mempersiapkan diri melakukan shalat tahiyatul masjid, di shaf pertama aku lihat kakek tua memegang microphone dan tiga bapak-bapak pengurus masjid sedang asyik bershalawat, di pinggir-pinggir masjid hanya ada dua orang yang kukenal benar wajahnya yaitu andi dan jamal, rupanya mereka sudah datang lebih dulu.
***
”Candy Iindriastuti,… subhanallah banget sekarang.... Berbeda dengan dua tahun yang lalu. Sekarang hijabnya rapi…, semakin sholehah…., dan saat bertatap muka sorot matanya memancarkan cahya kesejukan. Ya allah cantik benar ciptaan-Mu ini. Seandainya dia jadi istriku...” ” whuss!! Bengong.. he..he… lagi mikirin siapa nih.. ” Jamal mengagetkanku dengan ledekan khasnya.
”Idihhh, ngagetin ajah! Orang lagi nginget-inget palajaran yang tadi.. yeyyy!” jawabku, sedikit ngeles.
”Lagian senyum-senyum sendiri. Ini kantin woi, banyak orang, nanti dikira orang aku bawa pasien RSJ masuk kampus lagi.” timpal Jamal sambil meminum juice Alpukat kesukaannya.
Memang sedari tadi aku asyik memikirkan Intan. Semenjak dia ikut di LDF dan aktif dalam kegiatan keislaman aku selalu memperhatikannya. Apalagi, sa’at dua hari yang lalu. Sa’at aku bertemu dengan dia di ATM BRI. Awalnya aku tidak tahu kalau yang didepanku sa’at antri mengambil uang di ATM adalah Intan. Kalau saja dia tidak menengok kebelakang, dan menyapaku aku tidak tahu.
”Assalamu’alikum akhi…!!” Aku hanya tertegun dan salah tingkah,
”Wa’alaikum salam. E...Can…Candy!!” balasku. Terbata-bata
”Kenapa sih aku ini.” gumamku.
”Kenapa akh??” tanya dia dengan singkat, rupanya mendengar guamamanku.
”Owh, ti...ti... dak. Gak apa – apa kok. ” jawabku dengan gugupnya.
”Candy mau ngambil uang ya?? ” aku memberanikan diri bertanya.
”Ya… iyalah… masa mau makan..he.. ( ABCD = Aduh Boo… Capek Deh…./sisipan doank!:penulis )” dengan senyuman manisnya, di tambah bibir tipis dan pipinya yang lesung pipit tersenyum kepadaku.
Aku semakin STB ( salah tingkah Banget /kok banyak kata-kata gaul sih.. twing-twing!!:penulis). Tapi aku ikhwan, harus kuat.
”Gak sih.. Cuma mastiin aja Candy…”. balasku, gak mau ngalah.
”Idih GPL..!!!” timpal dia, dengan kerlingan matanya yang asyik dipandang.
”Apaan tuh???…”
Aku bengong…
”Gak Penting Lagi…”
Gubrakk!! Wah, akhwat sekarng gaul-gaul ya.. beda dengan dulu. Sa’at aku masih SMA. Akhwat dulu, memandang saja sudah malu-malu kucing. Sekarang mah, ngegemesin.. tapi, sama aja sih ikhwannya juga.
”Ma’af akh. Candy duluan… ” tambahnya sambil masuk kedalam ATM.
”Oya, silahkan…”. Balasku yang sebenarnya memiliki harapan bisa berlama-lama dengannya. Sejak sa’at itu aku jadi sering melamunkan dia, dan…
”Woi... woi… sudah belum ngelamunnya?? Aku mau pulang nih… ngapain dikantin cuman bengong doang.” lagi - lagi Jamal ngagetin aku. Kali ini dengan sedikit marah.
”Ya udah kita pulang aja, lagian aku kurang sehat nih.. oya sekalian makanan dan minumanku kamu bayarin dulu yah… aku lagi gak bawa uang.. sebenernya lagi bokek! He..he…” balasku dengan wajah meminta belas kasihan ”Pliss ya… sayang!! ” tambahku.
”Idih sayang, dasar!! Aktivis dompet tipis... keren sih oke. Tapi, gak berduit!! Nih aku bayarin… bilang makasih dong!!! ” tukas Jamal sedikit sewot.
”Iya...ya... deh, makasih ya… kamu temenku yang paling baik deh, tapi kamu jangan ngomong-ngomong aku aktifis ditempat umum dong, nanti aku di anggap teroris lagi… ”. Jawabku, dengan perasaan malu di bilang tak berduit.
”Emang aktifis harus banyak uang apa. Yang penting aktifis itu setia dan rajin ke syuro. Penampilan ok. Tepatnya sih Rapi. Omongannya didenger. Itu aktifis.”. Gumamku.
***
Sms itu masih belum diketahui siapa pengirimnya padahal sudah tiga hari. Setiap aku telpon dan sms tidak ada balasan, mungkin dinonaktifkan. Tapi aku tidak peduli yang penting aku sekarang selalu memikirkan Rany. Hari ini perasaanku sama dia semakin kuat, hidup terasa diombang-ambing, makan terasa hambar, inget dia, semua aktifitasku semakin tak menentu, ada perasaan rindu.
Ya, Allah apakah ini namanya cinta?? Apakah aku telah mencintai Rany?? Astagfirulalh, aku seharusnya tak berbuat seperti ini. Ini salah. Sambil merebahkan badanku di kasur, fikiran ini tetap tertuju sama Candy. Lantunan Nasyid yang kuhidupkan begitu merdu terdengar. Nasyid ini membuatku semakin dekat dengannya, terlebih lagi lagu dari inteam dengan Kasih ke kasih, impian kasih, Do’a seorang kekasih, ditambah nasyid Edcoustic… ah… semakin menggebu-gebu jiwaku ini.
( inteam: kasih ke kasih )
tak perlu aku ragui… Sucinya cinta yang kau beri
Kita saling kasih mengasihi… dengan setulus hati…
Ayah ibu merestui.. menyambung cincin di jari
Dengan rahmat ilahi… cinta kitapun bersemi…
Sebelum di ijabkabulkan, syariat tetap membataskan
Pelajari ilmu rumah tangga… Agar kita lebih bersedia
Menuju hari yang bahagia
Kau tahu kumerinduimu..
Kutahu kau mencintaiku, oh..kasih..
Bersabarlah sayang, saat indah kan menjelma jua..
Kita akan disatukan dengan ikatan pernikahan oh.. kasih..
Disana kita bina… Tulus cinta mahligai bahgia
Semoga cinta kita.. didalam ridho ilahi
Berdoalah selalu semoga jodoh berpanjangan..

( Edcoustic : nantikanku dibatas waktu )
Dikedalaman hatiku
tersembunyi harapan yang suci
tak perlu engkau menyangsikan
lewat keshalihanmu,
yang terukir menghiasi dirimu
tak perlu dengan katakata
sungguh walau ku kelu
tuk mengungkapkan perasaanku,
namun penantiannmu pada diriku
jangan salahkan,,,
kalau memang kau pilihkan daku
tunggu sampai aku datang
nanti kubawa kau pergi kesyurga abadi
kini belumlah sa’atnya aku membalas cintamu…
nantikanku dibatas waktu..

”Nantikanku dibatas waktu, ukhti Candy” tak sengaja aku mengucapkan kata itu. Astagfirullah. Kenapa aku berfikir sejauh ini, Tanpa sadar, air mataku meleleh mengalir membasahi pipi, ya, allah, dengan ke-Maha indahan-Mu, dengan kasih dan sayang-Mu, dzat penguasa alam yang menggenggam hati-hati manusia, Maha mencintai…. jika benar ini cinta datangnya dari-Mu maka halalkanlah cinta hamba, mudahkanlah hamba mendapatkan cintanya, jadikan cintaku kepadanya wujud cintaku juga kepada-Mu, ya Allah, jangan jadikan hamba menjadi manusia-manusia yang durhaka karena cinta, jangan jadikan hamba menjadi hamba yang terbakar cinta dunia dan seisinya, lindungilah hamba dari cinta-cinta nafsu.
Hanya ridho dan kasih sayang-Mulah hamba berharap. Kabulkanlah ya Allah. Suasanapun menjadi teduh, jarum jam merangkak terus. Jam 23.00. sudah malam, keheningan malam kian terasa, seiring lelehan air mata yang berbuah luapan asmara yang begitu besar. Luapan cinta. Membanjiri relung-relung hati yang sedang bergelora oleh cinta. Kerinduan bercampur, rindu kepada sang pencipta dan Rindu kepada Ciptaan-Nya. Kaset Nasyid yang kuputar berhenti, akupun perlahan mulai mengantuk dan akhirnya tertidur, bermimpi dengan bidadari - bidadari syurga. Dengan keindahan yang tak terkira.
Aya sms masuk, ujang aya sms masuk… berkali-kali bunyi hape terdengar, ” uwh!!, siapa sih malam – malam sms, sebelum membaca sms, kulihat jam…, apa?!! Jam 04.00. rasanya baru saja aku tidur masa sudah jam empat, huh, kayak di dongeng saja. Aku gak tahajjud!! ” ini lagi siapa pagi-pagi buta gini kirim sms, apa gak ada kerjaan.” Dengan perasaan dongkol aku memaki-maki sendiri, lalu ku buka sms yang masuk tadi.

Assalamu’alaikum Aris yg sholeh. Af1.aq sdh m’ngganggumu. Sblmny aq jg minta m’af ats klancangnq, krn tlh mengirim sms kpdmu. Ini sms yg ke2 yg ku krm.Km psti pnasaran, aq th dr tmn2mu.Km mcari th sapa pngirim sms itu. Sms ini jg sbg pnyembuh hatiq, aq tdk bs mlupaknmu,aq tdk bs mnahan prasaanku pdmu.Aq mncintaimu. Skrg km klwr,dipintu gerbang da spcuk srt drku,km akn th smuany. Semuany. dan sapa aq sbenarny.
Wassalam

Sms misterius! Surat? Malam begini ada surat didepan rumah. Aku semakin penasaran, lalu aku langsung keluar. Benar juga, sebuah amplop terselip di besi-besi grasi mobil. ”Masyaallah, nekat benar nih akhwat” gumamku, lalu aku mengambilnya. Sambil jalan menuju kamar, hatiku bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang ini. Sesampainya di kamar aku buka perlahan-lahan, sepucuk surat dengan kertas berwarna pink. Tulisannya indah sekali. Lalu kubaca:

Bogor, 17 Agustus 2007
Kepada hamba yang senatiasa bersujud.
di-
Hamparan sajadah
Assalamu ’alaikum warahmatulalhi wabarakatuhu.
Semoga Allah selalu melindungimu hari ini dan hari-hari yang akan datang. Tak henti aku memohon ma’af, yang sebenarnya tak perlu kau memaafkan aku. Dalam kegelapan malam aku tulis surat ini, sebagai bukti tulusnya rasa yang selalu mengejar jiwa sanubariku. Setiap malam aku selalu menangis. Meratapi dan merenungi. Selalu dan selalu. Tentu saja kamu merasa bingung dan penasaran, siapa aku sebenarnya. Aku bukanlah makhluk misterius yang bisa saja kau bayangkan, karena aku nyata, aku selalu disisimu.
Aris yang kucinta karena Allah, sejak aku mengenalmu, sejak aku melihatmu, dan sejak itulah bunga-bunga dalam dada ini merekah indah, harum dan mewangi. Sampai aku lupa, sesuatu telah terjadi pada jiwaku. Kesholehanmu telah menawan hatiku, tutur katamu menyirami tanaman-tanaman hijau di hatiku, sorot matamu tajam, menggetarkan jiwaku, Jiwa yang kupelihara kebersihan dan kesuciannya. Entah ini dosa atau tidak. Aku sudah terbius oleh harapan yang semakin lama-semakin terlena. Tapi bukankah Dia yang menciptakan perasaan kasih sayang? Bukankah Allah maha Mencintai hamba-hamba-Nya. Begitupun aku yang telah marasa resapan embun cinta. Syurga cinta telah nampak dipelupuk mata. Sa’at itulah, hari-hariku bahagia. Namun, untuk menggapai cinta sejati tidaklah mudah. Aku menguatkan diri, walaupun akhirnya aku terjatuh dan terjatuh. Perjuangan cinta yang kupendam selama dua tahun tidak juga berbuah, aku menangis, selalu menangis. Perjuangan jauh yang kutempuh akhirnya sampai disini. Perjuangan untuk bisa lebih dekat denganmu, akhirnya tercapai. Aku melanjutkan kuliahku dari D3 ke S1. ( kamu mungkin sudah dapat mengetahui siapa aku ?? ) semua ini hanya mengharap cintamu dan kesucian jiwaku. Kini, aku sudah dekat denganmu. Perjuanganku selama ini telah menghantarkanku kesisimu. Walaupun aku tidak bisa memaksamu untuk saling membagi cintamu padaku. Hanya saja, kecemasan masih menyelimutiku. Apa yang akan terjadi bila cinta yang kumiliki tidak mampu memasuki relung hatimu.
Aris kini kau tahu siapa aku sebenarnya. Kini kau mengerti kenapa aku disini. Hanya kaulah yang bisa mewujudkan semua usaha yang aku jalani. Namun, semua ini aku kembalikan kepadamu, kaulah yang memutuskan. Aku hanya bisa pasrah. Aku mencintaimu. Cinta karena Allah rabbul izati. Bagaimana denganmu? Aku tunggu balasannya. Ma’afkan kedhoifanku.
Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Yang merindukanmu.
( candy Indriastuti )

Subhanallah, bagaikan kejatuahan bintang dari langit. Sejuta asa menyelimuti hati. Perasaan mengharu biru. Merangsang kepenatan jiwa yang merindukan ketenangan dan ketentraman. Sesaat terdiam. menatap langit-langit kamar. Penuh dengan bunga.. bunga-bunga cinta. Semua yang aku lamunkan selama ini telah Allah gantikan dengan Hadiah yang sungguh luar biasa. Tapi, aku tidak bisa menerima semua ini dengan hawa nafsu.
Siangnya kuputuskan bertemu dengan guru ngajiku. Ust. Hendrik, meminta pendapat dan nasehatnya.
”Ust, ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan “ kataku pada ust. Hendrik, Dengan suara terputus-putus dan bergetar.
”Tafadhol’ Aris, ada apa?? “. Jawabnya
“Beberapa hari yang lalu ada akhwat, membuat pengakuan yang membuat saya merasa risi dan….ma’af, saya juga merasa bingung, akhwat tersebut mengatakan dalam sms nya bahwa ia jatuh cinta pada saya. Sedangkan saya tidak tahu siapa dia ” Ust. hendrik nampak terkejut, tapi, Ia berusaha tetap tenang.
“Sabar Aris, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang antum bayangkan.” Ust. hendrik mencoba menenangkan perasaanku.
“Ma’af…saya tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Akhwat itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat saya sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab saya sebagai muslim sejati, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, saya hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah islam“. Kataku mencoba membela keimanan.
“Ya sudah…saya berharap antum tetap istiqamah dengan kenyataan ini, saya tidak ingin kehilangan aktivis dakwah oleh permasalahan seperti ini “.
Ust. hendrik membuat keputusan, “ tapi, ust… Subuh tadi dia mengirim sms lagi dan kali ini disertai surat yang menjelaskan semuanya, dan ternyata akhwat itu saya kenal… “ sejenak aku berhenti, menyusun kata-kata yang tepat, lalu meneruskannya ” dan, akhwat tersebut ternyata yang belakangan ini telah membuat saya jatuh hati, subuh tadi saya benar-banar bahagia, karena saya mencintai akhwat yang selama ini dia pun memendam perasaan rindu…ma’af ust. Setelah saya fikir kembali, seharusnya hal ini tidak terjadi.. gimana menurut ust.?? “. Jelasku dengan perasaan tak tenang, dan perasaan malu.
”Kamu sudah tahu sendiri bagaimana islam mengatur semua ini. saya tidak menyalahkan perasaan kalian. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan saya adalah, apakah kalian sudah siap ketika saling menyatakan perasaan itu. Apakah akhwat tersebut mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak kamu?. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah akhwat itu telah menyampaikan perasaannya kepada ustzah dia untuk melakukan proses yang diseriuskan?. Apakah kamu dan dia sudah siap berkeluarga. Apakah kalian sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari sikap kalian, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????, Aris.. bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel.
Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah, dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan…” aku merasa malu. Keluar keringat dingin dari seluruh kujur tubuhku, lalu Ust. Hendik mengatakan kalau seandainya sudah siap untuk menikah, nanti akan disampaikan ke akhwat tersebut. lalu aku sampaikan bahwa akhwat itu adalah Rany, yang sa’at ini sedang mengikuti pengajiaan ustadzah Ririn, sahabat dekat istri ust. Hendrik. ” ya, sudah kamu tunggu kabar lagi aja mudah-mudahan allah memberi keluasan dan kemudahan ” tutur ustadz. Hendrik memberikan kelegaan dalam hati.
***
Di sepertiga malam ini sangatlah tepat aku tuliskan sebuah jawaban nafas-nafas cinta yang sedang melanda Candy. Akupun bertakbir. Melantunkan ayat - ayat cinta di malam ini. Disa’at semua orang terlelap dalam nikmatnya malam. Namun aku yakin dia selalu bertasbih di kegelapan malam dengan sujudnya yang suci. Secarik kertas putih ku lukis dengan kata-kata cinta. Untuk seorang hamba yang mencintai dan aku cintai, cinta karena Allah.
Hari-hari yang melelahkan. Tapi bagiku ini membahagiakan, memang jika kita bekerja, jika kita melaksanakan suatu amanah atau sesuatu. jika dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan tanpa paksaan sungguh lezat sekali rasanya. Berbeda dengan orang yang melakukan sesuatu dengan imbalan atau biasa kita sebut dengan ada udang di balik batu. Akan terasa berat dirasa. Ya, mungkin ini karena aku aja yang merasakan, karena aku sendiri yang akan menikah. Melihat sisi dari pernikahan bagiku bukan hanya sebatas memenuhi nafsu manusiawi saja, akantetapi sebuah acara yang sakral dan sebuah wujud cinta kita kepada Rasulullah saw. Karena dengan begitu kita mengikuti sunnah rasul yang mulia. Ini kewajiban yang menyenangkan. Sujud syukur. Sebentar lagi aku akan menyempurnakan dienku yang agung. sebagian orang sering mengatakan ini.
Aya sms masuk, ujang aya sms masuk…
“ Ada sms “ gumaamku. “ Dari Candy..!! “
“Assalammu’alaikum wr. Wb. sepanjang perjalannaku menuju rumah. Air mataku tak henti-hentinya mengucur dan meleleh di pipi. Kebahagiaan yang hakiki sesaat lagi akan kureguk. Keimanan yang kujaga dengan cinta akan berbuah menjadi mutiara yang indah. Menyongsong kehidupan yang baru. Untuk keindahan selamanya.. selamanya…. =) ”
Pengirim :
Candy
085694451248
Pusat pesan: +00251420828
Dikirim :
25 September 2007
09.10
Akupun menjadi termenung. Memaknai kalimat-kalimat yang dikirim oleh Candy. Calon bidadariku. Ada sebuah kejanggalan dari pesan singkat yang ia kirim kali ini. Kenapa ” sms nya seperti ini, aku harus segera membalasnya” gumamku. Lalu secepatnya aku membalasnya. ” De Candy, ada apa? Kenapa sms seperti itu?? Kamu sekarang ada dimana? ” dengan perasaan risih kukirim balasannya, menanyakan maksud sms Candy, lalu kutekan tombol kirim.ok!
Tapi, pengiriman pesan gagal. Ah, sial! gak ada sinyal. Kucoba beberapa kali lagi, akantetapi tetap tidak bisa. Kucoba menelpon. Tetap tidak bisa. Ada apa ini??
Beberapa sa’at kemudian, ada sms masuk lagi. ”oh, dari Candy lagi… ” ucapku.
” sayang, ku do’a-kan kau selalu bahagia. Hari ini dan hari – hari yang akan datang. Ma’afkan kesalahan-kesalahan ku selama ini. Sayang, aku tunggu kamu di negri yang tidak ada manusia mengganggu kebahagiaan kita. Disanalah kita bangun istana kebahagiaan ”
ada apa ini, kenapa sms nya seperti ini dan kenapa tadi aku sms dan telepon tidak nyambung. Tanda tanya besar hinggap dibenakku.
Tidak lama kemudian Hpku berbunyi kembali, kuperhatikan, nomor yang memanggil ternyata nomor yang tidak dikenal. ” hallo, Assalamu’alaikum. Bisa bicara dengan bapak Aris?? ” suara lelaki yang tak kukenal suaranya. ” iya, saya sendiri, ma’af bapak siapa ya?? Ada yang bisa saya bantu. ” jawabku, Dengan perasaan tidak tenang. ” sebelumnya kami mohon bapak bisa bersabar ya pak. Kami dari kepolisian lalu lintas. Sekarang kami berada di jalan puncak Bogor-Jakarta.” jelas lelaki yang ternyata dari kepolissian. ” polisi lalu lintas???, apa hubungannya dengan saya pak??!! ” tanyaku dengan nada kaget bercampur tidak sabar. ” ma’af pak. Disini terjadi kecelakaan Bis dari Baranangsiang menuju Bandung, Bis ini terlempar kejurang sa’at akan berbelok, kejadian ini terjadi satu jam yang lalu tepatnya jam 08.00. ” jam 8…!” fikirku. ” penumpang semuanya tewas, hanya 2 anak-anak dan 1 bayi yang masih hidup… ”
” lalu apa hubungannya dengan saya pak?? ” tanyaku memotong penjelasan polisi tersebut dengan nada kesal bercampur takut dan khawatir. ” sekali lagi kami mohon bapak dapat bersabar dan menguatkan diri. Karena, salah satu dari penumpang tersebut terdapat seorang wanita yang sedang memegang selendang bertuliskan: Aris Taufiqurrahman dengan nomor handphone ini. kami yakin wanita ini adalah saudara, anak atau istri bapak. Dari KTP yang kami ambil dari dompetnya, tertera namanya CANDY INDRI ASTUTI kelahiran Bandung, sebagai mahasiswi di Bogor ” bagaikan mendengar petir ditelinga, dunia terasa berhenti berputar, nafas terasa sesak, tak dapat mengeluarkan satu patah katapun, semuanya bergemuruh. Lemas tak berdaya. ”Can.. Candy… tidak … calon istriku… bidadariku… Tidak Mungkin!!! Bapak pasti salah. Beberapa menit yang lalu dia sms, dua kali!! ” dengan sedikit tidak yakin bercampur perasaan takut yang sangat.. ” tapi pak, semuanya sudah jelas.. selendang yang dipegang dengan nama dan no HP bapak, gaun serta kerudung yang dia kenakan, apa bapak masih belum percaya?? ” jelas polisi tersebut meyakinkanku. Akupun tak dapat menahan kesedihanku… dengan penjelasan yang sangat jelas, akhirnya aku mempercayainya.. ” Ya allah… ini tidak mungkin. Candy. Innalillahi wa innalillahi raji’un ” seakan berteriak, air mata deras mengalir.. aku tak tahan lagi menerima kabar yang seakan mimpi ini. ” pak Aris, tabah ya pak!! Kami turut berbela sungkawa atas kejadian ini. Selain itu, kami juga menemukan beberapa keanehan yang terjadi sama.. ma’af! calon istri bapak. Ketika kami temukan, wajahnya begitu ceria dan tampak indah, bibirnya seakan tersenyum, memancarkan cahaya. Dan, kedua belah tangannya berada diatas dadanya. Layaknya orang yang sedang sholat. Anehnya lagi, tidak ada luka sedikitpun ditubuhnya, nampaknya ia terlempar jauh dari bis itu jatuh, tidak seperti penumpang lainnya yang tewas, sampai tertimpa badan bis. Bunga-bunga disisinya seakan mekar mewangi… Semerbak… Bau wangi menyeruak dan merebak, harum bagaikan khas keharuman sebuah kamar mempelai yang akan mereguk cinta di malam pertama..” jelas polisi itu, dengan mantap dan terdengar parau dan bergetar. aku hanya terdiam, diam seribu bahasa.
Ya allah, apakah cintaku hanya dibatas waktu..???
***

SURAT TERBUKA UNTUK IKHWAN FILLAH

SURAT TERBUKA UNTUK IKHWAN FILLAH


Malam telah larut terbentang. Sunyi. Dan saya masih berpikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh praduga. Semua semata-mata hanya untuk musahabah terutama bagi diriku, mahluk yang oleh Rasulullah SAW disinyalir sebagai pembawa fitnah terbesar.

Suratmu sudah kubaca dan tersimpan, surat yang membuatku gemetar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tak bisa tidur belakangan ini. Jujur kukatakan bahwa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian, tetap saja yang “kesekian” itu membuatku diamuk perasaan tak menentu.

Astaghfirullahaladzim. Bukan, bukan perasaan karena merasa diriku begitu diperhatikan. Justru sikapmu itu menghempaskan ke jurang kepedihan dan kehinaan. Afwan kalau yang terpikir dalam benak pertama bukannya introspeksi, tapi malah sebuah tuduhan; kemana ghadhul bashor-mu?

Akhifillah,
Alhamdulillah, Allah mengaruniakanku zhahir yang jamilah. Dulu, di masa Jahiliyyah, karunia itu senantiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, kupikir semua hal tentang itu takkan terulang. Ternyata dugaanku salah. Mengapa fitnah ini justru menimpa kepada orang-orang yang kuhormati sebagai pengemban risalah dakwah? Siapakah yang salah di antara kita?

Akhifillah,
Maaf kalau saya menimbulkan fitnah dalam hidupmu. Namun semua bukan keinginanku untuk beroleh wajah seperti ini. Seharusnya di antara kita ada tabir yang akan membersihkan hati dari penyakit-penyakitnya. Telah kucoba dengan segenap kemampuan untuk menghindarkan mata dari bahaya maksiat. Alhamdulillah, hingga kini belum hadir sosok pangeran impian yang hadir dalam angan-angan, semua kuserahkan pada Allah Ta’ala semata.

Akhi,
Tentunya antum pernah mendengar hadist yang kesohor ini, bahwa wanita dinikahi karena empat perkara; kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan diennya. Maka pilihlah yang terakhir karena itu akan membawa laki-laki kepada kebahagiaan yang hakiki. Kalaulah ada yang mendapatkan keempatnya, ibarat ia mendapat surga dunia. Sekarang, apa yang antum inginkan? Wanita shalihah pembawa kedamaian atau wanita yang cantik tapi membawa kesialan? Maaf kalau di sini dengan sangat terpaksa saya berburuk sangka bahwa antum menilai saya Cuma sebatas fisik belaka. Kapan antum tahu kalau dien saya memenuhi kriteria bagus? Apa dengan menilai frekuensi kesibukan saya? Jam terbang yang tinggi? Tidak, antum tidak akan pernah tahu kapan saya berbuat ikhlas lillahi ta’ala dan kapan saya berbuat karena riya’. Atau antum ingin mendapatkan istri akhwat yang cantik yang memiliki segudang prestasi tapi akhlaknya masih dipertanyakan? Saya yakin sekiranya antum disodori pertanyaan demikian niscaya tekad antum akan berubah.

Akhifillah,
Tanyakan kepada setiap akhwat kalau antum bisa, yang tercantik sekalipun. Maukah dia diperistri karena zahirnya belaka? Jawabnya insya Allah tidak. Tahukah antum jika kecantikan lahir itu adalah mutlak pemberian Allah? Ia suatu anugerah yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar jika diberikan kepada seseorang atau dihindarkan dari seseorang. Jadi, manusia tidak mendapatkannya memalui pengorbanan. Lain dengan kecantikan batiniyah. Ia melewati proses panjang, berliku. Mengalami pengorbanan dan segala macam pengalaman pahit. Ia adalah intisari dari manisnya kata, sikap, tindak tanduk, dan perbuatan. Apabila seorang laki-laki menikahi wanita karena kecantikan batinnya, maka ia telah amat sangat menghargai perjuangan seorang manusia dalam mencapai kemuliaan jati dirinya, paham?

Akhifillah,
Tubuh ini hanya pinjaman yang terserah Dia kapan mengambilnya. Tapi ruh, kecantikannya menjadi abadi. Karenanya, manusia diperintahkan untuk merawat ruhiyahnya bukan hanya jasmaninya yang sewaktu-waktu bisa usang dan koyak. Afwan kalau surat antum tidak saya tanggapi. Saya tidak ingin masalah hati ini menjadi berlarut-larut. Satu yang saya minta agar kita saling menjaga sebagai saudara, menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tahukah antum bahwa tindakan antum telah menyebabkan saya tidak lagi berada di jalan-Nya? Ada riya, ada su’udhan, ada takabur, ada kemarahan, dan ada kebencian. Itukah jalan yang antum bukakan untuk saya, jalan neraka?

Akhifillah,
Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian, kalau antum mau dengan cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan saya orangnya. Jangan antum kira kecantikan lahir telah membuat saya memiliki segalanya. Justru saya kini merasa iri dengan saudari saya, ia begitu sederhana, tetapi akhlaknya bak lentera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah, sementara apa yang saya miliki masih masih sangat jauh nilainya. Saya takut jika suatu saat ia mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sementara saya tidak.

Akhifillah,
Afwan kalau saya menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah saya akan lebih memperbaiki diri. Mingkin semua ini sebagai peringatan dari Allah bahwa masih banyak amalan saya yang riya maupun tidak ikhlas. Walahu a’lam. Simpan saja cinta antum untuk istri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhwat, ribuan umat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzudin al- Qossam yang lain. Penuhilah harapa islam akan generasi yang tangguh semacam Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang menghantarkan ke Jannah-Nya.

Akhifillah,
Malam bertambah dan bertambah larut. Mari kita shalat malam dan memandikan wajah serta mata kita dengan air mata. Mari kita sucikan hati dengan taubatan nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada Asma dan ‘Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.

JIKA AKU JATUH CINTA

JIKA AKU JATUH CINTA

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertempuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin. Tapi cinta itu tentu porsinya tidak melebihi cinta kita pada Allah, karena Allah mengatakan, “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjiha di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” Cinta. Sebuah kata singkat yang memiliki makna luas. Walaupun belum teridentifikasi secara pasti, namun eksistensi cinta diakui oleh semua orang. Al-Ghazali mengatakan cinta itu ibarat sebatang kayu yang baik. Akarnya tetap di bumi, cabangya di langit dan buahnya lahir batin, lidah dan anggota-anggota badan. Ditujukan oleh pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan, seperti ditujukkanya asap dalam api dan ditunjukkanya buah dan pohon.
Prestasi kepahlawanan para pejuang tidak terlepas dari pengaruh cintanya seorang pemuda kepada pemudi. Umar bin Abdul Aziz berhasil memenangkan pertarungan cinta sucinya kepada Allah dari pada cinta tidak bertuannya kepada seorang gadis. Tidak ada yang salah pada cinta. Berusahalah menempatkannya pada tempat, waktu dan sisi yang tepat.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
(Yesi Elsandra, special untuk yang saling mencintai karena-Nya)

DUHAI SUAMIKU

DUHAI SUAMIKU

Kadangkala mungkin tergambar di benak fikiranmu, bahwa engkau telah salah ketika memilih diriku menjadi pasanganmu. Kadang kala ia mengganggu dalam pergaulan sehari-harimu denganku, terkadang ku takut perasaan cintamu berubah menjadi benci, limpahan kasih sayangmu menjelma menjadi kemarahan, dan ketenangan pun berubah menjadi ketegangan.
Suamiku….. Di saat engkau masih sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, tak jarang aku kau abaikan. Waktu di rumah pun, kadang ku ikhlaskan demi masa depanmu. Bukankah engkau tahu aku pun butuh perhatian darimu. Terkadang ku cari perhatian itu, namun terlihat salah dipandanganmu. Kalaulah itu terlihat salah, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain.
Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)
Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.
Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku.
Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.
Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan, sadarlah, sesungguhnya egois telah menguasai dirimu. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.
Duhai Suamiku… Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.
Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.
Wahai Allah, Engkau-lah saksi ikatan hati ini… Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku, jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu. Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu, hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Jika ia rindu, jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku, jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu. Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu, ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu. Amin ya rabbal alamin.

CINTA SEORANG UKHTI

CINTA SEORANG UKHTI

”Kamu Fatih ya, perkenalkan nama saya Ukhti !.” Aku agak bingung ketika kalimat itu masuk dalam inbox-ku. Sudah beberapa hari ini sms dari seseorang yang mengaku bernama ukhti ini mampir di inbox Hp ku.
Awalnya aku gak begitu ambil pusing dengan pesan yang masuk, karena aku pikir nanti juga bosen sendiri, tapi kok lama lama rasanya ganggu juga. habisnya pas aku lagi asik-asiknya ngeband sama temen-temenku, hp ku berdering, ketika ku angkat ternyata dari si Ukhti itu.
Mana pesannya cuma bilang, ”jangan lupa waktunya shalat Ashar.” memang sih sudah waktunya Ashar, tapi kan aku lagi latihan sama temen-temen buat persiapan manggung, nanti juga aku shalat, biar begini aku gak pernah bolong lho shalatnya!, ya walaupun seringkali harus mepet waktu ‘injury time’. Hari ini aku puas banget pasalnya aku dan temen-temen sukses tampil bawain lagu ”Don’t Cry” nya GNR ( gun’s n roses ), selesai manggung aku langsung ke rumah Ica, cewek seksi yang udah tiga bulan ini jadian denganku.
Di tengah perjalanan Hp-ku bergetar menandakan ada sms masuk, ketika aku lihat ternyata ada pesan singkat, ”Bacalah Al Quran karena Al Quran pedoman hidup kita……Ukhti.”
“Huh! ngapain sih nih orang kurang kerjaan amat sih pake sms suruh baca Al Quran segala.” batin ku.
Tanpa ambil pusing aku teruskan perjalanan tandang ke rumah si Ica. Senin ini aku harus ke kampus pagi-pagi karena ada tugas yang harus kukumpulkan sebelum pukul 9 pagi. gak seperti biasanya, sebelum ke kampus aku sempetin ke warung bubur ayam sebelah kampus. karena buru-buru, aku langsung lari begitu bubur selesai dibungkus dan aku bayar, “Bruk…” ya ampun bubur ayam-ku tumpah. Sesosok wajah aku lihat memerah dihadapanku sambil tergagap meminta maaf padaku, ”Maaf mas biar saya ganti bubur ayamnya.”
Kalau saja bukan seorang wanita yang menurutku anggun dengan jilbab panjangnya pasti sudah kumaki dia. “We alah piye kowe nduk. ” teguran penjual bubur kepada gadis itu sedikit agak marah .
”Sudah bu nggak papa, tolong buatkan satu lagi saja.” ujarku.
Setelah dibuatkan aku langsung pergi ke kampus mengejar jam 9 pagi. setelah kejadian itu aku jadi sering mampir ke warung bubur “Mbok Parti”, selain buburnya lumayan enak aku juga bisa melihat wajah anggun yang selalu dibalut dengan jilbab panjang itu. Walaupun kadang aku harus sedikit kecewa karena cewek yang belakangan kutahu namanya Farah itu tidak ada di situ.
“Bagaimana, sudah dibaca belum buku yang aku kirim ” pesan singkat itu hadir lagi di display Hp ku. Hari sabtu kemarin ada tukang pos mengirim kado yang ditujukan untukku.” Perasaan aku gak ulang tahun hari ini ” gumamku. Setelah aku buka ternyata isinya buku berjudul “Muhammad.” aku gak tau siapa pengirmnya sampai aku terima pesan singkat di Hp ku. ternyata dia lagi,”Ukhti”.
Sudah 3 bulan ini pesan singkat dari si “Ukhti” mampir di Hp ku. Kadang mengingatkan shalat, memberi tau acara pengajian di Mushalla kampus, kadang hanya mengirim hadits-hadits nabi. Walaupun selama tiga bulan ini sms itu gak pernah aku balas tapi masih saja dia nggak bosen kirim sms ke aku. pernah satu ketika aku coba telepon orang yang mengaku Ukhti itu, ternyata seorang wanita dengan suara lembut, ketika aku tanyakan siapa sebenarnya dia, dia malah menutup pembicaraan.
Akhir akhir ini entah kenapa aku jadi lebih suka ke mushala kampus, mungkin karena pengaruh pesan pesan singkat itu atau memang aku “ngerasa” nyaman ada di mushala . Usai shalat dzuhur aku duduk duduk diteras mushala, tanpa sengaja aku melihat Farah masuk ke mushala bagian wanita.
“Assalammualaikum”.. aku sedikit kaget ketika ada orang dibelakang ku yang mengucapkan salam.
“Wa’alaikum salam” timpal ku.
“Lagi mikirin apa nih, sampe segitunya?” Seorang bertampang teduh itu mencoba menyapaku.
”Eh enggak mas, lagi nikmatin angin siang yang semilir.”
“Kayaknya aku baru ngeliat kamu deh, boleh tau siapa namanya?.”
“Nama saya fatih mas, geografi 2000, mas sendiri siapa?”.
“Saya Rachman, kedokteran 98.”
Tak terasa jarum jam ditanganku tepat lurus menunjuk angka 3. Baru kali ini aku bisa selama ini ngobrol dengan seseorang tanpa ditemani rokok atau secangkir kopi, entah kenapa aku merasa nyaman ngobrol dengan mas Rachman, mungkin karena pembawaannya yang tenang dan ada nuansa yang berbeda darinya. Padahal kami hanya mebicarakan hal-hal ringan, sampai akhirnya aku tahu ternyata mas Rachman itu kakanya Farah.
Dari pertemuan kali itu aku semakin sering ke mushalla, untuk hanya sekedar shalat, ikut kajian sampai sengaja ngobrol dengan mas Rachman untuk tau lebih jauh tentang Farah. “Akhi fatih, pekan depan jangan lupa halaqohnya dirumah ane ya! .” Suara mas Rachman terdengar sayup-sayup mengingatkanku.
Sudah satu tahun lebih lima bulan ini aku mengikuti pengajian yang lebih dikenal halaqoh dikalangan anak kampus ini. Setelah aku ikut halqoh sama temen-temen di mushala aku jadi lebih banyak tahu tentang islam, gimana harusnya seorang muslim itu, gak cuma shalat doank tapi akhlaknya jauh dari tuntunan Rasullullah saw. tapi seorang muslim itu ternyata harus sebisa mungkin menerapkan syariat islam dalam kehidupannya serta mendakwahkan nilai-nilai islam kepada semua orang.
Aku sudah gak merokok, apa lagi ngeband bareng temen-temen ku, karena ternyata ngeband itu lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya, selain lirik-liriknya yang banyak mengandung unsur musyrik, efek bunyi yang ditimbulkan pun gak baik buat pendengaran. sekarang aku lebih sering ikut di kegiatan-kegiatan dakwah kampus, daurah ke luar kota atau hanya sebagai panitia di kajian ringan mushala kampus, rasanya hidupku kini lebih hidup (he.he kayak iklan aja). “akhi jangan lupa qiyamulai ya.” Sms dari Ukhti lagi.
Berbeda dengan awal-awal aku menerima sms dari Ukhti, kini aku mulai menyukai pesan-pesan singkat yang mampir di display Hp ku, walaupun sampai kini aku belum tahu siapa Ukhti itu. “InsyaAllah, jazakallah atas semua nasihatnya.” balas ku ke nomornya.
Tiga bulan setelah kelulusanku sebagai sarjana science Universitas Indonesia, aku diterima bekerja di perusahaan swasta dengan gaji lumayan besar. Sesuai dengan rencanaku untuk menikah setelah mendapat pekerjaan, aku langsung menyatakan keinginan baikku kepada mas Rachman untuk mencarikan seorang akhwat yang siap menikah denganku, mas Rachman yang tidak lain adalah murobbiku langsung merespon dengan baik keinginanku. Dia segera mencarikan akhwat yang sesuai dengan kriteria pilihanku yang aku cantumkan diproposalku.
Sebelum mengikuti halaqoh aku gak kepikiran kalau ada orang yang menikah tanpa pacaran terlebih dulu, gak mungkin gitu lho. Tapi sekarang aku baru paham bahwa tidak ada pacaran dalam islam, sesorang yang ingin menikah cukup melakukan taaruf atau perkenalan dengan wanita yang ingin dinikahinya melalui seorang perantara yang dipercayainya, setelah ada kecocokan antara keduanya maka segera keduanya melakukan akad nikah. Begitulah proses pernikahan yang aku jalani sekarang.
“Alhamdulillah ana sudah menemukan akhwat yang sesuai dengan kriteia antum.” Ucap mas Rachman dalam acara qodoya rowai halaqoh kami. “Ini biodata akhwatnya tolong dipertimbangkan dengan baik, dan jangan lupa istikhoroh.” Berdegup kencang jantungku ketika menerima biodata itu dari mas Rachman. Perlahan dengan membaca basmalah aku buka lembaran-lembaran yang berisi keterangan lengkap tentang calon istriku.
Namanya Aini, lumayan cantik, seorang guru TK yang sederhana. Seminggu setelah itu aku dan kedua orangtuaku bersilaturahmi ke rumah Aini untuk menyatakan niat baikku untuk meminangnya. Dan alhamdulillah pihak keluarga Aini menerima kami dengan sangat baik, dari pertemuan itu diputuskan bahwa rencana pernikahan kami akan dilaksanakan 2 bulan setelah ini.
Senin pagi aku ketemu mas Rachman di depan stasiun Pondok Cina, nampaknya mas Rachman sangat tergesa gesa. “Assalamualaikum….. mas… mas Rachman.” seruku setengah berteriak.
”Waalaikum salam,” sahutnya.
“Mau kemana mas ?” tanyaku sembari mendekati.
”Mau ke rumah sakit akh!”
”Memangnya siapa yang sakit mas ?” sergapku sedikit terkejut.
”Farah akh, sudah 3 hari ini dia dirawat dirumah sakit.”
“Memangnya Farah sakit apa mas?”
“Ana juga belum tau akh.”
“Kalau begitu ana ikut ya mas ”
“Lho bukannya antum kuliah?”
“Gak papa kok mas, hari ini cuma 1 mata kuliah, itu pun dosennya sering gak masuk,”
“Yah terserah antum.” Kami berdua langsung menuju rumah sakit tempat Farah dirawat dengan tunggangan setiaku si “Jundi”.
Aku terpaksa berbohong pada mas Rachman, sebenarnya hari ini aku ada midtes mata kuliah unggulan, tapi biarlah. aku hanya ingin menjenguk Farah, mengetahui bagaimana kondisinya saat ini. Kalau boleh jujur sebenarnya ketika aku menyerahkan proposal ku ke mas Rachman, aku berharap bahwa Farah-lah yang yang akan di jodohkan denganku, tapi ternyata mas Rachman kurang sensitif menangkap keinginanku.
Walaupun aku sudah bertunangan dengan Aini tapi masih saja sulit menghilangkan kekagumanku pada Farah, aku masih saja belum bisa menghilangkan dia sepenuhnya dari pikiranku. sudah tiga hari ini aku bolak-balik kampus-rumah sakit untuk menemani mas Rachman menjaga Farah, walaupun hanya menemani mas Rachman ngobrol diruang depan (karena gak mungkin kalau aku masuk kedalam ).
Setelah seminggu dirumah sakit nampaknya keadaan Farah belum membaik, akhirnya minggu pagi Farah harus dioperasi karena setelah diperiksa ternyata terjadi pendarahan kecil diotaknya, aku sangat cemas dengan keadaanya, diruang tunggu aku hanya bisa berdzikir dan berdoa demi kesembuhan Farah. mas Rachman yang sedari tadi menemani Farah diruang operasi belum juga keluar. Akhirnya mas Rachman keluar juga.
“Afwan akh bisa minta tolong ambilkan Al Quran ku di meja kecil di kamar ,”
”Baik mas saya segera ambilkan”, segera aku berlari kekamar 303 tempat Farah dirawat. ketika aku mencari Al Quran mas Rachman, aku menemukah sebuah buku diary terbuka dan aku lihat ada namaku disitu ditulis dengan huruf tebal disela sela rajutan tulisan. Tentu saja aku penasaran kenapa sampai bisa ada namaku di dalamnya. Kubuka lembaran-lembarannya, isinya menceritakan semua yang dialami pemilik buku, yang ternyata “Aisyah Farah Putri”.
”Ri….. hari ini aku gak tau apa yang sedang terjadi padaku, rasanya ada yang aneh. Tadi ketika aku baru keluar melewati gerbang kampus aku bertemu dengan seorang pria yang entah kenapa menyita perhatianku. Aku ber-istighfar ri ketika sadar bahwa seharusnya aku menjaga pandanganku. Pria itu terlihat begitu menarik dalam pandanganku sehingga aku sempat ‘terlupa’. Ah … ini pasti perangkap syetan ya ri. Ya Allah lindungi hamba dari godaan syetan yang terkutuk. Sudah dulu ya ri aku mau tidur, besok aku harus kekampus pagi-pagi untuk persiapan kajian rutin di kampus.
Senin, 3 february 2005
”Hari ini aku ternyata bertemu lagi dengan pria itu ri, ternyata dia anak geografi yang banyak digandrungi cewek-cewek kampus, dia juga merupakan anggota ‘Pistro’ ri, grup band kampus yang katanya paling top di UI. Andai saja pria itu seorang ikhwah yang baik, pasti banyak hal yang bisa dilakukannya untuk islam. Tapi bukankah dia juga mempunyai potensi untuk menjadi baik. ah aku harus berdakwah terhadapnya. tapi bagaimana caranya ya ri?. Coba melakukan pendekatan dengannya, sepertinya gak mungkin. Aku gak mau seperti teman- teman lain yang terjebak oleh “objek dakwahnya”, bukan kebaikan yang dituai tapi malah dosa yang mengisi hari-harinya. lalu apa ya yang harus kulakukan…mmmmm, ah nanti saja kupikirkan caranya, aku mau tidur dulu ya ri, supaya gak kelewatan qiyamullail.”
Kamis,6 February 2003
”Ternyata nama pria itu Fatih ri lengkapnya Muhammad Fatih, nama yang baik, nama yang menyimpan harapan besar sang pemberi nama, aku juga dapat no.Hp nya dari temanku yang gak lain teman SMAnya dulu. Aku jadi punya ide untuk mengajaknya lebih dekat dengan islam ri. SMS, ya dengan sms ri! Hanya ini cara yang ’aman’ ri, aku akan mengirimkan sms-sms tausiyah kepadanya, mudah mudahan dia terketuk untuk lebih mengenal islam. Mulai besok aku akan rutin mengirim sms buatnya.”
Lembaran demi lembaran aku baca dengan seksama, ada persaan GR juga ketika ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan, ternyata dia pun menyimpan rasa pula padaku. aku teruskan membaca diary-nya.
9 february 2003
“Alhamdulillah ri sepertinya usahaku sudah mulai terlihat hasilnya, Fatih sekarang sudah sering terlihat di Mushala kampus, dia juga sering terlihat di acara acara kajian mushala. dan yang lebih menggembirakan ternyata dia sedang dekat dengan mas Rachman. ah semoga saja semakin baik keislamannya ri”. Sepertinya hilang sakit yang sampai sekarang aku gak tau sakit apa?” semoga saja sakit kepala biasa ya ri .”
Ternyata “Ukhti” yang selama ini memberikan tausyiah kepadaku adalah Farah, Ya Allah balas-lah kebaikannya dengan balasan yang lebih baik dan banyak. Jazakallah khairan katsirah Farah….
2 april 2004
”Jujur hari ini aku sedih banget ri, karena ternyata Fatih akan segera menikah, aku dapat info itu dari pembicaraan kakaku saat menelpon Fatih tadi pagi ri. Fatih yang selama ini aku harapkan mendapat hidayah-Nya agar dapat bersamaku mengarungi hidup ini, Fatih yang kudoakan selalu keadaanya, Fatih yang begitu besar aku sandarkan harapan padanya.kenapa ketika Fatih mengajukan diri untuk menikah, mas Rachman tidak memilihku untuk dijodohkan dengannya. Jujur aku kecewa pada mas Rachman.”
Dada ini berdegup kencang ketika kubaca rangakaian kalimatnya……..
3 septemnber 2004
“Ya Allah Kuatkan lah aku dalam menghadapi takdirmu ini, 2 bulan lagi fatih akan melangsungkan akad nikah, rasanya aku tak sanggup menerima ini ri, tapi aku tak boleh seperti ini. bukankah aku berdakwah hanya karena Allah. mungkin ini ujian Allah untuk menguji keikhlasanku. ya Allah kalau memang ini keputusanmu, aku akan terima, walaupun teramat berat untuk kujalani, bahkan mungkin lebih berat dari ketika aku harus kehilangan ayahku.mudah mudahan Fatih mendapatkan istri yang shalehah ya ri. Allahummaj’alni sobron waj’alni syakuuron.”
Sesak rasanya dada ini. Aku gak tahu apa yang harus kulakukan. Kenapa ini harus terjadi, kenapa Farah tak memberi tahu mas Rachman tentang perasaannya padaku, bukan-kah itu tak dilarang oleh islam, sehingga mas Rachman tahu keadaan sebenarnya, kenapa ya Allah engkau menakdirkan semua ini. aku Khilaf, semua gelap dalam pandanganku. Ya Allah apa maksud dari semua ini. aku tertegun lama dikamar rumah sakit. dengan dada sesak dan berlinangan air mata, aku menuju kamar operasi untuk memberikan alquran kepada mas Rachman. 2 hari ini aku hanya mengurung diri di kamar, mendoakan kesembuhan Farah. Aku juga berfikir untuk membatalkan pernikahan ku denagan Aini, aku harus melakukannya.
Rencananya nanti malam aku mau kerumah sakit menjenguk Farah. Alhamdulillah Operasi yang dijalani Farah berjalan dengan lancar, dan Farah kini telah sadar. Aku langsung sujud syukur di depan pintu ruang operasi. Karena sudah terlalu larut malam dan kelihatannya mas Rachman juga sudah terlihat letih,aku hanya ngobrol sebentar saja dengannya lantas aku pamit pulang. Rencananya besok siang baru kembali lagi. Selesai kuliah aku langsung menuju rumah sakit, setelah sebelumnya mampir ke toko roti unyil untuk kubawa kerumah sakit. Sampai di rumah sakit sudah ada mas Rachman dan Ibunya. aku langsung mendekati mas Rachman dan menitipkan buat Ukhti…. eh Farah. Mas Rachman sempat bingung juga ketika aku titipkan untuk Farah. tapi sepertinya dia gak ambil pusing.
Assalammualaikum wr. wb.
Teruntuk saudariku yang aku cintai karena Allah “Ukhti” Alhamdulillahirabbil’alamin, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala alih wa shahbihi ajama’in. Bagaimana keadaannya sekarang Ukhti, ana harap jauh lebih baik dari har- hari sebelumnya. Jazakallah atas semua kebaikan yang Ukhti berikan ke ana, mudah mudahan Allah membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik.
Dulu ketika ana masih “jahiliah” belum mengenal keindahan nilai-nilai islam, ketika ana masih bergabung bersama grup band pistro, ada seseorang yang mengaku bernama Ukhti senantiasa mengirimkan sms-sms yang berisi nasihat-nasihat kebaikan, awalnya ana merasa terganggu sekali dengan sms darinya tapi ternyata dari situlah Allah memberikan hidayahnya kepada ana, sampai ketika ana telah dikaruniai kenikmatan merasakan keindahan islam dan berkomitmen untuk melaksanakan syariat islam dalam kehidupan ana, ana masih belum tahu siapakah “Ukhti” ini.
Ana berharap bisa berjumpa dengan orang yang sangat berperan dalam proses perubahan ana. Sampai satu ketika, ketika ana sedang menemani seorang teman yang adiknya dirawat karena sakit, ana menemukan sebuah diary yang tergeletak dan terbuka di meja kamar rawat inap, dan ana lihat ada nama ana didalamnya.
Dan subhanallah ternyata orang yang selama ini ana cari adalah orang yang selama ini ana kagumi, dan berharap sekali dia mau melabuhkan cintanya di hati ini. Tapi karena ketidak terusterangan ana, tanpa sadar ana telah menyakiti diri ana sendiri dan “Ukhti”, ana telah terlanjur mengkhitbah seoarang wanita lain, tapi ana rasa ana akan mengubah keputusan ana, ana sadar dalam keputusan ana akan ada pihak yang dikorbankan, dan ana tidak akan mengorbankan cinta ana, ana akan membatalkan rencana pernikahan ana dengan wanita yang telah ana khitbah, mudah mudahan dia mau mamaafkan ana dan mendapatkan yang lebih baik dari ana.
Dan pastinya anti sudah tahu siapa wanita yang ana maksud itu. ana harap anti mau memafkan ana dan bersedia menjadi tempat berlabuh pencarian ana selama ini. Ana akan membicarakan hal ini kepada mas Rachman, mudah mudahan dia setuju dengan semua ini.
Wassalammualaikum wr wb, Muhammad Fatih.

Hari ini Alhamdulillah Farah telah keluar dari rumah sakit, keadaanya sudah baik, walaupun masih harus banyak istirahat. Rasanya aku sangat senang sekali, dan berencana besok akan ke rumah Farah untuk mebicarkan niat ku kepada mas Rachman. Keesokan harinya pagi pagi pukul 08:00 aku sudah berangkat menuju rumah Farah, sampai disana ternyata mas Rachman tidak ada dirumah karena pagi-pagi sekali harus berangkat ke sukabumi untuk mengikuti acara mukhayam (perkemahan).
Hanya Mbok Parti (ibu Farah) yang aku temui dirumah Farah, sepertinya aku harus menunda rencanaku sampai mas Rachman pulang kembali. Setelah pamitan dengan “calon mertua”(hehehe), aku langsung menyalakan si Jundi, tapi belum sampai aku memasukan gigi ada suara wanita memangilku. “Akh Fatih afwan, ini tolong dibaca nanti saja setelah sampai rumah ya. Ternyata Farah yang memberikan sepucuk kepada ku. “Syukron Ukh” timpalku. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi membaca itu. sampai dikampus aku langsung menuju tempat Favoritku, Danau Kampus, dibawah pohon yang rindang dan disapa angin semilir, perlahan aku mulai membuka bersampul biru itu.
Asslamualaikum Wr wb.
Kepada akhina Fatih yang mudah-mudahan selalu dalam curahan rahmat Allah SWT. Alhamdulillah hirabbil’alamin, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alih washahbih. Segala puji bagi Allah yang telah meng-anugerahkan kita berdua nikmat iman dan islam, yang telah memilih kita sebagai orang yang dimuliakan oleh islam, yang sangat pencemburu dan tidak suka jika ada hamba yang mencinta melebihi Cinta kepadaNya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Muhammad Rasulullah saw. yang mengajarkan kita tentang arti cinta sebenarnya.
Maaf jika baru bisa membalas, ana gak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini, jujur ana terkejut, malu sekaligus marah ketika membaca surat dari antum, apa yang ana rahasiakan selama ini sudah antum ketahui semua, tapi mungkin ini lah Cara Allah menguji kesabaran dana keikhlasan ana. Memang seperti itulah perasaan ana kepada antum selama ini.
Awalanya ketika ana mendengar antum ingin berencana menikah, rasanya hilang semua asa ini, sepertinya tak ada lagi kegembiraan dalam relung hati ini, ana sangat tidak bisa menerima keadaan ini, bahkan ana sempat berburuk sangka kepada Rabbul izzati. Tapi setalah ana berfikir jernih dan coba mengoreksi diri, ternyata semua ini adalah ujian keikhlasan yang Allah berikan kepada ana, karena Allah yang mengetahui semua isi hati, dan mungkin Dia menangkap ada benih pamrih dalam usaha ana mengajak antum pada kebaikan ini.
Dia ingin menguji apakah ana melakukan semua ini hanya karena mengharap Ridho-Nya atau hanya untuk mendapatkan cinta dari antum. Dan apabila semua ini memang kehendaknya. Ana coba mengikhlaskan hati dan melapangkan dada untuk dapat menerima semua ini. Ana harap antum tidak membatalkan rencana pernikahan antum, karena akan banyak pihak yang tersakiti, cukuplah ana saja yang berkorban atas semua ini, karena ana uhibbufillah, mencintai antum karena Allah.
Biarlah Allah yang mengganjar semua usaha ana selama ini. dan ana yakin antum pun paham tentang semua ini, bahwa apapun yang kita lakukan, perubahan kearah perbaikan yang kita jalani semata-mata hanya untuk mengharap ridho-Nya. Ana doakan antum berdua menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. dan doakah ana pula, karena tidak lama setelah pernikahan antum, ana pun akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki yang sekarang sedang dalam proses dengan ana. Mudah-mudahan Allah melapangkan hati kita berdua untuk menerima ketentuannya. Dan meluruskan niat kita dalam setiap kebaikan hanya karenaNya.
Aisyah Farah Putri.

Tak terasa ada lelehan hangat mengalir di pipiku, sesak rasanya dada ini setelah begitu besar harapan ada didalamnya. Aku terdiam cukup lama. Sampai entah dari mana ada semilir angin yang membuat lapang dada ini. Aku baru memahami kata kata Farah yang mengajarkan aku tentang arti keikhlasan sesungguhnya, tentang arti cinta sejatinya. tentang kehidupan yang begitu besar maknanya. terima kasih Farah untuk semua yang engkau ajarkan padaku,untuk semua keikhlasan yang engkau curahkan untukku. Mudah-mudahan cinta kita dapat menjadi pelajaran bagi banyak manusia yang mencari makna cinta sejati. Rabbana hablana min azwajina wadurriyatina qurrata a’yun waj ‘alna lil muttaqina imama .Untuk ikhwah fillah yang sedang merindukan cinta sejati Teruslah berdakwah dengan hanya pamrih kepada-Nya.